Tag Archive for: formulasi skincare

Formulasi Skincare: Dari Pemilihan Bahan Aktif hingga Produk Siap Diproduksi

formulasi skincare

Membuat produk skincare tidak cukup dengan memilih bahan aktif yang sedang populer. Brand owner perlu menentukan target konsumen, manfaat produk, bentuk sediaan, karakter formula, keamanan bahan, stabilitas, kemasan, klaim, hingga kesiapan produk untuk masuk tahap produksi.

Karena itu, formulasi skincare menjadi salah satu tahap penting dalam pengembangan produk kosmetik. Formula yang baik perlu mempertimbangkan fungsi setiap bahan, konsentrasi, kompatibilitas antarbahan, karakter produk, regulasi, serta proses manufaktur.

Di Indonesia, brand juga perlu memilih bahan kosmetik sesuai ketentuan BPOM. Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 mengatur persyaratan teknis bahan kosmetik untuk mendukung keamanan, kemanfaatan, dan mutu kosmetik. Standar OTSKK

Bagi brand owner yang belum memiliki tim R&D sendiri, EFBA Kosmetindo menyediakan pendampingan mulai dari konsultasi konsep, formulasi skincare, pengembangan sampel, desain, legalitas, hingga persiapan produksi. Website resminya menyebut EFBA mulai memiliki pengalaman di industri maklon sejak 2020 dan telah dipercaya lebih dari 150 brand. EFBA Kosmetindo

Apa Itu Formulasi Skincare?

Formulasi skincare merupakan proses merancang dan mengembangkan komposisi bahan untuk menghasilkan produk perawatan kulit dengan fungsi, tekstur, karakter, keamanan, stabilitas, dan kualitas yang sesuai dengan konsep produk serta ketentuan yang berlaku.

Proses formulasi tidak sekadar mencampurkan beberapa bahan aktif. Formulator perlu memahami hubungan antara bahan aktif, bahan pendukung, basis formula, pH, tekstur, aroma, warna, stabilitas, kemasan, dan proses produksi.

Dengan demikian, bahan yang terlihat menarik secara individual belum tentu cocok ketika formulator menggabungkannya dalam satu formula.

Secara sederhana, proses formulasi skincare dapat mengikuti alur:

Target Market → Product Concept → Active Ingredients → Formula Development → Sample → Evaluation → Formula Fixation → Regulatory → Production

Alur tersebut membantu brand mengembangkan produk berdasarkan kebutuhan konsumen dan tujuan formula, bukan sekadar mengikuti tren bahan aktif.

Mengapa Formulasi Skincare Penting?

Formula menentukan banyak karakter utama sebuah produk skincare. Serum, moisturizer, toner, facial wash, day cream, dan kategori lainnya membutuhkan pendekatan formulasi yang berbeda.

Setiap jenis produk memiliki tujuan penggunaan, karakter tekstur, sistem formula, pilihan kemasan, serta kebutuhan pengembangan yang tidak selalu sama.

Selain aspek teknis, formulasi skincare juga berkaitan dengan pengalaman konsumen. Produk dapat menggunakan bahan aktif yang populer, tetapi konsumen tetap akan mempertimbangkan tekstur, kenyamanan, aroma, kemudahan aplikasi, dan kesesuaian produk dengan kebutuhan mereka.

Karena itu, pengembangan produk sebaiknya mengikuti alur:

Consumer Need → Product Benefit → Formula → User Experience

Bukan sekadar:

Trending Ingredient → Product

1. Tentukan Target Konsumen Sebelum Memilih Bahan Aktif

Tahap awal formulasi skincare sebaiknya dimulai dengan menentukan siapa yang akan menggunakan produk.

Brand perlu memahami kebutuhan konsumen, rentang usia, masalah kulit yang ingin ditargetkan, positioning, kategori produk, hingga kisaran harga yang ingin dicapai.

Sebagai contoh, moisturizer untuk kulit kering membutuhkan pertimbangan berbeda dari moisturizer dengan tekstur ringan untuk kulit berminyak.

Hal yang sama berlaku untuk serum dengan konsep brightening, soothing, hydrating, maupun anti-aging. Setiap konsep membutuhkan pertimbangan bahan dan karakter formula yang berbeda.

Gunakan kerangka berikut:

Target Consumer → Skin Concern → Product Benefit → Product Type → Formula

Dengan pendekatan tersebut, formulator dapat memilih bahan aktif berdasarkan tujuan yang jelas dan relevan dengan target pasar.

2. Tentukan Fungsi Utama Produk

Satu produk tidak harus memiliki terlalu banyak fungsi. Sebaliknya, brand perlu menentukan manfaat utama sejak awal agar formula, komunikasi produk, dan positioning memiliki arah yang konsisten.

Sebagai contoh:

  1. Dry Skin → Hydration → Moisturizer
  2. Dull Skin → Brightening Concept → Serum
  3. Oily Skin → Gentle Cleansing → Facial Wash
  4. Sensitive Skin Concept → Soothing Approach → Moisturizer/Toner

Setelah menentukan fungsi utama, tim formulasi dapat mengevaluasi bahan yang paling relevan dengan konsep tersebut.

Pendekatan ini juga membantu mencegah formula menjadi terlalu kompleks hanya karena brand ingin memasukkan banyak bahan aktif sekaligus.

3. Pilih Bahan Aktif Sesuai Tujuan Formula

Dalam formulasi skincare, brand sebaiknya memilih bahan aktif berdasarkan fungsi dan tujuan produk, bukan semata-mata karena bahan tersebut sedang viral.

Beberapa bahan aktif dapat mendukung kebutuhan seperti hidrasi, brightening, soothing, antioxidant, barrier care, atau fungsi kosmetik lainnya. Namun, formulator tetap perlu melihat keseluruhan sistem formula sebelum menentukan pilihan akhir.

Daripada hanya bertanya:

“Bahan aktif apa yang bagus?”

Pertanyaan yang lebih relevan adalah:

“Bahan apa yang sesuai dengan tujuan produk, sistem formula, target konsumen, dan regulasi yang berlaku?”

Pertimbangan tersebut penting karena BPOM mengatur persyaratan teknis bahan kosmetik melalui Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025. Regulasi tersebut mengatur persyaratan bahan sebagai bagian dari standar keamanan, kemanfaatan, dan mutu kosmetik. Standar OTSKK

Dengan demikian, tren bahan aktif tetap perlu mengikuti pertimbangan formulasi dan regulasi.

4. Jangan Menilai Formula Hanya dari Banyaknya Bahan Aktif

Jumlah bahan aktif yang lebih banyak tidak otomatis menghasilkan skincare yang lebih baik.

Setiap penambahan bahan dapat memengaruhi sistem formula secara keseluruhan. Karena itu, formulator perlu mengevaluasi kompatibilitas, karakter bahan, konsentrasi, pH, kelarutan, stabilitas, tekstur, serta interaksi antarkomponen.

Prinsip sederhananya:

More Ingredients ≠ Better Formula

Formula yang tepat justru harus memenuhi konsep produk dengan komposisi yang terukur, stabil, dan dapat dikembangkan secara konsisten.

Oleh sebab itu, brand owner sebaiknya mendiskusikan prioritas bahan bersama tim R&D daripada memasukkan semua bahan populer ke dalam satu produk.

5. Perhatikan Bahan Pendukung Formula

Produk skincare tidak hanya terdiri dari bahan aktif. Dalam proses formulasi skincare, formulator juga perlu memilih berbagai komponen pendukung untuk membentuk tekstur, menjaga karakter produk, membantu kestabilan, mempertahankan kualitas, dan meningkatkan kenyamanan saat digunakan.

Struktur formulasi secara sederhana dapat digambarkan sebagai:

Active Ingredients + Formula Base + Supporting Ingredients = Finished Formula

Komposisi tersebut dapat berbeda pada setiap kategori produk.

Sebagai contoh, serum berbasis air, moisturizer emulsi, facial wash, toner, dan sunscreen memiliki sistem pengembangan yang berbeda. Oleh sebab itu, brand sebaiknya tidak menyalin komposisi produk lain tanpa memahami fungsi setiap bahan dan sistem formulanya.

Dengan memahami peran setiap komponen, proses formulasi skincare dapat menghasilkan produk yang lebih sesuai dengan konsep, target konsumen, dan kebutuhan produksi.

formulasi skincare
formulasi skincare

6. Buat Sampel Sebelum Produksi

Formula awal belum tentu menjadi formula final.

Tim R&D perlu menerjemahkan konsep produk menjadi sampel yang dapat brand evaluasi sebelum produksi. Pada tahap ini, tim dapat melihat apakah formula sudah sesuai dengan konsep, karakter produk, dan kebutuhan target konsumen.

Website resmi EFBA Kosmetindo menjelaskan bahwa client terlebih dahulu berdiskusi mengenai produk yang mereka inginkan. Setelah itu, tim R&D mengembangkan sampel berdasarkan hasil pembahasan tersebut. Produksi kemudian mengikuti sampel yang telah client setujui. EFBA Kosmetindo

Alurnya menjadi:

Concept → Formula Development → Sample → Evaluation → Revision → Approval

Melalui sampel, brand dapat mengevaluasi tekstur, warna, aroma, daya sebar, sensasi setelah pemakaian, serta kesesuaian produk dengan konsep awal.

Jika hasil evaluasi belum memenuhi kebutuhan, tim R&D dapat melakukan penyesuaian formula dan membuat sampel berikutnya.

7. Lakukan Revisi hingga Formula Disepakati

Revisi sampel merupakan bagian normal dalam proses formulasi skincare.

Brand mungkin menemukan tekstur yang terlalu kental, terlalu cair, atau terlalu lengket. Aroma juga mungkin belum sesuai dengan positioning produk. Dalam kondisi tersebut, tim R&D dapat menyesuaikan formula berdasarkan hasil evaluasi brand.

Prosesnya dapat mengikuti alur:

Sample → Review → Revision → New Sample → Approval

Tahap ini membantu brand dan tim R&D menyamakan ekspektasi sebelum masuk ke tahap berikutnya.

EFBA Kosmetindo juga menjelaskan bahwa proses pengembangan produk menghubungkan konsultasi dengan formulasi dan pembuatan sampel sebelum masuk ke tahap legalitas serta produksi. EFBA Kosmetindo

Dengan pendekatan tersebut, brand memiliki kesempatan untuk mengevaluasi produk terlebih dahulu sebelum memulai produksi massal.

8. Evaluasi Stabilitas dan Kesiapan Formula

Sampel yang terlihat baik saat pertama kali dibuat belum tentu siap masuk produksi.

Dalam formulasi skincare, tim perlu mengevaluasi kestabilan karakter produk serta kesesuaiannya dengan sistem produksi dan kemasan yang akan digunakan.

Website layanan maklon dalam ekosistem EFBA menjelaskan bahwa tahap R&D mencakup formulasi produk, pengujian stabilitas, dan uji keamanan sebelum produksi massal. Maklon PT. Efba Digital Mulia

Evaluasi tersebut membantu tim memastikan bahwa formula tidak hanya menarik sebagai sampel, tetapi juga memiliki dasar pengembangan yang memadai untuk tahap manufaktur.

Karena itu:

Good Sample ≠ Production Ready Formula

Formula dapat bergerak menuju produksi setelah tim menyelesaikan kebutuhan pengembangan, evaluasi, legalitas, dan persiapan manufaktur.

9. Sesuaikan Formula dengan Packaging

Brand sebaiknya mengembangkan formula dan kemasan secara beriringan.

Viskositas, sensitivitas produk, metode aplikasi, ukuran produk, serta karakter formula dapat memengaruhi pilihan packaging.

Sebagai contoh, brand dapat menggunakan dropper atau pump untuk serum sesuai karakter formula dan cara pemakaiannya. Moisturizer dapat menggunakan jar, tube, atau airless pump. Sementara itu, produk cair memiliki kebutuhan kemasan yang berbeda.

Karena itu:

Formula ↔ Packaging

Kedua elemen tersebut perlu saling menyesuaikan.

EFBA Kosmetindo juga memasukkan desain produk dan packaging dalam proses maklon yang mereka publikasikan pada website resminya. EFBA Kosmetindo

Brand owner sebaiknya mulai membahas pilihan kemasan ketika formula mendekati tahap final. Langkah ini membantu mencegah keputusan packaging menghambat proses pengembangan berikutnya.

10. Pastikan Formula Memenuhi Ketentuan BPOM

Brand perlu mempertimbangkan aspek regulasi sejak awal pengembangan formula, bukan setelah produk selesai.

Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 mengatur Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik. Regulasi tersebut mendukung penerapan persyaratan keamanan, kemanfaatan, dan mutu kosmetik. Standar OTSKK

Selain memilih bahan yang sesuai, brand owner perlu memperhatikan notifikasi, penandaan, klaim, promosi, serta ketentuan lain yang berlaku untuk kosmetik.

Artikel EFBA Kosmetindo mengenai Peraturan BPOM Kosmetik juga menjelaskan bahwa Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2022 mengatur tata cara pengajuan notifikasi kosmetika. Sementara itu, Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024 mengatur penandaan, promosi, dan iklan kosmetik. EFBA Kosmetindo

Karena itu, tim sebaiknya menyelaraskan formulasi dan regulatory sejak awal:

Formula → Ingredients Review → Claims → Packaging Information → Notification → Production

Dengan alur tersebut, brand dapat mengurangi risiko perubahan besar ketika produk sudah mendekati tahap produksi.

11. Hindari Klaim yang Tidak Sesuai Konsep Kosmetik

Formula dan klaim produk memiliki hubungan yang erat.

Brand sebaiknya tidak menentukan klaim pemasaran secara terpisah dari produk yang sedang dikembangkan. Tim perlu memastikan klaim sesuai dengan fungsi kosmetik dan ketentuan regulator yang berlaku.

Misalnya, pemilik brand ingin membangun positioning tertentu karena melihat tren pasar. Tim pengembangan kemudian perlu mengevaluasi hubungan antara konsep formula, bahan, manfaat produk, komunikasi pemasaran, dan klaim pada kemasan.

Gunakan alur:

Formula → Benefit → Evidence → Claim

Bukan:

Marketing Claim → Cari Formula Belakangan

Pendekatan ini membantu brand menjaga konsistensi antara produk dan komunikasi pemasaran sejak awal.

12. Lakukan Finalisasi Formula Sebelum Produksi

Setelah brand menyetujui sampel dan tim menyelesaikan kebutuhan pengembangan, formula dapat masuk ke tahap finalisasi.

Brand perlu memastikan beberapa komponen sudah memiliki arah yang jelas:

Formula + Sample Approval + Packaging + Regulatory + Production Specification

Website EFBA Kosmetindo menjelaskan bahwa tim produksi menggunakan sampel yang telah client setujui sebagai dasar produksi. EFBA Kosmetindo

Tahap ini penting karena produksi massal membutuhkan standar yang lebih terkontrol dibandingkan pembuatan sampel di laboratorium.

Dengan demikian, tahap akhir formulasi skincare bukan sekadar memastikan produk terasa cocok. Tim juga perlu memastikan formula siap masuk ke proses manufaktur sesuai spesifikasi dan prosedur yang berlaku.

Bagaimana Alur Formulasi Skincare hingga Siap Diproduksi?

Secara ringkas, proses pengembangan dapat mengikuti alur:

Market Need → Target Consumer → Product Concept → Active Ingredients → Formula Development → Sample → Evaluation → Revision → Sample Approval → Packaging → Regulatory → Production Preparation → Manufacturing → QC

Setiap proyek dapat memiliki alur berbeda. Kompleksitas formula, jenis sediaan, jumlah revisi sampel, packaging, kebutuhan pengujian, dan proses legalitas dapat memengaruhi tahapan pengembangan.

EFBA Kosmetindo mempublikasikan tujuh langkah maklon yang mencakup diskusi kebutuhan produk, pembuatan sampel oleh tim R&D, desain dan packaging, pendaftaran merek, pendaftaran varian ke BPOM, produksi berdasarkan sampel yang client setujui, serta distribusi produk kepada client. EFBA Kosmetindo

Artinya, formulasi skincare menjadi bagian dari rangkaian product development, bukan proses yang berdiri sendiri.

Berapa Lama Membuat Formula Skincare?

Tidak ada satu durasi yang berlaku untuk semua produk.

Kompleksitas formula, jumlah revisi, jenis bahan, evaluasi sampel, packaging, proses legalitas, dan kesiapan produksi dapat memengaruhi waktu pengembangan.

Pada halaman layanan maklon skincare, EFBA Kosmetindo saat ini mencantumkan estimasi pembuatan sampel sekitar 7–14 hari kerja. Website tersebut juga menyebut keseluruhan proses maklon kosmetik membutuhkan waktu sekitar dua bulan atau lebih, dengan tahapan lain yang mencakup HKI, BPOM, notifikasi merek, dan produksi. EFBA Kosmetindo

Angka tersebut merupakan estimasi layanan yang EFBA publikasikan, bukan standar waktu universal untuk seluruh industri kosmetik.

Karena itu, brand sebaiknya mengonfirmasi timeline berdasarkan jenis formula, kebutuhan revisi, dan ruang lingkup proyek sebelum memulai pengembangan.

Bagaimana Memilih Formulasi Skincare yang Baik?

Brand tidak cukup menilai formula hanya dari daftar bahan aktif.

Pertimbangkan juga kesesuaian formula dengan target konsumen, manfaat utama, bentuk sediaan, regulasi, pengalaman penggunaan, packaging, harga produk, dan kemampuan manufaktur.

Gunakan checklist berikut:

Relevant → Safe → Stable → Compliant → Manufacturable → Marketable

  • Relevant: formula sesuai dengan kebutuhan target konsumen.
  • Safe: tim memilih dan menggunakan bahan sesuai persyaratan yang berlaku.
  • Stable: formula mampu mempertahankan karakter produk sesuai kebutuhan pengembangan.
  • Compliant: bahan, informasi produk, dan klaim mengikuti regulasi yang relevan.
  • Manufacturable: tim dapat menerjemahkan formula ke proses produksi.
  • Marketable: karakter produk mendukung positioning dan kebutuhan pasar.

Formula yang baik tidak harus memiliki bahan paling banyak atau bahan paling mahal.

Sebaliknya, formula yang tepat menghubungkan kebutuhan konsumen dengan produk yang realistis untuk dikembangkan, diproduksi, dan dipasarkan.

Data Resmi: BPOM Memperbarui Persyaratan Bahan Kosmetik

Regulasi bahan kosmetik di Indonesia terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada 2025, BPOM menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik. Dalam pertimbangannya, BPOM menjelaskan bahwa ketentuan sebelumnya perlu diganti karena tidak lagi sesuai dengan kebutuhan hukum serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kosmetik. Standar OTSKK

Regulasi tersebut menjadi penting bagi formulator dan brand owner. Pemilihan bahan tidak cukup hanya mengikuti tren atau permintaan marketing.

Sebaliknya, tim perlu mengembangkan formula dengan mempertimbangkan persyaratan bahan yang berlaku.

EFBA Kosmetindo juga membahas aspek regulasi melalui artikel Peraturan BPOM Kosmetik yang Perlu Dipahami Pemilik Brand. Artikel tersebut membahas hubungan antara formula, informasi kemasan, klaim, promosi, dan notifikasi produk. EFBA Kosmetindo

Bagi brand owner, alurnya dapat diringkas menjadi:

Market Trend → Product Concept → Formula → Regulatory Check → Sample → Approval → Legalitas → Production

Dengan pendekatan tersebut, brand tidak hanya mengikuti bahan yang sedang populer lalu memikirkan regulasi pada tahap akhir.

Expertise EFBA Kosmetindo dalam Formulasi Skincare

EFBA Kosmetindo menyediakan layanan pengembangan produk kosmetik yang menghubungkan konsultasi produk, formulasi skincare, pembuatan sampel, desain, legalitas, hingga persiapan produksi.

Website resmi EFBA Kosmetindo juga menjelaskan pengalaman perusahaan dalam mendampingi brand melalui proses pengembangan produk dan maklon. EFBA Kosmetindo

Dalam proses tersebut, brand dapat mendiskusikan konsep produk, kebutuhan formula, karakter sampel, packaging, serta tahapan berikutnya bersama tim terkait.

Pendekatan tersebut membantu brand melihat formulasi skincare sebagai bagian dari proses product development yang lebih luas.

Mulai dari:

Product Concept → Formula Development → Sample → Evaluation → Regulatory → Production

Dengan demikian, brand tidak hanya mengejar formula yang menarik, tetapi juga mempertimbangkan kesesuaian produk dengan target pasar, regulasi, packaging, dan kemampuan produksi.

formulasi skincare
formulasi skincare

EFBA Kosmetindo menyatakan telah berpengalaman di industri maklon sejak 2020. Saat ini, perusahaan menampilkan pencapaian 150+ brand yang telah mempercayakan pengembangan produknya serta 450K+ produk yang telah diproduksi. Angka tersebut merupakan pencapaian yang dipublikasikan oleh perusahaan sendiri. Efbakosmetindo

Dalam pengembangan skincare, tim R&D EFBA membantu menerjemahkan hasil konsultasi menjadi konsep formula dan sampel produk. Setelah client menyetujui sampel, tim produksi menggunakan sampel tersebut sebagai acuan untuk proses manufaktur. Efbakosmetindo

Layanan Maklon Skincare EFBA Kosmetindo mencakup berbagai kategori produk, seperti facial wash, day cream, moisturizer, night cream, serum, toner, dan produk kecantikan lainnya. Efbakosmetindo

Dengan alur tersebut, proses pengembangan produk bersama EFBA dapat diringkas menjadi:

Idea → Consultation → Product Concept → R&D → Formula → Sample → Approval → Design & Packaging → Legalitas → Production

Konsultasi Formulasi Skincare untuk Brand Pemula

Brand owner tidak perlu memiliki formula final sebelum memulai pengembangan produk.

Misalnya, Anda dapat membawa ide sederhana seperti serum brightening, moisturizer untuk kulit kering, toner, facial wash, atau lini skincare dengan positioning tertentu. Dari konsep tersebut, tim dapat membantu mengarahkan kebutuhan pengembangan sesuai ruang lingkup layanan.

Bagi brand pemula, EFBA Kosmetindo menjelaskan dukungan untuk menentukan produk, konsep, kemasan, manufaktur, dan kebutuhan legalitas.

Dalam konsultasi awal, brand dapat membahas beberapa aspek penting, mulai dari target konsumen, masalah kulit yang ingin ditangani, jenis produk, karakter formula, hingga positioning brand.

Beberapa pertimbangan utamanya meliputi:

  • Target konsumen yang ingin dijangkau.
  • Kebutuhan atau masalah kulit yang menjadi fokus produk.
  • Jenis produk yang paling sesuai dengan konsep brand.
  • Karakter formula seperti tekstur, sensasi penggunaan, dan hasil akhir.
  • Positioning brand yang ingin dibangun di pasar.

Setelah konsep semakin jelas, tim R&D dapat menerjemahkannya ke tahap pengembangan formula dan pembuatan sampel sesuai scope layanan.

Pendekatan tersebut membantu brand menentukan formula berdasarkan kebutuhan produk, bukan sekadar memilih bahan aktif yang sedang populer.

Konsultasi Maklon Skincare bersama EFBA Kosmetindo

Brand yang ingin membawa pengembangan formula hingga tahap produksi dapat mempertimbangkan jasa maklon skincare EFBA Kosmetindo.

Proses yang dipublikasikan perusahaan mencakup konsultasi, pembuatan sampel, desain produk dan packaging, dukungan HKI dan BPOM, produksi berdasarkan sampel yang telah disetujui, hingga distribusi produk jadi. Efbakosmetindo

Dengan demikian, brand dapat mengembangkan produk melalui alur yang lebih terstruktur:

Consultation → Formula Development → Sample → Approval → Packaging → Legalitas → Production → Distribution

Setiap tahap tetap perlu menyesuaikan jenis produk, kebutuhan brand, hasil evaluasi sampel, serta persyaratan regulasi yang berlaku.

logo efba kosmetindo

Dalam ekosistem PT EFBA Digital Mulia, layanan maklon juga mencakup pengembangan dan reformulasi produk, notifikasi BPOM, desain logo dan kemasan, serta berbagai kebutuhan pendukung pengembangan brand. EFBA

Dengan demikian, brand owner dapat melihat proses pengembangan secara menyeluruh:

Formula Development → Product Development → Regulatory → Manufacturing → Brand Development

Pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada formula yang terlihat menarik di laboratorium. Sebaliknya, tim perlu menyiapkan produk agar dapat memasuki tahap produksi dan pasar melalui proses yang lebih terstruktur.

FAQ tentang Formulasi Skincare

Apa itu formulasi skincare?

Formulasi skincare merupakan proses merancang komposisi bahan aktif dan bahan pendukung untuk menghasilkan produk perawatan kulit. Proses tersebut mencakup fungsi, tekstur, karakter, keamanan, stabilitas, dan kualitas yang sesuai dengan konsep produk.

Bagaimana cara memilih bahan aktif skincare?

Mulailah dengan menentukan target konsumen dan fungsi utama produk. Selanjutnya, pilih bahan yang relevan dengan tujuan formulasi skincare.

Setelah itu, formulator perlu mengevaluasi kompatibilitas bahan, konsentrasi, sistem formula, stabilitas, serta kesesuaiannya dengan persyaratan BPOM.

Apakah semakin banyak bahan aktif membuat skincare semakin bagus?

Tidak. Jumlah bahan aktif tidak otomatis menentukan kualitas sebuah formula.

Sebaliknya, formulator perlu melihat fungsi setiap bahan, konsentrasi, kompatibilitas, stabilitas, pH, tekstur, dan karakter produk secara keseluruhan. Karena itu, formula yang lebih sederhana tetap dapat memberikan hasil yang sesuai apabila tim mengembangkan komposisinya berdasarkan kebutuhan produk.

Apakah formula skincare harus diuji sebelum diproduksi?

Ya, tim perlu mengevaluasi formula sebelum masuk ke produksi. Dalam layanan maklon EFBA, tim R&D mengembangkan formula, melakukan pengujian stabilitas dan keamanan, serta membuat sampel sebelum produksi massal. Maklon PT. Efba Digital Mulia

Dengan tahapan tersebut, brand dapat menilai karakter produk sekaligus memastikan tim memiliki dasar yang memadai sebelum melanjutkan ke produksi.

Berapa kali sampel skincare bisa direvisi?

Jumlah revisi bergantung pada kesepakatan layanan dan kebutuhan setiap proyek. Karena itu, brand perlu menilai setiap sampel berdasarkan formula, tekstur, aroma, warna, sensasi penggunaan, serta kesesuaiannya dengan konsep produk.

Jika hasil evaluasi belum sesuai, brand dapat menyampaikan masukan kepada tim R&D. Tim kemudian dapat menyesuaikan formula dan menyiapkan sampel berikutnya sesuai ruang lingkup pengembangan.

Berapa lama proses formulasi skincare?

Setiap produk memiliki durasi pengembangan yang berbeda. Faktor seperti kompleksitas formula, jumlah revisi, bahan yang digunakan, pengujian, packaging, legalitas, dan persiapan produksi dapat memengaruhi timeline.

Saat ini, EFBA Kosmetindo mempublikasikan estimasi pembuatan sampel sekitar 7–14 hari kerja. Sementara itu, keseluruhan proses maklon membutuhkan waktu lebih panjang karena mencakup legalitas, packaging, dan produksi. Efbakosmetindo

Apakah saya bisa membuat formula skincare sendiri?

Bisa. Namun, brand tetap perlu meminta evaluasi teknis dan regulasi sebelum membawa formula tersebut ke tahap produksi.

Dalam ekosistem layanan EFBA, brand dapat membawa konsep atau formula sendiri. Selain itu, brand juga dapat meminta dukungan tim pengembangan formula sesuai kebutuhan proyek. Maklon PT. Efba Digital Mulia

Apakah EFBA Kosmetindo melayani konsultasi formulasi skincare?

Ya. EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan konsultasi produk dan pengembangan formula sebagai bagian dari proses pengembangan kosmetik.

Selanjutnya, brand dapat melanjutkan proses ke pembuatan sampel, desain, legalitas, dan persiapan produksi sesuai kebutuhan. Efbakosmetindo

Dari Ide Formula hingga Produk Siap Diproduksi

Membangun produk skincare membutuhkan lebih dari sekadar mencari bahan aktif yang sedang populer.

Pertama, brand perlu memahami target konsumen dan menentukan fungsi produk. Kemudian, tim mengembangkan formula berdasarkan konsep tersebut.

Setelah itu, brand bersama tim R&D mengevaluasi sampel dan melakukan revisi jika diperlukan. Selanjutnya, tim menyesuaikan packaging, memeriksa aspek regulasi, dan menyiapkan produk untuk proses manufaktur.

Alurnya dapat diringkas menjadi:

Market Need → Product Concept → Formula → Sample → Evaluation → Approval → Packaging → BPOM → Production → Quality Control

Karena itu, setiap tahap formulasi skincare memiliki peran dalam membangun produk yang konsisten dan siap dikembangkan secara komersial.

Jika Anda memiliki ide produk tetapi belum mengetahui formula yang tepat, EFBA Kosmetindo menyediakan konsultasi pengembangan produk dan layanan maklon skincare. Tim dapat membantu mengarahkan proses mulai dari konsep, formulasi, sampel, legalitas, hingga persiapan produksi.

10 Bahan Aktif Skincare Terpopuler dan Manfaatnya: Panduan Lengkap untuk Brand Owner

Bahan aktif skincare terpopuler menjadi fondasi utama dalam menciptakan produk kecantikan yang efektif dan laris di pasaran. Sebagai calon brand owner, Anda pasti bertanya-tanya: bahan apa yang paling dicari konsumen? Bagaimana cara memilihnya untuk formula produk sendiri? Jangan khawatir, artikel ini akan mengupas tuntas 10 bahan aktif paling populer, manfaatnya, dan tips memformulasikannya dalam layanan maklon kosmetik. Dengan panduan ini, Anda bisa melangkah lebih percaya diri dalam membangun brand skincare impian.

Apa Itu Bahan Aktif Skincare?

Bahan aktif merupakan komponen utama dalam produk skincare yang memberikan manfaat spesifik pada kulit, seperti melembapkan, mencerahkan, atau mengurangi kerutan. Tanpa bahan aktif, produk hanya akan menjadi krim atau serum biasa tanpa efek nyata. Di industri maklon kosmetik, pemilihan bahan aktif yang tepat adalah kunci sukses formula. Konsumen modern semakin cerdas—mereka membaca label dan mencari bahan-bahan yang terbukti efektif. Oleh karena itu, memahami tren bahan aktif skincare terpopuler sangat penting untuk membuat produk yang kompetitif.

Selain itu, setiap bahan aktif memiliki karakteristik unik, seperti pH optimal, konsentrasi aman, dan kompatibilitas dengan bahan lain. Sebagai contoh, vitamin C stabil hanya pada pH rendah, sementara retinol memerlukan formulasi khusus untuk menghindari iritasi. Oleh karena itu, bekerja sama dengan jasa maklon berpengalaman seperti EFBA Kosmetindo akan memastikan setiap bahan aktif skincare terpopuler bekerja maksimal dalam produk Anda.

10 Bahan Aktif Skincare Terpopuler dan Manfaatnya

Sebagai contoh, berikut adalah daftar bahan aktif skincare terpopuler yang paling banyak dicari konsumen. Selain itu, brand-brand sukses di Indonesia juga sering menggunakan bahan-bahan ini. Setiap bahan memiliki manfaat unik yang dapat Anda sesuaikan dengan target pasar.

1. Hyaluronic Acid (Asam Hialuronat)

Hyaluronic acid (HA) mampu mengikat air hingga 1.000 kali beratnya sendiri. Oleh karena itu, manfaat utamanya adalah melembapkan dan mengisi garis halus pada kulit. Selain itu, HA sangat cocok untuk semua jenis kulit, termasuk kulit berminyak dan berjerawat, karena teksturnya ringan. Dalam jasa maklon skincare untuk wanita aktif, produsen sering memilih HA sebagai pilihan utama karena permintaannya yang tinggi dan formulasi yang relatif mudah.

Selain itu, banyak brand sering mengombinasikan HA dengan bahan lain seperti niacinamide atau vitamin C untuk meningkatkan efektivitas. Oleh karena itu, produk serum atau toner berbasis HA bisa menjadi andalan brand Anda. Pastikan konsentrasi HA antara 0,5% hingga 2% untuk hasil optimal tanpa efek lengket.

2. Niacinamide (Vitamin B3)

Niacinamide menjadi bahan aktif multifungsi yang populer. Bahan ini mampu mengontrol minyak, mengecilkan pori-pori, mencerahkan kulit, dan mengurangi kemerahan. Selain itu, niacinamide sangat stabil dan cocok untuk berbagai jenis formula. Sebagai contoh, bahan ini dapat digunakan dalam serum, toner, hingga pelembap. Menurut situs resmi BPOM, konsumen dapat menggunakan niacinamide dengan aman dalam konsentrasi 2–5% untuk produk kosmetik. Dengan demikian, bahan aktif skincare terpopuler ini tetap menjadi pilihan utama.

Selain itu, niacinamide juga kompatibel dengan sebagian besar bahan aktif skincare terpopuler. Dengan demikian, proses formulasi menjadi lebih mudah. Bagi Anda yang baru memulai brand, niacinamide adalah pilihan tepat. Pasalnya, permintaan pasar terhadap bahan ini konsisten. Oleh sebab itu, Anda bisa memproduksi serum niacinamide dengan bantuan tim R&D EFBA Kosmetindo yang berpengalaman.

3. Vitamin C (Ascorbic Acid & Derivatives)

Vitamin C berfungsi sebagai antioksidan kuat yang mencerahkan kulit, meratakan warna kulit, dan melindungi dari polusi. Namun, vitamin C murni (ascorbic acid) sangat sensitif terhadap cahaya dan udara, sehingga memerlukan kemasan kedap udara. Sebagai alternatif, turunan vitamin C seperti ascorbyl glucoside lebih stabil dan tetap efektif. Oleh karena itu, produsen harus memilih turunan yang tepat dalam inovasi bahan baku kosmetik alami.

Banyak brand owner memilih vitamin C untuk produk unggulan karena manfaatnya yang instan terlihat. Selain itu, laboratorium maklon membantu Anda mendapatkan formulasi vitamin C yang stabil dan aman. Sebagai contoh, formulasi ini tersedia dalam bentuk serum, krim, maupun masker wajah.

4. Retinol (Vitamin A)

Retinol berfungsi sebagai bahan anti-aging paling efektif yang merangsang produksi kolagen dan mempercepat regenerasi sel kulit. Meskipun sangat ampuh, produsen harus memformulasikan retinol dengan hati-hati karena dapat menyebabkan iritasi pada konsentrasi tinggi. Oleh karena itu, untuk produk maklon, produsen sering menggunakan retinol dalam konsentrasi rendah (0,1–0,3%) dan mengombinasikannya dengan bahan menenangkan seperti centella asiatica.

Selain itu, retinol memerlukan kemasan kedap cahaya dan udara untuk menjaga stabilitas. Dengan pengalaman EFBA Kosmetindo dalam maklon kosmetik, Anda dapat memproduksi produk retinol yang efektif namun tetap aman untuk kulit sensitif.

5. AHA & BHA (Alpha Hydroxy Acid & Beta Hydroxy Acid)

AHA (seperti glycolic acid dan lactic acid) serta BHA (salicylic acid) berfungsi sebagai bahan eksfoliasi. Bahan ini mengangkat sel kulit mati, menyamarkan bekas jerawat, dan mengurangi garis halus. AHA larut dalam air sehingga cocok untuk kulit kering. Sementara itu, BHA larut dalam minyak sehingga efektif untuk kulit berminyak dan berjerawat. Oleh karena itu, produsen perlu memahami perbedaan ini saat mengembangkan produk. Mereka harus mengikuti tren skincare 2026 yang menekankan personalisasi. Selain itu, bahan aktif skincare terpopuler ini menjadi kunci dalam formulasi.

Selain itu, tim R&D maklon akan membantu Anda mencapai keseimbangan pH yang tepat. Dengan demikian, kombinasi AHA dan BHA dalam satu produk dapat memberikan hasil eksfoliasi menyeluruh. Oleh sebab itu, produk akhir menjadi aman dan efektif.

6. Ceramide

Sebagai contoh, ceramide adalah lipid alami yang membangun skin barrier dan mencegah kehilangan kelembapan. Oleh karena itu, bahan ini sangat penting untuk produk pelembap dan perawatan kulit kering atau sensitif. Selain itu, produsen sering memformulasikan ceramide bersama niacinamide atau bahan aktif skincare terpopuler lainnya untuk meningkatkan hidrasi dan perlindungan.

Oleh karena itu, ceramide menjadi bahan wajib di banyak produk seiring populernya tren skin barrier repair. Anda dapat memproduksi krim malam atau serum ceramide dengan bantuan jasa maklon yang memahami proporsi lipid yang tepat. Selain itu, jasa maklon ini membantu Anda menciptakan bahan aktif skincare terpopuler secara efektif.

7. Centella Asiatica (Cica)

Centella asiatica atau cica merupakan bahan herbal terkenal karena sifat menenangkan dan menyembuhkan. Bahan aktif skincare terpopuler ini sangat cocok untuk produk perawatan kulit sensitif, jerawat, atau setelah prosedur estetika. Selain itu, cica mengandung asiaticoside, madecassic acid, dan asiatic acid yang mempercepat regenerasi kulit.

Selain itu, produsen sering menggunakan cica dalam bentuk ekstrak atau powder yang harus dilarutkan dengan tepat. Dengan pengalaman EFBA Kosmetindo, Anda bisa mendapatkan formula cica yang stabil dan optimal untuk produk seperti serum, krim, atau masker.

8. Peptides

Peptides adalah rantai asam amino yang merangsang produksi kolagen dan elastin. Dengan demikian, bahan ini mengurangi kerutan dan meningkatkan elastisitas kulit. Selain itu, bahan aktif skincare terpopuler ini hadir di produk anti-aging premium. Sebagai contoh, peptides bekerja secara sinergis dengan retinol atau vitamin C.

Meskipun peptides lebih stabil dibanding retinol, brand tetap memerlukan formulasi yang tepat untuk memastikan efektivitasnya. Oleh karena itu, banyak brand owner memilih bahan aktif skincare terpopuler ini sebagai bahan unggulan untuk serum anti-aging. Selain itu, permintaan yang terus meningkat mendorong mereka untuk mengandalkan peptides.

9. Sunscreen (Tabir Surya)

Tabir surya merupakan bahan aktif yang melindungi kulit dari sinar UV. Sebagai contoh, produsen harus memformulasikan bahan aktif seperti zinc oxide, titanium dioxide (fisik), atau avobenzone (kimia) dengan tepat untuk mencapai SPF yang diinginkan. Selain itu, di Indonesia, produsen harus mendaftarkan produk tabir surya ke BPOM dengan klaim SPF yang terverifikasi.

Oleh karena itu, jika Anda ingin membuat sunscreen, pastikan bekerja sama dengan maklon yang memiliki fasilitas uji SPF dan stabilitas. Sebagai contoh, EFBA Kosmetindo menyediakan layanan lengkap dari formulasi hingga uji laboratorium. Dengan demikian, Anda dapat memastikan produk aman dan efektif.

10. Azelaic Acid

Azelaic acid merupakan bahan aktif skincare terpopuler untuk mengatasi jerawat, kemerahan, dan hiperpigmentasi. Selain itu, bahan ini aman untuk kulit sensitif dan ibu hamil. Oleh karena itu, banyak produsen memilihnya dalam produk perawatan jerawat. Sebagai contoh, azelaic acid biasanya diformulasikan dalam konsentrasi 5–10% untuk produk OTC.

Selain itu, azelaic acid memberikan efek antioksidan dan anti-inflamasi. Oleh karena itu, bahan ini cocok untuk produk multifungsi. Dengan dukungan maklon, Anda dapat mengembangkan produk bahan aktif skincare terpopuler yang stabil dan nyaman digunakan.

Apakah Anda tertarik memformulasikan salah satu bahan aktif di atas menjadi produk sendiri? EFBA Kosmetindo siap membantu Anda dari tahap R&D hingga produk siap jual. Hubungi Rusydi (Brand & Skincare Expert) via WhatsApp untuk konsultasi gratis tentang formulasi bahan aktif yang tepat untuk brand Anda.

Tips Memilih Bahan Aktif untuk Produk Maklon Anda

Oleh karena itu, memilih bahan aktif skincare terpopuler menjadi langkah krusial dalam pengembangan produk. Pertama, kenali target pasar Anda. Apakah mereka remaja dengan kulit berminyak? Atau wanita dewasa yang mencari anti-aging? Selanjutnya, pertimbangkan stabilitas dan kompatibilitas bahan. Sebagai contoh, jangan mencampur vitamin C dengan retinol dalam satu produk karena pH yang berbeda.

Selain itu, perhatikan regulasi BPOM. Setiap bahan aktif memiliki batas konsentrasi maksimal yang diizinkan. Oleh karena itu, bekerja sama dengan maklon yang memahami regulasi akan menghemat waktu dan biaya. Selanjutnya, lakukan uji stabilitas dan keamanan sebelum produksi massal. Sebagai contoh, EFBA Kosmetindo memiliki laboratorium untuk menguji stabilitas formula, iritasi, dan efektivitas produk Anda.

Selanjutnya, pertimbangkan tren pasar. Sebagai contoh, pada tahun 2026, konsumen semakin meminati bahan-bahan alami dan sustainable. Anda dapat membaca lebih lanjut tentang inovasi bahan baku kosmetik alami untuk inspirasi. Dengan demikian, konsumen akan lebih mudah menerima produk Anda.

Kesimpulan

Memahami bahan aktif skincare terpopuler menjadi langkah awal yang penting. Setiap bahan memiliki manfaat unik yang dapat Anda sesuaikan dengan kebutuhan target pasar. Sebagai contoh, hyaluronic acid melembapkan kulit, sementara retinol menawarkan efek anti-aging. Oleh karena itu, Anda harus memformulasikannya dengan tepat melalui jasa maklon yang profesional. Dengan demikian, Anda dapat menghasilkan produk yang aman, efektif, dan kompetitif.

Mulailah perjalanan brand Anda bersama EFBA Kosmetindo. Kami menyediakan layanan maklon kosmetik dan minuman kesehatan yang terpercaya, dari formulasi hingga distribusi. Oleh karena itu, baca syarat sertifikasi maklon kosmetik halal untuk informasi legalitas produk. Dengan dukungan tim ahli, Anda bisa fokus pada pengembangan brand sementara kami menangani produksi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa saja syarat untuk melakukan maklon skincare sebagai perorangan?

Sebagai contoh, Anda cukup memiliki KTP dan NPWP untuk perorangan. Namun, jika ingin produk terdaftar BPOM atas nama pribadi, Anda perlu memiliki izin usaha mikro atau kecil. Selain itu, EFBA Kosmetindo akan membantu mengurus dokumen yang diperlukan.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi produk skincare maklon?

Proses maklon biasanya memakan waktu 4–8 minggu. Waktu ini tergantung pada kompleksitas formula, uji stabilitas, dan pendaftaran BPOM. Sebagai contoh, untuk produk sederhana seperti serum atau toner, estimasi waktu lebih cepat.

Apakah ada minimum order (MOQ) untuk maklon di EFBA Kosmetindo?

Sebagai contoh, MOQ bervariasi tergantung jenis produk. Untuk skincare, MOQ mulai dari 500 pcs per varian. Selain itu, kami juga menyediakan opsi produksi skala kecil untuk pemula. Oleh karena itu, silakan hubungi tim kami untuk informasi lebih detail.

Apakah pemula bisa melakukan maklon skincare?

EFBA Kosmetindo dirancang untuk membantu pemula. Kami menyediakan konsultasi gratis, contoh sample, dan pendampingan dari awal hingga produk siap jual. Anda tidak perlu memiliki pengalaman sebelumnya.

Jenis produk apa saja yang bisa dimaklon di EFBA Kosmetindo?

Kami menerima maklon untuk berbagai produk skincare (serum, krim, toner, masker), body care (lotion, sabun), hair care, dan minuman kesehatan bubuk. Selain itu, tim kami siap dihubungi untuk daftar lengkap.

Memilih bahan aktif yang tepat adalah langkah awal menuju produk skincare yang sukses. EFBA Kosmetindo siap membantu Anda dari formulasi hingga produk siap jual dengan layanan maklon profesional. Konsultasi gratis sekarang dengan Rusydi (Brand & Skincare Expert) atau hubungi Ibnu (Brand & Cosmetics Expert) untuk informasi lebih lanjut.