7 Bahan Berbahaya dalam Kosmetik yang Perlu Diwaspadai Konsumen dan Brand Owner

bahan berbahaya dalam kosmetik
bahan berbahaya dalam kosmetik

Brand owner seharusnya mengembangkan produk kosmetik dengan mempertimbangkan keamanan bahan, fungsi produk, konsentrasi, stabilitas formula, proses produksi, quality control, serta regulasi yang berlaku. Namun, dalam pengawasan terbaru, BPOM masih menemukan produk kosmetik yang mengandung bahan berbahaya dan/atau bahan yang tidak semestinya terdapat dalam kosmetik. Kondisi tersebut menjadi perhatian bukan hanya bagi konsumen, tetapi juga bagi brand owner yang sedang mengembangkan skincare, body care, makeup, atau kategori kosmetik lainnya.

Pada pengawasan triwulan pertama 2026, BPOM menemukan 11 produk kosmetik yang mengandung bahan berbahaya dan/atau dilarang, termasuk asam retinoat, deksametason, hidrokuinon, merkuri, pewarna merah K10, dan senyawa 1,4-dioksan. BPOM menjelaskan bahwa paparan bahan tersebut dapat menimbulkan risiko mulai dari iritasi dan gangguan kulit hingga gangguan hormonal, kerusakan ginjal, serta potensi kanker tergantung pada jenis bahannya. Temuan terbaru tersebut menunjukkan bahwa brand owner perlu memberi perhatian serius pada pemilihan formula, bahan baku, supplier, proses produksi, dan quality control dalam pengembangan kosmetik.

Bagi konsumen, langkah praktisnya adalah tidak hanya tertarik pada klaim seperti “putih dalam beberapa hari”, “menghilangkan flek secara instan”, atau “hasil sangat cepat”. Sementara itu, brand owner sebaiknya tidak sekadar mengejar bahan aktif yang sedang viral, tetapi perlu memastikan setiap bahan mengikuti Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik yang saat ini berstatus berlaku. Regulasi tersebut menggantikan ketentuan sebelumnya mengenai persyaratan teknis bahan kosmetik dan menjadi rujukan penting saat brand owner dan formulator menyusun formula.

Apa Saja Bahan Berbahaya dalam Kosmetik yang Perlu Diwaspadai?

Secara langsung, BPOM berulang kali menemukan beberapa bahan berbahaya dalam kosmetik, antara lain merkuri, asam retinoat, hidrokuinon, deksametason, pewarna merah K3, pewarna merah K10 atau Rhodamin B, serta 1,4-dioksan. Brand owner perlu memahami status setiap bahan secara tepat karena sebagian bahan memang dilarang dalam kosmetik, sebagian merupakan zat aktif obat yang tidak boleh masuk ke formula kosmetik biasa, dan sebagian lain dapat muncul sebagai cemaran atau hasil samping proses. Karena itu, brand owner sebaiknya tidak hanya melihat nama bahan, tetapi juga fungsi, sumber, konsentrasi, spesifikasi bahan baku, dan persyaratan regulasinya.

Alur sederhananya dapat digambarkan sebagai:

Raw Material → Regulatory Check → Formula → Sample → Safety & Stability → Production → Quality Control → BPOM → Market

Pendekatan tersebut juga sejalan dengan proses formulasi yang EFBA Kosmetindo publikasikan. Website resminya menjelaskan bahwa tim menghubungkan target konsumen, konsep produk, pemilihan bahan, formula, sampel, evaluasi, legalitas, produksi, dan quality control dalam proses pengembangan produk. Dengan demikian, brand owner tidak menunggu sampai produk selesai sebelum memikirkan aspek keamanan.

7 Bahan Berbahaya dalam Kosmetik yang Perlu Diperhatikan

1. Merkuri

Merkuri merupakan salah satu bahan berbahaya yang paling sering muncul dalam pembahasan kosmetik ilegal, terutama pada produk yang menawarkan efek pencerah sangat cepat. Pada pengawasan triwulan pertama 2026, BPOM kembali menemukan kosmetik yang positif mengandung merkuri. BPOM menjelaskan bahwa paparan merkuri dapat memicu perubahan warna kulit, reaksi alergi, iritasi, serta dalam kondisi tertentu dapat merusak organ seperti ginjal.

Masalah merkuri tidak berhenti pada efek kulit. BPOM sebelumnya juga menjelaskan bahwa merkuri bersifat toksik dan berisiko terhadap kesehatan sehingga konsumen sebaiknya menghindari kosmetik yang mengandung bahan tersebut. Karena itu, klaim whitening yang sangat cepat perlu menjadi sinyal bagi konsumen untuk memeriksa legalitas produk dan tidak hanya mempercayai testimoni atau before-after di media sosial.

Bagi brand owner, pengendalian perlu dimulai dari bahan baku dan supplier. Brand owner dan tim R&D sebaiknya memilih bahan dengan spesifikasi yang jelas, menyimpan dokumentasi bahan, serta menjalankan sistem produksi dan quality control sesuai standar. Pendekatan tersebut membantu brand membangun produk yang tidak hanya menarik secara marketing, tetapi juga memenuhi aspek keamanan dan regulasi. Pasted markdown

2. Asam Retinoat atau Tretinoin

Asam retinoat atau tretinoin tidak boleh masuk ke dalam formula kosmetik skincare biasa. BPOM berulang kali menemukan penyalahgunaan bahan tersebut pada produk yang menawarkan efek peeling, pencerahan, atau perawatan jerawat, padahal tretinoin merupakan zat aktif obat yang memerlukan konteks medis yang sesuai. BPOM menyebut risiko seperti kulit kering, rasa terbakar, iritasi, serta risiko teratogenik terhadap janin.

Konsumen perlu memahami perbedaan antara kosmetik dan terapi obat. Kosmetik memiliki fungsi seperti membersihkan, merawat, melindungi, atau memperbaiki penampilan, sehingga produsen tidak dapat menyamakan klaim dan komposisinya dengan obat untuk terapi kondisi medis. Jika sebuah produk menimbulkan efek sangat agresif, mengelupaskan kulit secara ekstrem, atau memberikan klaim seperti obat, konsumen sebaiknya memeriksa legalitas dan komposisinya lebih lanjut.

Bagi brand owner, tren retinoid juga perlu mendapat perhatian karena istilah “retinoid” mencakup beberapa bahan yang berbeda. Jangan menyamakan retinol kosmetik dengan tretinoin atau asam retinoat karena masing-masing memiliki karakter dan ketentuan penggunaan yang berbeda. Formulator perlu memeriksa identitas bahan, ketentuan penggunaan, konsentrasi, stabilitas, dan klaim sebelum memasukkannya ke dalam formula. Pasted markdown

3. Hidrokuinon

BPOM juga masih menemukan hidrokuinon dalam kosmetik bermasalah. BPOM menjelaskan bahwa penggunaan hidrokuinon dalam kosmetik dapat berkaitan dengan risiko iritasi, hiperpigmentasi, ochronosis atau perubahan warna kulit menjadi gelap, serta perubahan warna pada kornea dan kuku. Karena itu, konsumen perlu berhati-hati terhadap produk pencerah yang menjanjikan perubahan warna kulit secara ekstrem dalam waktu singkat.

Kasus hidrokuinon menunjukkan bahwa konsumen tidak sebaiknya menilai keamanan produk hanya dari hasil yang terlihat cepat. Efek agresif tidak otomatis menandakan formula yang lebih efektif atau lebih berkualitas. Sebaliknya, konsumen perlu memilih produk kosmetik yang menjalankan fungsi sesuai ketentuan bahan dalam kategori kosmetik.

Bagi brand owner, hal ini menjadi alasan penting untuk tidak meminta formulator membuat produk dengan target seperti “harus putih dalam tiga hari” tanpa mempertimbangkan keamanan dan regulasi. Product brief yang lebih tepat sebaiknya memuat target konsumen, kebutuhan kulit, konsep brightening, tekstur, pengalaman penggunaan, positioning, serta batas klaim kosmetik yang relevan. Setelah itu, tim R&D dapat menyusun formula yang lebih realistis berdasarkan kebutuhan tersebut. Pasted markdown

4. Deksametason

Deksametason merupakan kortikosteroid yang berfungsi dalam konteks pengobatan dan bukan sebagai bahan kosmetik biasa. Pada triwulan pertama 2026, BPOM menemukan deksametason dalam salah satu rangkaian temuan kosmetik yang mengandung bahan berbahaya dan/atau dilarang. BPOM menjelaskan bahwa bahan tersebut dapat memicu dermatitis, jerawat, hingga gangguan hormonal.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kosmetik bermasalah tidak hanya melibatkan merkuri atau pewarna tekstil. Produsen ilegal dapat memasukkan bahan farmakologis ke dalam produk untuk menghasilkan efek yang tampak cepat, padahal praktik tersebut tidak sesuai dengan fungsi kosmetik. Konsumen perlu berhati-hati terhadap produk yang memberikan klaim menyerupai pengobatan penyakit kulit tanpa informasi dan jalur regulasi yang sesuai.

Bagi brand owner, prinsipnya sederhana: jangan memasukkan bahan obat ke dalam formula kosmetik hanya demi mengejar hasil yang lebih cepat. Tim pengembangan perlu mengikuti fungsi kosmetik, aturan bahan, klaim, dan kategori produk. Jika konsep produk membutuhkan efek terapi medis, brand owner perlu menempuh jalur pengembangan yang sesuai dan tidak memaksakan produk tersebut masuk ke kategori kosmetik biasa. Pasted markdown

5. Pewarna Merah K3

BPOM telah berulang kali menemukan Pewarna Merah K3 dalam pengawasan kosmetik bermasalah. BPOM menyebut produsen sering menyalahgunakan pewarna ini pada produk dekoratif, sementara bahan tersebut dapat menimbulkan risiko serius, termasuk sifat karsinogenik dan gangguan fungsi hati. Karena warna yang kuat dapat terlihat menarik pada lip product, blush, atau makeup lainnya, konsumen sebaiknya tidak menganggap warna intens sebagai indikator kualitas formula.

Brand owner juga perlu memahami bahwa tidak semua bahan pewarna dapat digunakan secara bebas pada setiap kategori kosmetik. Brand perlu mengikuti ketentuan teknis mengenai jenis pewarna, area penggunaan, konsentrasi, dan persyaratan bahan. Karena itu, tim sebaiknya memilih pigmen dan colorant bersama formulator yang memahami regulasi, bukan hanya meniru referensi warna dari produk lain.

Dalam pengembangan decorative cosmetics, brand owner dapat menerjemahkan target warna melalui shade reference, target finish, coverage, texture, skin feel, dan kategori penggunaan. Setelah itu, formulator memilih sistem pewarna yang sesuai dengan regulasi dan karakter produk. Pendekatan tersebut membantu brand mencapai hasil visual yang diinginkan tanpa menggunakan bahan yang tidak sesuai. Pasted markdown

6. Pewarna Merah K10 atau Rhodamin B

Merah K10 atau Rhodamin B juga menjadi salah satu bahan pewarna yang perlu konsumen dan brand owner waspadai. BPOM masih menemukan pewarna merah K10 dalam kosmetik pada pengawasan tahun 2025 dan kembali mencatatnya pada temuan awal 2026. BPOM mengaitkan bahan ini dengan potensi karsinogenik dan gangguan fungsi hati, sehingga produsen tidak dapat membenarkan penggunaannya hanya karena bahan tersebut menghasilkan warna merah atau merah muda yang lebih kuat.

Konsumen terutama perlu berhati-hati pada produk dekoratif tanpa identitas produsen, tanpa notifikasi yang dapat diverifikasi, atau produk yang menjual klaim berlebihan. Harga murah tidak selalu berarti berbahaya, sama seperti harga mahal tidak otomatis membuktikan keamanan. Karena itu, konsumen sebaiknya memeriksa legalitas, label, produsen, komposisi, serta informasi produk. BPOM menganjurkan masyarakat menggunakan pendekatan CEK KLIK: Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa ketika memilih kosmetik.

Untuk brand owner, decorative cosmetics membutuhkan perhatian khusus pada bahan pewarna karena konsumen dapat menggunakan produk di area bibir, mata, atau wajah. Karena itu, tim perlu memeriksa tidak hanya shade yang dihasilkan, tetapi juga kesesuaian bahan dengan kategori sediaan dan ketentuan BPOM sebelum menyetujui formula. Pasted markdown

7. 1,4-Dioksan

Berbeda dari bahan sebelumnya, brand owner perlu memahami 1,4-dioksan sebagai senyawa yang dapat muncul akibat kontaminasi atau proses pembentukan tertentu, bukan sebagai bahan aktif yang sengaja produsen tambahkan untuk memberikan manfaat kosmetik. Dalam pengawasan triwulan pertama 2026, BPOM menemukan senyawa 1,4-dioksan pada kosmetik dan menyatakan bahwa senyawa tersebut berpotensi memicu kanker. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengendalian bahan baku dan proses produksi bahkan ketika suatu bahan tidak tercantum sebagai “hero ingredient” pada kemasan.

Bagi konsumen, cemaran seperti ini sulit dikenali hanya dari warna, aroma, atau tekstur produk. Karena itu, kualitas sistem manufaktur, spesifikasi bahan baku, proses pengujian, dokumentasi, serta pengawasan mutu sangat menentukan keamanan kosmetik. Produk legal yang berasal dari fasilitas dengan sistem baik memberikan tingkat kontrol yang berbeda dibandingkan produk tanpa identitas produksi yang jelas.

Untuk brand owner, pelajaran utamanya adalah bahwa keamanan formula tidak cukup hanya dengan memastikan bahan utama “terlihat aman”. Tim perlu memeriksa spesifikasi bahan baku, impurity, supplier qualification, penyimpanan, proses produksi, pengujian, dan quality control. Dengan demikian, brand membangun keamanan produk melalui sebuah sistem, bukan hanya melalui daftar ingredient. Pasted markdown

Apakah Semua Bahan Kimia dalam Kosmetik Berbahaya?

Tidak. Istilah “bahan kimia” tidak identik dengan bahan berbahaya karena hampir seluruh bahan kosmetik merupakan zat kimia dalam pengertian ilmiah, termasuk air, gliserin, vitamin, humektan, emollient, surfaktan, dan berbagai bahan yang umum dalam formula kosmetik. Konsumen dan brand owner perlu memperhatikan jenis bahan, fungsi, konsentrasi, kemurnian, kombinasi formula, area penggunaan, dan kepatuhan terhadap regulasi.

Karena itu, konsumen perlu membaca klaim seperti “chemical-free cosmetics” secara kritis. Pembahasan keamanan sebaiknya tidak membagi bahan menjadi “natural pasti aman” dan “sintetis pasti berbahaya”, karena kedua kelompok dapat memiliki karakteristik dan risiko masing-masing. Formulator perlu melakukan penilaian teknis dan regulasi berdasarkan data setiap bahan.

Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 menjadi salah satu rujukan utama karena aturan tersebut mengatur persyaratan teknis bahan kosmetik dan saat ini berstatus berlaku. Untuk produk yang akan masuk ke pasar, brand owner perlu memastikan formula mengikuti ketentuan terkini, bukan hanya mengikuti daftar bahan dari blog atau tren media sosial. Pasted markdown

Bagaimana Konsumen Mengecek Kosmetik yang Lebih Aman?

Prinsip CEK KLIK dapat menjadi langkah awal untuk memilih kosmetik dengan lebih cermat, yaitu dengan memeriksa Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa. Pilih produk yang mencantumkan identitas secara jelas, memiliki kemasan dalam kondisi baik, serta menyediakan nomor notifikasi yang bisa diverifikasi melalui kanal resmi BPOM. Selain itu, waspadai klaim yang terlalu ekstrem karena kosmetik seharusnya memberikan manfaat sesuai fungsi kosmetik, bukan menjanjikan hasil yang menyerupai terapi obat.

EFBA Kosmetindo juga mempublikasikan panduan mengenai cara cek kosmetik BPOM agar konsumen dan brand owner memahami pentingnya verifikasi legalitas produk. Materi tersebut menempatkan izin edar sebagai bagian dari proses yang lebih luas bersama formula, produksi, quality control, kemasan, dan penandaan.

Cara Cek Kosmetik BPOM – EFBA Kosmetindo

Namun, nomor BPOM bukan alasan untuk mengabaikan cara penggunaan produk. Konsumen tetap perlu mengikuti petunjuk, memperhatikan reaksi kulit, menghentikan pemakaian jika muncul reaksi serius, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ketika membutuhkan bantuan profesional. Pasted markdown

Apa yang Harus Dilakukan Brand Owner agar Formula Lebih Aman?

1. Mulai dari Product Brief yang Realistis

Brand owner sebaiknya memulai pengembangan dari target konsumen, fungsi kosmetik, kategori produk, karakter formula, tekstur, aroma, kemasan, dan positioning. Hindari brief seperti “harus putih dalam tiga hari”, “hilangkan jerawat total”, atau klaim lain yang mendorong formula keluar dari fungsi kosmetik. Tim R&D membutuhkan target yang jelas agar mereka dapat memilih sistem formula dan bahan yang lebih tepat.

Pendekatannya dapat menggunakan:

Target Consumer → Cosmetic Need → Product Benefit → Formula Concept → Ingredients → Sample → Evaluation

EFBA Kosmetindo mempublikasikan bahwa klien memulai proses maklon melalui diskusi mengenai produk yang mereka inginkan, kemudian tim R&D membuat sampel berdasarkan hasil meeting. Setelah klien memberikan persetujuan, tim melanjutkan proses ke desain, legalitas, produksi sesuai sampel, hingga distribusi produk. Pendekatan ini membuat setiap tahapan memiliki alur yang lebih jelas dan membantu brand menjaga kesesuaian antara konsep, formula, legalitas, dan produksi. Pasted markdown

bahan berbahaya dalam kosmetik
bahan berbahaya dalam kosmetik

2. Periksa Bahan Sesuai Persyaratan BPOM

Jangan memilih bahan hanya karena sedang viral di TikTok, marketplace, atau media sosial. Formulator perlu memeriksa identitas bahan, fungsi, konsentrasi, batas penggunaan, area aplikasi, serta ketentuan tambahan sesuai persyaratan teknis bahan kosmetik. Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 saat ini menjadi regulasi utama mengenai persyaratan teknis bahan kosmetik di Indonesia.

Proses sederhananya:

Ingredient Idea → Regulatory Check → Formula Compatibility → Safety → Stability → Sample

Pendekatan ini membantu brand menghindari formula yang hanya menarik secara marketing tetapi menimbulkan masalah pada aspek registrasi, stabilitas, atau kepatuhan regulasi. Brand dan formulator perlu melihat formulasi sebagai satu sistem, bukan sekadar kumpulan bahan aktif populer.

3. Pastikan Supplier dan Bahan Baku Memiliki Traceability yang Jelas

Tim pengembangan perlu menggunakan bahan baku dengan identitas dan spesifikasi yang jelas. Brand perlu mencatat supplier, batch, spesifikasi, kondisi penyimpanan, serta dokumen pendukung agar tim dapat menjaga konsistensi produk. Langkah ini penting karena risiko tidak hanya berasal dari bahan yang sengaja masuk ke dalam formula, tetapi juga dari cemaran yang dapat muncul melalui bahan baku atau proses.

Brand owner sebaiknya tidak memilih manufacturer hanya berdasarkan harga produksi. Tanyakan bagaimana manufacturer mengelola bahan baku, menjalankan QC, menyimpan material, mencatat batch, dan mengubah formula sampel menjadi produksi massal. Traceability yang baik membantu perusahaan menelusuri sumber masalah dengan lebih cepat apabila suatu saat muncul ketidaksesuaian.

4. Pilih Fasilitas Produksi yang Menjalankan Sistem CPKB

Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik atau CPKB menjadi bagian penting dalam industri kosmetik. BPOM telah menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2026 tentang Sertifikasi CPKB yang berlaku sejak 29 April 2026 dan menggantikan regulasi sertifikasi sebelumnya. Melalui aturan tersebut, BPOM menegaskan pentingnya sistem produksi yang terkendali dalam pemenuhan standar kosmetik.

Produksi kosmetik bukan hanya aktivitas mencampur bahan lalu memasukkannya ke dalam kemasan. Manufacturer perlu mengelola personel, fasilitas, peralatan, bahan baku, dokumentasi, proses produksi, quality control, penyimpanan, serta aspek lain yang berhubungan dengan mutu. Karena itu, brand owner perlu menilai kesiapan sistem produksi partner manufaktur, bukan hanya melihat formula dan harga.

EFBA Kosmetindo juga mempublikasikan artikel mengenai standar produksi kosmetik dengan alur:

Product Concept → Raw Materials → Formulation → Sample → Testing → Production → Quality Control → Packaging → BPOM → Market

Alur tersebut membantu brand memahami bahwa keamanan lahir dari rangkaian proses pengembangan yang konsisten, bukan hanya dari pemilihan bahan. Pasted markdown

5. Evaluasi Sampel sebelum Memulai Produksi Massal

Formula pertama belum tentu menjadi formula final. Tim R&D perlu membuat sampel, lalu brand mengevaluasi warna, aroma, tekstur, spreadability, skin feel, dan kesesuaiannya dengan konsep produk. Pada tahap yang sama, tim juga perlu menjalankan evaluasi teknis sesuai kebutuhan pengembangan formula.

Website EFBA Kosmetindo menjelaskan bahwa tim R&D membuat sampel berdasarkan hasil diskusi dengan client. Setelah client menyetujui sampel, tim melanjutkan proses menuju tahap berikutnya sebelum produksi komersial. Dengan demikian, persetujuan sampel menjadi checkpoint penting untuk memastikan formula, sensorial, dan konsep produk sudah sesuai.

Jangan mempercepat produksi hanya demi mengejar jadwal launching. Brand dapat menggunakan waktu evaluasi untuk menemukan ketidaksesuaian sejak awal dan mengurangi risiko revisi setelah perusahaan memproduksi produk dalam jumlah besar. Pendekatan ini juga membantu mengurangi potensi biaya tambahan pada tahap berikutnya. Pasted markdown

6. Perhatikan Legalitas, Label, dan Klaim

Formula yang sesuai belum cukup jika brand mengabaikan label, klaim, dan informasi produk. Brand perlu menyiapkan nama produk, kategori, komposisi, informasi penandaan, serta klaim yang sesuai dengan fungsi kosmetik. Hindari klaim yang bergeser menjadi janji terapi penyakit atau manfaat yang tidak memiliki dasar yang memadai.

EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan pendampingan mulai dari konsep, formulasi, sampel, desain, HKI, BPOM, hingga persiapan produksi. Website resminya juga menjelaskan bahwa tim membantu proses pendaftaran brand dan varian produk kepada BPOM sebelum melanjutkan ke tahap produksi sesuai sampel yang client setujui.

Karena itu, brand dapat menggunakan alur:

Formula → Sample → Packaging → Label → Regulatory → Production → Market

Alur tersebut membantu brand menjaga hubungan antara formula, identitas produk, legalitas, dan kesiapan produksi. Pasted markdown

7. Jangan Mengorbankan Keamanan demi Klaim Marketing

Brand kosmetik memang membutuhkan differentiation, tetapi brand tidak harus menggunakan klaim ekstrem untuk menciptakan perbedaan. Tim dapat membangun keunikan melalui user experience, tekstur, packaging, positioning, konsep bahan, target konsumen, atau kombinasi manfaat kosmetik yang relevan. Menggunakan bahan yang tidak sesuai hanya demi menghasilkan efek cepat justru meningkatkan risiko regulasi, reputasi, dan hilangnya kepercayaan konsumen.

Brand yang ingin tumbuh dalam jangka panjang perlu menempatkan:

Safety + Quality + Regulatory + Consumer Need + Brand Value

di atas klaim instan.

Keamanan bukan hambatan bagi marketing. Sebaliknya, ketika tim merancang formula melalui sistem yang tepat, perusahaan dapat membangun kepercayaan, menjaga konsistensi, dan meningkatkan kesiapan produk ketika volume bisnis bertambah. Pasted markdown

Data Resmi: BPOM Masih Menemukan Kosmetik Berbahaya pada 2026

Pada triwulan pertama 2026, BPOM menindak 11 kosmetik yang mengandung bahan berbahaya dan/atau dilarang. BPOM menemukan asam retinoat, deksametason, hidrokuinon, merkuri, pewarna merah K10, serta 1,4-dioksan dalam sejumlah produk. Setelah menemukan pelanggaran tersebut, BPOM mengambil tindakan seperti mencabut izin edar serta menghentikan sementara kegiatan produksi, distribusi, atau impor pada produk terkait.

Temuan tersebut melanjutkan pola pengawasan sebelumnya. Pada periode Juli–September 2025, BPOM mengungkap 23 produk kosmetik yang positif mengandung bahan berbahaya dan/atau dilarang, termasuk merkuri, asam retinoat, hidrokuinon, merah K3, merah K10, dan Acid Orange 7. Dari 23 temuan tersebut, 15 produk berasal dari skema kontrak produksi. Data ini menunjukkan bahwa brand owner perlu memilih partner manufaktur dengan hati-hati dan tetap memahami proses pengembangan produk yang mereka jalankan.

Data tersebut tidak berarti seluruh kosmetik maklon berbahaya. Sebaliknya, temuan BPOM menunjukkan bahwa kontrak produksi tetap membutuhkan pengendalian formula, manufacturer, dokumen, bahan baku, quality system, dan regulasi yang baik. Brand owner sebaiknya tidak menyerahkan seluruh keputusan teknis kepada manufacturer tanpa memahami siapa yang menangani produksi, bagaimana tim menjalankan proses, dan bagaimana quality control bekerja. Pasted markdown

Peraturan Bahan Kosmetik yang Perlu Dipahami Brand Owner

Per Oktober 2026, Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik masih berstatus berlaku. Regulasi tersebut menggantikan PerBPOM Nomor 23 Tahun 2019 beserta perubahan melalui PerBPOM Nomor 17 Tahun 2022. Karena itu, brand owner dan formulator perlu menggunakan ketentuan terbaru ketika menyusun dan mengevaluasi formula.

Selain persyaratan teknis bahan, BPOM juga memberlakukan Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2026 tentang Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik. Peraturan tersebut mulai berlaku pada 29 April 2026 dan menggantikan PerBPOM Nomor 33 Tahun 2021 mengenai sertifikasi CPKB. Dengan demikian, brand owner perlu memperhatikan bahan sekaligus sistem manufaktur yang partner produksi gunakan.

Bagi brand, alurnya dapat dipahami sebagai:

Allowed & Compliant Ingredients → Proper Formulation → CPKB Manufacturing → QC → Notification → Market Surveillance

Alur tersebut menunjukkan bahwa satu bahan saja tidak menentukan keamanan produk. Brand, formulator, manufacturer, dan tim quality control perlu menjaga formula, fasilitas, proses, dokumentasi, pengawasan mutu, serta monitoring setelah produk masuk ke pasar. Pasted markdown

Expertise EFBA Kosmetindo dalam Pengembangan dan Maklon Kosmetik

Website resmi EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan pengembangan produk kosmetik mulai dari konsultasi konsep, formulasi, pembuatan sampel, desain, legalitas, hingga produksi. Dalam alur maklon yang perusahaan publikasikan, client memulai proses melalui diskusi, lalu tim R&D mengembangkan sampel. Setelah itu, tim melanjutkan desain dan packaging, pendaftaran merek, BPOM, produksi berdasarkan sampel yang client setujui, kemudian distribusi produk kepada client.

EFBA Kosmetindo juga mempublikasikan pengalaman dalam industri maklon sejak 2020. Website resminya menyebut lebih dari 150 brand telah mempercayakan proses pengembangan dan perusahaan telah memproduksi lebih dari 450 ribu produk. Informasi tersebut memberikan bukti experience yang lebih konkret dibandingkan sekadar menyebut layanan “berpengalaman”.

Pada sisi formulasi, EFBA Kosmetindo menjelaskan bahwa tim menghubungkan target konsumen, product concept, active ingredients, formula development, sampel, evaluasi, legalitas, produksi, dan quality control dalam proses pengembangan skincare. Pendekatan tersebut relevan untuk mencegah penggunaan bahan bermasalah karena formulator perlu memahami regulasi sekaligus hubungan antarbahan di dalam formula.

Dalam ekosistem PT EFBA Digital Mulia, layanan maklon juga mencakup pengembangan dan reformulasi produk, notifikasi BPOM, penyediaan kemasan, serta dukungan pengembangan brand. Halaman resmi EFBA menyebut bahwa jasa maklon kosmetik mendapatkan dukungan dari apoteker dan ahli farmasi serta mencakup pengembangan produk, reformulasi, registrasi, kemasan, dan konsultasi. Pasted markdown

bahan berbahaya dalam kosmetik
bahan berbahaya dalam kosmetik

Framework Aman untuk Brand Owner Sebelum Memproduksi Kosmetik

Brand owner dapat menggunakan framework berikut sebelum memulai produksi:

1. PRODUCT CONCEPT
Siapa target konsumen dan apa kebutuhan kosmetiknya?

2. INGREDIENT REVIEW
Apakah tim memilih bahan yang sesuai fungsi dan memenuhi persyaratan BPOM?

3. FORMULATION
Apakah formulator sudah mengatur komposisi, konsentrasi, pH, tekstur, dan kompatibilitas dengan tepat?

4. SAMPLE
Apakah sampel sudah sesuai dengan product brief?

5. SAFETY & STABILITY
Apakah tim sudah menjalankan evaluasi keamanan dan stabilitas yang relevan?

6. MANUFACTURING READINESS
Apakah manufacturer mampu mengendalikan fasilitas dan proses produksi dengan baik?

7. REGULATORY
Apakah tim sudah menyiapkan legalitas, BPOM, label, dan klaim produk?

8. QUALITY CONTROL
Apakah tim QC memastikan produk akhir memenuhi spesifikasi?

Secara sederhana:

Concept → Ingredients → Formula → Sample → Testing → BPOM → Production → QC → Market

Dengan alur tersebut, brand owner tidak hanya bertanya “Bahan apa yang sedang viral?”, tetapi mulai menilai “Bahan apa yang sesuai dengan target produk, aman untuk formula, kompatibel dengan bahan lain, dan memenuhi regulasi?”. Pendekatan ini membantu brand membuat keputusan berdasarkan kebutuhan produk, bukan hanya tren pasar.

FAQ tentang Bahan Berbahaya dalam Kosmetik

Apa saja bahan berbahaya dalam kosmetik yang sering BPOM temukan?

BPOM berulang kali menemukan merkuri, asam retinoat, hidrokuinon, pewarna merah K3, dan merah K10 dalam kosmetik bermasalah. Pada pengawasan triwulan pertama 2026, BPOM juga menemukan deksametason dan 1,4-dioksan. Setiap bahan memiliki risiko yang berbeda sehingga konsumen perlu memeriksa legalitas dan informasi produk. Brand owner juga perlu memastikan formula, bahan baku, dan proses produksi mengikuti regulasi.

Apakah merkuri boleh digunakan dalam kosmetik?

Tidak. Brand tidak boleh menggunakan merkuri sebagai bahan pencerah dalam kosmetik. BPOM masih menemukan produk yang mengandung merkuri dan menjelaskan risiko seperti iritasi, perubahan warna kulit, serta kerusakan ginjal. Karena itu, konsumen perlu menghindari produk yang terbukti mengandung merkuri dan mewaspadai klaim whitening yang terlalu ekstrem. Brand owner juga perlu mengendalikan sourcing bahan dan proses produksi agar tidak membuka risiko penggunaan bahan terlarang maupun kontaminasi.

Apakah hidrokuinon aman untuk kosmetik pencerah?

Brand tidak sebaiknya menggunakan hidrokuinon secara sembarangan dalam produk kosmetik pencerah. BPOM mengaitkan penyalahgunaannya dengan iritasi, hiperpigmentasi, ochronosis, serta efek lain. Penggunaan hidrokuinon dalam konteks medis berbeda dari produk kosmetik bebas dan membutuhkan pengawasan profesional kesehatan yang relevan. Karena itu, brand skincare sebaiknya mengembangkan konsep brightening dengan bahan yang sesuai ketentuan kosmetik.

Apakah tretinoin sama dengan retinol?

Tidak. Tretinoin atau asam retinoat merupakan zat aktif obat, sedangkan retinol dapat masuk ke sejumlah formula kosmetik sesuai ketentuan yang berlaku. Keduanya memiliki status, kekuatan, fungsi, dan persyaratan yang berbeda. Brand owner perlu memastikan identitas bahan dan kategori produknya sebelum memasukkan bahan ke formula. Jangan menggunakan istilah “retinoid” secara umum untuk menyamakan seluruh turunannya.

Bagaimana cara mengecek kosmetik aman atau tidak?

Konsumen dapat menggunakan prinsip CEK KLIK dengan memeriksa Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa. Konsumen juga dapat memverifikasi nomor notifikasi melalui kanal resmi BPOM sehingga tidak hanya mengandalkan nomor yang tercetak pada kemasan. Selain itu, perhatikan klaim yang terlalu ekstrem, identitas produsen, serta informasi komposisi. Jika menemukan indikasi produk ilegal atau berbahaya, konsumen dapat melaporkannya kepada BPOM.

Mengapa brand owner perlu memilih jasa maklon yang memahami regulasi?

Pengembangan kosmetik melibatkan formula, bahan baku, sampel, pengujian, produksi, quality control, kemasan, label, dan legalitas. Partner maklon yang memiliki proses terstruktur dapat membantu brand menghubungkan seluruh tahapan tersebut secara konsisten. Namun, brand owner tetap perlu memahami konsep produknya, memeriksa proses pengembangan, dan mengevaluasi partner manufaktur. Menggunakan jasa maklon tidak berarti brand dapat melepaskan seluruh tanggung jawab terhadap keamanan dan kualitas produk.

Bangun Produk Kosmetik yang Aman sejak Tahap Formula

Keamanan kosmetik dimulai jauh sebelum produk masuk ke marketplace atau toko. Brand owner perlu memilih bahan yang sesuai regulasi, menyusun product brief yang jelas, meminta tim R&D mengembangkan formula yang tepat, mengevaluasi sampel, mengawasi proses produksi, menyiapkan legalitas, serta memastikan tim QC memeriksa produk akhir sebelum masuk ke pasar. Dengan pendekatan tersebut, brand tidak hanya mengejar tampilan produk yang menarik, tetapi juga membangun kualitas dan kepercayaan konsumen sejak tahap awal.

EFBA Kosmetindo menyediakan layanan pengembangan dan maklon kosmetik mulai dari konsultasi konsep, formulasi, pembuatan sampel, desain, legalitas, hingga persiapan produksi. Website resminya menjelaskan bahwa tim R&D membuat sampel berdasarkan hasil diskusi dengan client, kemudian client memberikan persetujuan sebelum tim melanjutkan ke proses desain, BPOM, produksi, dan distribusi. EFBAKosmetindo

Konsultasi Pengembangan Produk bersama EFBA Kosmetindo

Untuk kebutuhan maklon yang terhubung dengan ekosistem PT EFBA Digital Mulia, Anda juga dapat mempelajari layanan Jasa Maklon Kosmetik EFBA yang mencakup pengembangan dan reformulasi produk, notifikasi BPOM, kemasan, hingga konsultasi bisnis. EFBA

Jasa Maklon Kosmetik PT EFBA Digital Mulia

Jangan mulai dari pertanyaan “Bahan apa yang paling cepat memberikan hasil?”. Mulailah dari “Bahan apa yang sesuai dengan tujuan produk, aman, dapat diformulasikan dengan benar, dan memenuhi regulasi yang berlaku?”

Maklon Skincare untuk Startup: Cara Memulai Brand dengan Strategi Tepat

maklon skincare startup
maklon skincare startup

Membangun startup skincare tidak harus dimulai dengan mendirikan pabrik sendiri. Melalui maklon skincare startup, pemilik brand dapat bekerja sama dengan perusahaan maklon untuk mengembangkan konsep produk, formula, sampel, packaging, legalitas, hingga persiapan produksi.

Namun, startup sebaiknya tidak memulai hanya dengan pertanyaan, “produk apa yang sedang viral?” Sebaliknya, brand perlu memahami target konsumen, masalah kulit yang ingin dituju, positioning, manfaat produk, karakter formula, harga jual, packaging, serta strategi bisnis sebelum menentukan produk.

Agar proses lebih terarah, gunakan alur berikut:

Market Need → Target Consumer → Product Concept → Formula → Sample → Packaging → Legalitas → Production → QC → Launch

EFBA Kosmetindo menyediakan layanan maklon skincare yang mencakup konsultasi produk, pengembangan formula, sampel, legalitas, hingga persiapan produksi. Selain itu, perusahaan memiliki tim yang berfokus pada brand, skincare, R&D, serta konsultasi maklon.

Mengapa Maklon Skincare Cocok untuk Startup?

Pada tahap awal, startup biasanya memiliki keterbatasan modal, tim, fasilitas produksi, R&D, serta pengalaman regulasi. Oleh sebab itu, membangun seluruh infrastruktur manufaktur sejak awal dapat meningkatkan kompleksitas bisnis sebelum brand mengetahui apakah produknya benar-benar sesuai dengan pasar.

Sistem maklon skincare startup menawarkan alternatif yang lebih efisien. Brand owner dapat memusatkan perhatian pada konsep produk, target market, positioning, branding, marketing, sales, dan pengembangan bisnis. Sementara itu, partner maklon dapat menangani proses manufaktur sesuai ruang lingkup kerja sama.

Meski demikian, sistem maklon bukan berarti pemilik brand cukup memberikan nama merek lalu menunggu produk selesai. Pemilik brand tetap perlu menentukan konsumennya, produk yang mereka butuhkan, value yang ingin ditawarkan, target harga jual, dan strategi bersaing.

Gunakan kerangka berikut:

Customer Problem → Product Solution → Formula → Brand Positioning → Price → Channel → Marketing

Dengan demikian, startup tidak hanya membuat skincare. Brand juga membangun fondasi bisnis sejak tahap awal.

Apa yang Harus Dipersiapkan sebelum Maklon Skincare?

Sebelum menghubungi perusahaan maklon, startup tidak harus memiliki formula final. Namun, product brief yang jelas akan membantu tim memahami arah produk dengan lebih cepat.

Setidaknya, tentukan:

Product Category → Target Consumer → Main Skin Concern → Key Benefit → Product Character → Target Price → Packaging Concept → Available Budget → Launch Timeline

Sebagai contoh, hindari brief yang hanya berbunyi:

“Saya ingin membuat serum.”

Sebaliknya, susun brief yang lebih spesifik:

Serum → Konsumen 20–30 Tahun → Concern Kulit Kusam → Lightweight → Cepat Menyerap → Positioning Affordable-Premium → Packaging Minimalist

Brief tersebut memang belum menjadi formula final. Namun, informasi itu dapat memberi arah yang lebih jelas dalam diskusi product development. Selanjutnya, tim R&D dapat menerjemahkan ide bisnis menjadi karakter produk yang lebih konkret.

Step Lengkap Memulai Maklon Skincare untuk Startup

Berdasarkan pola pengembangan produk yang EFBA Kosmetindo publikasikan, proses maklon mencakup diskusi kebutuhan produk, R&D dan sampel, desain dan packaging, kebutuhan merek, proses BPOM, produksi setelah persetujuan sampel, hingga distribusi kepada klien.

Bagi startup, proses tersebut sebaiknya dimulai lebih awal daripada sekadar formulasi.

1. Tentukan Target Konsumen sebelum Menentukan Produk

Salah satu kesalahan pemula adalah menentukan produk terlebih dahulu, lalu mencari siapa yang akan membelinya. Padahal, brand sebaiknya memulai dari kebutuhan pasar yang ingin mereka layani.

Mulailah dengan menentukan profil konsumen berdasarkan masalah atau kebutuhan yang relevan dengan produk. Misalnya, brand dapat menyasar konsumen yang membutuhkan skincare praktis untuk rutinitas sederhana, produk dengan sensorial tertentu, atau kategori lain berdasarkan hasil riset pasar.

Gunakan:

Target Consumer → Skin Concern → Need → Product → Benefit → Positioning

Dengan pola tersebut, startup memiliki dasar bisnis yang lebih kuat ketika memilih serum, moisturizer, facial wash, toner, day cream, atau kategori lainnya.

Dalam pengembangan private label skincare, EFBA Kosmetindo juga menempatkan target konsumen dan positioning sebagai bagian penting. Website perusahaan menjelaskan bahwa pemilik brand tetap perlu menentukan target konsumen, konsep, formula, packaging, harga jual, dan strategi pemasaran.

2. Tentukan Hero Product untuk Memulai

Startup tidak harus langsung meluncurkan lima atau sepuluh SKU. Terlalu banyak produk pada tahap awal dapat meningkatkan kebutuhan formula, sampel, packaging, legalitas, stok, konten pemasaran, serta modal kerja.

Sebagai alternatif, pilih satu atau beberapa produk yang paling relevan dengan positioning awal. Produk tersebut dapat berfungsi sebagai hero product untuk memperkenalkan identitas brand kepada pasar.

Gunakan framework:

Market Need → Hero Product → Supporting Product → Product Line Expansion

Misalnya, brand dengan positioning tertentu dapat memulai dari satu serum atau moisturizer. Setelah itu, tim dapat mengevaluasi respons pasar sebelum memperluas rangkaian produk.

Pada akhirnya, jumlah SKU perlu menyesuaikan model bisnis, kebutuhan konsumen, kemampuan modal, serta strategi brand.

3. Buat Product Brief sebelum Masuk ke R&D

Product brief membantu tim maklon memahami arah pengembangan produk. Startup tidak perlu membuat dokumen teknis yang rumit. Namun, brief harus cukup jelas untuk memulai diskusi.

Isi product brief dapat meliputi:

Product Category → Target Consumer → Main Benefit → Desired Texture → Aroma → Color → Key Ingredients Concept → Packaging → Target Price → Positioning

Jika belum mengetahui bahan aktif yang tepat, jangan langsung menentukan konsentrasi hanya berdasarkan tren media sosial. Sebaiknya, diskusikan kebutuhan produk dengan tim R&D.

Tim teknis perlu mempertimbangkan fungsi bahan, kompatibilitas, konsentrasi, stabilitas, karakter produk, dan regulasi.

Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 saat ini mengatur persyaratan teknis bahan kosmetik dan berstatus berlaku. Regulasi tersebut menggantikan ketentuan teknis bahan sebelumnya untuk mendukung aspek keamanan, kemanfaatan, dan mutu kosmetik.

4. Diskusikan Konsep Formula dengan Tim R&D

Tahap berikutnya dalam maklon skincare startup adalah menerjemahkan product brief menjadi konsep formula. Formula tidak hanya terdiri dari daftar bahan aktif yang sedang populer.

Tim R&D perlu mempertimbangkan:

Function → Ingredients → Concentration → Compatibility → Texture → Stability → Packaging Compatibility → Regulation

EFBA Kosmetindo menjelaskan bahwa formulasi skincare perlu mempertimbangkan target konsumen, fungsi produk, bentuk sediaan, karakter formula, bahan, keamanan, stabilitas, packaging, klaim, serta kesiapan manufaktur.

Oleh sebab itu, startup sebaiknya memberi ruang kepada tim R&D untuk mengevaluasi konsep. Product brief berfungsi sebagai arah bisnis, sedangkan tim teknis mengubah arah tersebut menjadi formula yang dapat mereka kembangkan.

5. Buat Sampel dan Evaluasi secara Terstruktur

Setelah tim R&D mengembangkan formula awal, startup masuk ke tahap sampel. Pada tahap ini, jangan hanya bertanya, “suka atau tidak suka?”

Gunakan parameter evaluasi seperti:

Texture → Spreadability → Absorption → Aroma → Color → After Feel → Overall Experience

Berikan feedback secara spesifik. Contohnya, kalimat “tekstur terasa terlalu berat setelah diaplikasikan” jauh lebih berguna daripada sekadar mengatakan “kurang cocok”.

EFBA Kosmetindo mempublikasikan alur formulasi:

Formula Development → Sample → Evaluation → Revision → Sample Approval

Setelah klien menyetujui sampel, tim dapat melanjutkan proses menuju packaging, regulasi, dan persiapan produksi.

Dengan demikian:

Sample → Evaluate → Feedback → Revision → Re-evaluate → Approval

Hindari memberikan approval terlalu cepat hanya demi mempercepat launching.

6. Hitung Harga Jual sebelum Mengunci Packaging

Packaging dapat meningkatkan pengalaman dan persepsi produk. Namun, startup juga perlu memahami dampaknya terhadap struktur biaya.

Jangan memilih botol, jar, pump, dropper, box, atau finishing hanya karena tampilannya premium. Pertimbangkan juga kompatibilitas formula, fungsi, user experience, positioning, target harga, dan total kebutuhan biaya.

Gunakan:

Product Cost + Packaging + Supporting Cost + Marketing + Distribution + Margin → Target Selling Price

Setiap proyek memiliki perhitungan yang berbeda. Karena itu, startup perlu meminta quotation berdasarkan formula, jumlah produksi, packaging, serta ruang lingkup layanan yang benar-benar digunakan.

Pendekatan ini membantu maklon skincare startup tetap terhubung dengan strategi bisnis, bukan hanya keputusan estetika.

7. Bangun Identitas Brand dan Packaging yang Konsisten

Skincare startup membutuhkan identitas yang membantu konsumen mengenali produk sekaligus memahami positioning brand. Nama, logo, warna, visual, packaging, tone of voice, dan pesan produk sebaiknya bergerak dalam satu arah.

Gunakan hubungan:

Target Market → Positioning → Brand Identity → Packaging → Communication

EFBA Kosmetindo memasukkan desain dan packaging dalam proses pengembangan produk. Selain itu, artikel perusahaan juga menempatkan desain kemasan dan identitas brand sebagai bagian penting sebelum legalitas dan produksi.

Meski begitu, packaging tidak hanya berfungsi sebagai media branding. Brand juga perlu memastikan kemasan sesuai dengan formula, nyaman digunakan, serta memuat informasi sesuai ketentuan yang berlaku.

8. Persiapkan Merek dan Legalitas Produk

Masukkan aspek legalitas ke dalam timeline sejak awal. Jangan menunggu produk selesai diproduksi sebelum mulai membahas kebutuhan regulasi.

Untuk kosmetik, BPOM menggunakan mekanisme notifikasi kosmetika. Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2022 mengatur tata cara pengajuan notifikasi kosmetika dan hingga saat ini tercantum berstatus berlaku pada database regulasi BPOM.

Dalam proses maklon, EFBA Kosmetindo juga mencantumkan pendaftaran merek dan pendaftaran varian produk ke BPOM sebagai bagian dari tahapan pengembangan.

Karena itu, gunakan urutan:

Brand → Product → Formula → Sample Approval → Packaging → Regulatory Preparation → Production

Detail persyaratan dapat berbeda berdasarkan produk dan proyek. Oleh sebab itu, jangan menetapkan tanggal launching terlalu ketat sebelum memahami kebutuhan pengembangan, revisi sampel, packaging, legalitas, dan jadwal produksi.

9. Masuk ke Produksi setelah Produk Siap

Produksi menjadi tahap untuk merealisasikan formula dan spesifikasi yang telah startup setujui. Pada fase ini, konsistensi terhadap sampel dan spesifikasi sangat penting.

EFBA Kosmetindo menjelaskan bahwa tim produksi menggunakan sampel yang telah mendapat persetujuan klien sebagai acuan dalam proses manufaktur. Selain itu, perusahaan juga memasukkan quality control dalam rangkaian pengembangan skincare.

Secara sederhana:

Approved Sample → Production Preparation → Manufacturing → QC → Packaging → Finished Product

Startup perlu menyesuaikan jumlah produksi dengan kemampuan menjual dan mengelola inventory. Stok berlebihan dapat mengikat modal kerja. Sebaliknya, stok yang terlalu sedikit dapat mengganggu efisiensi dan ketersediaan produk.

10. Siapkan Strategi Launching sebelum Produk Selesai

Kesalahan berikutnya sering terjadi ketika startup baru memikirkan cara menjual setelah produk selesai. Padahal, brand sebaiknya mulai membangun pasar ketika product development masih berlangsung.

Siapkan:

Positioning → Key Message → Content → Sales Channel → Launch Campaign → Customer Acquisition → Repeat Purchase

Foto produk, konten edukasi, marketplace, website, media sosial, distributor, reseller, influencer, atau channel lain perlu mengikuti strategi masing-masing brand. Jangan menggunakan seluruh channel hanya karena kompetitor melakukannya.

EFBA Kosmetindo menekankan bahwa sistem maklon memungkinkan pemilik brand lebih fokus pada:

Branding → Marketing → Sales

Sementara itu, partner maklon menangani proses manufaktur sesuai ruang lingkup kerja sama.

Artinya, keberhasilan startup tidak berakhir ketika produk keluar dari pabrik. Justru pada tahap tersebut, pekerjaan membangun pasar mulai berjalan lebih serius.

Kesalahan Startup saat Memulai Maklon Skincare

Kesalahan pertama muncul ketika brand memilih produk viral tanpa memahami target market. Produk tersebut mungkin menarik secara tren, tetapi belum tentu relevan dengan positioning atau kebutuhan konsumen.

Kesalahan kedua terjadi saat startup memasukkan terlalu banyak bahan aktif ke dalam satu konsep. Formula yang terdengar menarik di materi marketing tetap harus mempertimbangkan kompatibilitas bahan, karakter sediaan, stabilitas, keamanan, regulasi, serta feasibility produksi.

Masalah berikutnya muncul ketika brand menghabiskan terlalu banyak anggaran untuk packaging. Akibatnya, bisnis tidak memiliki ruang yang cukup untuk branding, marketing, distribusi, dan modal kerja.

Selain itu, beberapa startup langsung menyiapkan terlalu banyak SKU sebelum membuktikan kemampuan menjual produk pertama.

Terakhir, hindari menetapkan tanggal launching tanpa memperhitungkan kemungkinan revisi sampel, proses packaging, legalitas, dan jadwal produksi.

Dengan demikian, maklon skincare startup membutuhkan product development plan sekaligus business plan sederhana.

Custom Formula atau Private Label: Mana yang Cocok untuk Startup?

Kedua opsi dapat menjadi pilihan, tetapi kebutuhan setiap startup berbeda.

Private label cocok untuk brand yang ingin memulai dari pilihan formula atau produk yang sudah tersedia, lalu melakukan penyesuaian sesuai ruang lingkup manufacturer.

Sebaliknya, custom development memberikan ruang yang lebih luas bagi startup dengan target konsumen, manfaat, tekstur, bahan aktif, atau karakter produk yang lebih spesifik.

EFBA Kosmetindo menjelaskan bahwa custom skincare manufacturing memungkinkan brand menentukan konsep sejak tahap awal. Selanjutnya, tim dapat berdiskusi dengan R&D mengenai karakter formula, pengalaman penggunaan, serta tujuan produk sebelum masuk ke produksi.

Pertimbangannya dapat diringkas menjadi:

  • Speed & Simplicity → Evaluate Private Label
  • Specific Product Concept → Evaluate Custom Development

Pada akhirnya, pilihan final perlu mempertimbangkan formula, budget, packaging, positioning, timeline, dan kemampuan bisnis.

Berapa Modal Maklon Skincare untuk Startup?

Tidak ada satu angka yang berlaku untuk seluruh proyek. Total kebutuhan modal dapat berubah berdasarkan jenis produk, formula, bahan aktif, jumlah varian, packaging, jumlah produksi, desain, kebutuhan legalitas, pengujian, serta layanan lain yang masuk dalam proyek.

Oleh sebab itu, jangan hanya bertanya:

“Berapa harga maklon satu produk?”

Gunakan perhitungan:

Product Development + Formula/Sample + Packaging + Regulatory + Production + Branding + Marketing + Distribution + Working Capital

Perhitungan tersebut memberi gambaran yang lebih realistis mengenai kebutuhan modal startup.

Untuk quotation EFBA Kosmetindo, sebaiknya diskusikan konsep dan kebutuhan aktual terlebih dahulu. Dengan informasi tersebut, tim dapat menentukan ruang lingkup proyek secara lebih tepat.

Halaman resmi Maklon Skincare EFBA Kosmetindo menyediakan informasi layanan dan konsultasi.

maklon skincare startup
maklon skincare startup

Berapa Lama Proses Maklon Skincare?

Tidak ada satu durasi yang berlaku untuk seluruh produk. Kompleksitas formula, jumlah revisi sampel, packaging, kebutuhan pengujian, proses legalitas, kesiapan material, dan antrean produksi dapat memengaruhi timeline.

EFBA Kosmetindo juga menjelaskan bahwa setiap proyek dapat memiliki alur berbeda. Kompleksitas formula, jenis sediaan, revisi sampel, packaging, pengujian, serta proses legalitas akan memengaruhi tahapan pengembangan.

Karena itu, startup sebaiknya menggunakan:

Target Launching → Development Timeline → Sample Revision Buffer → Packaging → Regulatory → Production → Launch Preparation

Selain itu, tambahkan buffer waktu agar satu revisi tidak langsung mengganggu seluruh jadwal launching.

Data Resmi: Mengapa Formula dan Legalitas Harus Masuk Perencanaan sejak Awal?

BPOM terus memperbarui standar teknis kosmetik. BPOM menetapkan Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik pada 9 September 2025. Pemerintah kemudian mengundangkannya pada 3 Oktober 2025, dan regulasi tersebut saat ini masih berlaku.

Peraturan tersebut menggantikan PerBPOM Nomor 23 Tahun 2019 beserta perubahannya.

Sementara itu, Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2022 mengatur tata cara pengajuan notifikasi kosmetika. Regulasi tersebut mencakup kriteria, persyaratan, tata cara pengajuan, serta prosedur teknis terkait notifikasi kosmetika.

Pada 2026, BPOM juga menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2026 mengenai Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB). Portal regulasi resmi BPOM mencantumkan aturan tersebut sebagai bagian dari ketentuan terbaru terkait industri kosmetik.

Bagi startup, informasi tersebut memperkuat satu prinsip penting:

Product Idea → Formula → Regulatory Check → Sample → Approval → Notification Preparation → Production

Jangan memisahkan regulasi dari product development. Tim perlu mempertimbangkan aspek regulasi sejak tahap pengembangan agar konsep produk, bahan, klaim, dan proses produksi tetap bergerak dalam arah yang sesuai.

Keunggulan Maklon Skincare Startup Bersama EFBA Kosmetindo

EFBA Kosmetindo menyediakan layanan yang mencakup konsultasi produk, pengembangan formula, pembuatan sampel, desain dan packaging, pendampingan legalitas, hingga persiapan produksi.

Selain itu, website EFBA Kosmetindo memperkenalkan tim dengan peran Brand & Skincare Expert, Brand & Cosmetics Expert, R&D, serta Maklon Consultant.

Untuk layanan skincare, perusahaan menawarkan berbagai kategori seperti facial wash, day cream, moisturizer, night cream, serum, toner, serta produk kecantikan lainnya.

EFBA Kosmetindo juga mencantumkan pencapaian 150+ brand client dan 450K+ pcs produk pada halaman maklon skincare. Karena perusahaan menerbitkan angka tersebut melalui kanal resminya sendiri, pembaca sebaiknya memahaminya sebagai company-published experience, bukan data pihak ketiga.

Bagi startup, alur pendampingan dapat diringkas menjadi:

Idea → Consultation → Product Concept → R&D → Formula → Sample → Approval → Design & Packaging → Legalitas → Production

Dengan demikian, maklon skincare startup tidak hanya berkaitan dengan proses produksi. Founder juga dapat memanfaatkan tahap konsultasi untuk memperjelas konsep sebelum masuk ke pengembangan formula.

Mengapa Konsultasi Maklon Penting bagi Startup?

Pemula sering datang dengan ide yang masih luas, seperti “ingin membuat skincare brightening” atau “ingin punya serum sendiri”. Namun, ide tersebut belum cukup untuk menjadi product brief yang siap masuk ke R&D.

Konsultasi membantu mengubah:

General Idea → Target Consumer → Product → Benefit → Character → Formula Direction → Packaging → Positioning

EFBA Kosmetindo menempatkan konsultasi produk sebagai bagian dari proses pengembangan brand. Melalui konsultasi tersebut, tim membantu mengarahkan proses mulai dari konsep, formulasi, sampel, legalitas, hingga persiapan produksi.

Bagi startup yang belum memiliki tim product development internal, tahap ini membantu founder menyusun pertanyaan serta keputusan yang perlu mereka selesaikan sebelum mengeluarkan biaya produksi.

Tips Memilih Jasa Maklon Skincare untuk Startup

Jangan memilih perusahaan maklon hanya berdasarkan harga terendah. Startup akan bekerja bersama partner tersebut melalui proses formula, sampel, packaging, regulasi, produksi, QC, hingga kemungkinan repeat order.

Periksa:

Legalitas & CPKB → R&D → Product Development → Sample Process → Packaging → Regulatory Support → Production → QC → Communication

BPOM menerbitkan regulasi terbaru mengenai Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik melalui PerBPOM Nomor 8 Tahun 2026. Karena itu, founder perlu memverifikasi fasilitas serta ruang lingkup sertifikasi manufacturer yang terlibat dalam proyek.

Selain itu, minta penjelasan mengenai MOQ, quotation, formula, jumlah revisi sampel, packaging, timeline, legalitas, pembayaran, produksi, serta ketentuan repeat order sebelum menandatangani kerja sama.

Dengan langkah tersebut, startup dapat memilih partner maklon berdasarkan kesiapan teknis dan bisnis, bukan sekadar harga.

EFBA Kosmetindo sebagai Partner Pengembangan Brand Skincare

EFBA Kosmetindo mengarahkan layanannya untuk membantu brand mulai dari tahap ide hingga persiapan produksi. Berdasarkan halaman resminya, perusahaan menyediakan konsultasi produk, pengembangan formula, sampel, desain dan packaging, legalitas, produksi, serta quality control.

Pendekatan tersebut relevan bagi startup karena founder tidak selalu datang dengan formula siap produksi. Sebagian founder baru membawa target market, ide produk, referensi tekstur, atau positioning yang ingin mereka kembangkan.

Alur maklon skincare startup bersama EFBA dapat mengikuti:

Startup Idea → Konsultasi EFBA → Product Brief → R&D → Formula → Sample → Revision → Approval → Packaging → Legalitas → Production → QC → Product Launch

Namun, EFBA Kosmetindo tidak menggantikan seluruh pekerjaan bisnis brand owner. Founder tetap perlu membangun market, positioning, marketing, sales, distribution, customer experience, serta cash flow agar produk dapat berkembang setelah proses produksi selesai.

PT EFBA Digital Mulia untuk Pengembangan Bisnis Brand

Setelah produk memiliki arah yang jelas, startup tetap membutuhkan strategi bisnis. Product development menjawab apa yang akan bisnis jual. Sementara itu, business development perlu menjawab siapa target konsumennya, channel apa yang akan digunakan, berapa harga yang sesuai, dan bagaimana bisnis akan bertumbuh.

PT EFBA Digital Mulia juga menyediakan layanan yang berkaitan dengan pengembangan dan perencanaan bisnis. Startup skincare yang membutuhkan pembahasan lebih luas mengenai model bisnis dan strategi dapat mempelajari layanan PT EFBA Digital Mulia.

Hubungannya dapat diringkas menjadi:

Product Development → Brand Development → Market → Sales → Business Growth

Dengan pendekatan tersebut, startup tidak berhenti pada pertanyaan “bagaimana membuat skincare?”, tetapi mulai memikirkan “bagaimana membangun bisnis skincare yang dapat berkembang?”

Checklist sebelum Memulai Maklon Skincare Startup

Sebelum menghubungi perusahaan maklon, founder dapat menggunakan checklist berikut:

  1. Tentukan target konsumen utama.
  2. Pahami masalah atau kebutuhan konsumen.
  3. Pilih kategori produk awal.
  4. Prioritaskan satu hero product.
  5. Rumuskan manfaat utama produk.
  6. Siapkan referensi tekstur dan karakter produk.
  7. Tentukan arah positioning brand.
  8. Perkirakan target harga jual.
  9. Siapkan budget product development.
  10. Sisihkan budget untuk marketing dan modal kerja.
  11. Kumpulkan referensi konsep packaging.
  12. Pertimbangkan nama brand dan kebutuhan merek.
  13. Susun timeline launching secara realistis.
  14. Rencanakan sales channel awal.
  15. Verifikasi partner maklon sebelum memulai kerja sama.

Startup tidak harus memiliki jawaban sempurna untuk seluruh poin. Namun, semakin banyak keputusan yang founder selesaikan sejak awal, semakin terarah diskusi maklon skincare startup bersama tim pengembangan produk.

Wujudkan Startup Skincare Bersama EFBA Kosmetindo

Membangun startup skincare tidak harus dimulai dari pabrik, laboratorium, atau puluhan SKU. Mulailah dari masalah konsumen, tentukan target market, pilih hero product, susun product brief, lalu kembangkan formula bersama tim yang memahami proses manufaktur.

EFBA Kosmetindo menyediakan layanan Maklon Skincare yang mencakup konsultasi produk, pengembangan formula, sampel, packaging, legalitas, hingga persiapan produksi.

Melalui proses tersebut, founder dapat mengembangkan produk secara lebih terarah sambil tetap memusatkan perhatian pada positioning, pemasaran, penjualan, dan pertumbuhan brand.

logo efba kosmetindo

Jika Anda masih berada pada tahap ide, gunakan formula sederhana berikut sebelum konsultasi:

Target Konsumen → Masalah Utama → Jenis Produk → Manfaat Utama → Karakter Produk → Target Harga → Sales Channel

Setelah itu, diskusikan konsep dengan tim EFBA Kosmetindo. Pendekatan tersebut membantu mengubah maklon skincare startup dari sekadar keinginan memiliki produk menjadi proses pengembangan brand yang lebih terarah.

FAQ tentang Maklon Skincare Startup

Apa itu maklon skincare startup?

Maklon skincare startup adalah model pengembangan produk ketika startup atau pemilik brand bekerja sama dengan perusahaan maklon untuk mengembangkan dan memproduksi skincare. Ruang lingkup dapat mencakup konsultasi, formula, sampel, packaging, legalitas, produksi, dan quality control sesuai proyek.

Apakah pemula bisa membuat brand skincare tanpa memiliki pabrik?

Bisa. Sistem maklon memungkinkan pemilik brand bekerja sama dengan manufacturer tanpa membangun fasilitas produksi sendiri. Namun, founder tetap perlu mempersiapkan target market, konsep produk, positioning, budget, branding, serta strategi penjualan.

Produk skincare apa yang cocok untuk startup?

Tidak ada satu produk yang cocok untuk semua startup. Pilih produk berdasarkan target konsumen, kebutuhan pasar, positioning, kemampuan modal, dan strategi brand. EFBA Kosmetindo menampilkan kategori seperti facial wash, moisturizer, serum, toner, day cream, dan night cream dalam layanan skincare-nya. EFBA Kosmetindo

Apakah harus mempunyai formula sendiri sebelum maklon?

Tidak selalu. Founder dapat memulai dari konsep produk dan product brief, kemudian berdiskusi dengan tim R&D untuk mengembangkan formula. Untuk konsep yang lebih spesifik, custom development dapat menjadi salah satu pendekatan. EFBA Kosmetindo

Apakah produk maklon skincare perlu BPOM?

Kosmetik yang masuk ke pasar Indonesia mengikuti ketentuan notifikasi kosmetika BPOM. PerBPOM Nomor 21 Tahun 2022 mengatur tata cara pengajuan notifikasi kosmetika dan saat ini tercantum berstatus berlaku. JDIH Pom

Berapa MOQ maklon skincare untuk startup?

MOQ dapat berbeda berdasarkan formula, produk, packaging, bahan, dan kebijakan proyek/manufacturer. Karena itu, startup sebaiknya meminta quotation aktual untuk produk yang ingin dikembangkan daripada menggunakan satu angka MOQ sebagai patokan seluruh kategori.

Berapa lama membuat produk skincare melalui maklon?

Timeline berbeda pada setiap proyek. Formula, revisi sampel, packaging, pengujian, legalitas, kesiapan material, serta produksi dapat memengaruhi durasi. Karena itu, buat timeline berdasarkan tahapan proyek aktual dan tambahkan buffer sebelum target launching. EFBA Kosmetindo

Apa yang perlu dibawa saat konsultasi maklon skincare?

Siapkan informasi mengenai target konsumen, kategori produk, manfaat, referensi produk, karakter tekstur, positioning, packaging, target harga, budget, jumlah SKU, serta target launching. Jika beberapa bagian belum jelas, gunakan sesi konsultasi untuk menyusun arah product brief.

Apakah EFBA Kosmetindo menyediakan konsultasi maklon skincare?

Ya. Website EFBA Kosmetindo mempublikasikan konsultasi produk sebagai bagian dari layanan pengembangan yang berlanjut ke formulasi, sampel, legalitas, dan persiapan produksi. EFBA Kosmetindo

Izin BPOM Kosmetik: Mengapa Wajib Dipersiapkan Sebelum Produk Dipasarkan?

izin BPOM kosmetik

Membangun brand kosmetik tidak cukup hanya dengan formula yang menarik, kemasan premium, nama brand yang mudah diingat, dan strategi pemasaran yang kuat. Sebelum memasukkan produk ke pasar Indonesia, brand owner juga perlu mempersiapkan aspek legalitas, termasuk notifikasi kosmetika BPOM untuk produk tersebut.

Secara umum, banyak calon brand owner mencari informasi ini dengan istilah izin BPOM kosmetik. Dalam regulasi kosmetika, BPOM menggunakan istilah notifikasi kosmetika. Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2022 mengatur tata cara pengajuan notifikasi kosmetika dan hingga saat ini masih berstatus berlaku. JDIH Biro Hukum dan Organisasi

Mengapa hal ini penting? Brand yang memasarkan produk terlebih dahulu dan baru memikirkan BPOM kemudian dapat menghadapi risiko kepatuhan, penarikan produk, kerugian stok, hingga masalah kepercayaan konsumen. Dalam intensifikasi pengawasan kosmetik pada Mei 2026, BPOM menemukan lebih dari 2,1 juta pieces kosmetik yang tidak memenuhi ketentuan dengan nilai keekonomian sekitar Rp35,8 miliar. POM

Bagi pemilik brand, pendekatan yang lebih terstruktur mengikuti alur:

Product Concept → Formula → Sample → Regulatory Preparation → BPOM Notification → Production → Quality Control → Market

Karena itu, brand owner sebaiknya tidak menempatkan legalitas sebagai pekerjaan terakhir setelah produk siap masuk ke pasar. Sebaliknya, masukkan legalitas ke dalam perencanaan pengembangan produk sejak awal.

Apa Itu Izin BPOM Kosmetik?

Masyarakat dan brand owner umum menggunakan istilah “izin BPOM kosmetik” ketika membicarakan legalitas kosmetik. Namun, BPOM menggunakan istilah notifikasi kosmetika dalam regulasinya. PerBPOM Nomor 21 Tahun 2022 tentang Tata Cara Pengajuan Notifikasi Kosmetika mengatur mekanisme tersebut dan hingga saat ini masih berstatus berlaku. JDIH Biro Hukum dan Organisasi

Karena itu, ketika brand owner ingin membuat serum, moisturizer, facial wash, sunscreen, body care, atau kategori kosmetik lainnya, mereka perlu memasukkan aspek notifikasi ke dalam perencanaan sebelum memasarkan produk. Persiapan tersebut juga berkaitan dengan formula, bahan, pihak produsen, informasi produk, kemasan, penandaan, serta dokumen terkait.

Untuk brand owner, alurnya lebih tepat seperti berikut:

Konsep Produk → R&D → Formula → Sampel → Packaging → Legalitas → Notifikasi BPOM → Produksi → QC → Produk Masuk Pasar

Artikel Jasa Maklon Kosmetik BPOM untuk Brand Legal dari EFBA Kosmetindo juga menggunakan pendekatan tersebut. EFBA Kosmetindo menempatkan regulatory preparation dan BPOM sebelum tahap produksi, quality control, dan launching.

Apakah Kosmetik Harus Memiliki BPOM Sebelum Masuk Pasar?

Brand owner perlu memastikan kosmetik memenuhi ketentuan yang berlaku sebelum memasarkannya. PerBPOM Nomor 21 Tahun 2022 menjadi dasar regulasi untuk tata cara pengajuan notifikasi kosmetika. JDIH BPOM masih mencantumkan regulasi tersebut dengan status berlaku. JDIH Biro Hukum dan Organisasi

Hal ini penting karena aktivitas penjualan tidak hanya mencakup produk pada rak toko. Brand juga menggunakan marketplace, website, media sosial, live shopping, reseller, distributor, dan berbagai kanal digital untuk memasarkan produknya. Karena itu, brand owner perlu memperhatikan ketentuan pada seluruh aktivitas pemasaran dan peredaran produk.

BPOM terus mengawasi sarana distribusi maupun media online. Dalam intensifikasi pengawasan 11–22 Mei 2026, BPOM memeriksa 190 sarana dan menemukan 128 sarana yang tidak memenuhi ketentuan. Dalam pengawasan online, BPOM juga menemukan 9.042 tautan yang melanggar ketentuan peredaran kosmetik. POM

Artinya, hindari alur:

Produksi → Jual → Viral → Baru Urus BPOM

Gunakan alur:

Develop → Verify → Legalize → Produce → QC → Market

Mengapa Izin BPOM Kosmetik Penting Sebelum Produk Masuk Pasar?

Legalitas bukan sekadar nomor pada kemasan. Bagi brand owner, persiapan BPOM menjadi salah satu bagian penting dalam membangun produk melalui proses yang lebih terstruktur dan sesuai ketentuan.

Beberapa alasan utama membuat brand owner perlu mempersiapkan aspek ini sebelum memasukkan produk ke pasar.

1. Memenuhi Ketentuan Peredaran Kosmetik

Alasan pertama berkaitan dengan kepatuhan. Indonesia memiliki sistem notifikasi kosmetika yang mengatur tata cara pengajuan sebelum brand mengedarkan kosmetik. Karena itu, brand owner perlu memahami tahapan legalitas sejak proses pengembangan produk. JDIH Biro Hukum dan Organisasi

Hal ini sangat penting bagi bisnis baru yang terkadang terlalu fokus pada logo, kemasan, endorsement, konten media sosial, dan penjualan. Semua elemen tersebut memang penting untuk bisnis, tetapi tidak menggantikan kewajiban brand owner dalam memenuhi ketentuan produk.

Karena itu:

Branding + Marketing + Product Quality + Legal Compliance = Brand Preparation

Brand owner perlu mengembangkan keempat aspek tersebut secara bersamaan. Dengan begitu, produk tidak hanya menarik secara komersial, tetapi juga melalui proses persiapan yang sesuai.

2. Mengurangi Risiko Penarikan Produk dari Peredaran

Produk yang tidak memenuhi ketentuan dapat menghadapi tindakan pengawasan. Pada intensifikasi 2026, BPOM menyatakan bahwa tindak lanjut terhadap pelanggaran mencakup sanksi administratif berupa perintah penarikan, pemusnahan, penghentian sementara kegiatan, pencabutan izin edar, hingga rekomendasi penutupan akses importasi. POM

Bagi brand owner, masalah legalitas dapat memengaruhi operasional bisnis secara luas. Brand mungkin telah mengeluarkan biaya untuk stok, packaging, promosi, distribusi, kerja sama reseller, dan launching. Masalah legalitas dapat mengganggu berbagai aktivitas tersebut apabila brand tidak merencanakannya sejak awal.

Itulah sebabnya brand owner sebaiknya menyelesaikan regulatory preparation sebelum meningkatkan skala produksi dan pemasaran.

Gunakan:

Legal Preparation → BPOM → Production → Distribution

Alur tersebut lebih terukur dibanding:

Mass Production → Marketing → Regulatory Problem → Product Withdrawal

3. Membantu Konsumen Memverifikasi Produk

BPOM menyediakan database publik agar konsumen dapat memeriksa kosmetik. Per 2 Oktober 2026, halaman Cek Produk BPOM menampilkan sekitar 372 ribu kosmetik dengan registrasi yang masih berlaku. Pengguna dapat mencari produk berdasarkan nama produk, merek, NIE atau nomor registrasi, maupun nama pendaftar. Cek BPOM

Halaman khusus kosmetika juga menyediakan filter nomor registrasi, nama produk, merek, kemasan, bentuk sediaan, komposisi, tanggal terbit, tanggal expired, nama pendaftar, dan status. Cek BPOM

Artinya, konsumen dapat melakukan verifikasi sendiri:

Nama Produk → Nomor Notifikasi → Database BPOM → Cocokkan Informasi → Periksa Status

Bagi brand yang ingin membangun bisnis jangka panjang, transparansi semacam ini dapat memperkuat kepercayaan konsumen terhadap produk.

4. Membantu Brand Menyiapkan Launching dengan Lebih Terstruktur

Launching kosmetik melibatkan banyak komponen sekaligus, mulai dari produksi, packaging, foto produk, marketplace, distribusi, reseller, campaign, influencer, hingga inventory. Jika brand baru memikirkan legalitas pada tahap akhir, tim dapat menghadapi perubahan timeline dan hambatan dalam pengembangan produk.

Sebaliknya, brand owner dapat membuat timeline:

Concept → R&D → Sample Approval → Packaging → Regulatory → BPOM → Production → QC → Launch

Dengan alur tersebut, tim pemasaran dapat menyesuaikan keputusan dengan kesiapan produk. Brand juga tidak perlu terburu-buru mengumumkan tanggal launching sebelum tim menyelesaikan tahapan produk yang relevan.

Pendekatan ini membantu brand mengurangi risiko mengeluarkan biaya pemasaran besar ketika proses pengembangan produk belum selesai.

5. Melindungi Investasi Pengembangan Brand

Membangun produk kosmetik membutuhkan modal. Brand owner dapat mengeluarkan biaya untuk formula, sampel, desain, packaging, merek, produksi, fotografi, website, marketplace, influencer, iklan, dan distribusi.

Karena itu, brand owner perlu melihat legalitas sebagai bagian dari product development, bukan sebagai biaya tambahan yang dapat mereka abaikan. Ketika brand memasuki tahap produksi dan pemasaran tanpa perencanaan regulatory yang tepat, semakin banyak elemen bisnis yang dapat menghadapi risiko apabila muncul masalah kepatuhan.

Gunakan pola bisnis yang lebih terstruktur:

Validate Product → Prepare Legal Requirements → Produce → Build Inventory → Market

izin BPOM kosmetik
izin BPOM kosmetik

Dengan demikian, brand owner dapat mengembangkan investasi secara bertahap mengikuti kesiapan produk.

6. Mendukung Distribusi dan Pengembangan Bisnis

Brand yang ingin berkembang tidak hanya memikirkan penjualan pertama. Seiring pertumbuhan bisnis, pemilik brand mungkin ingin memperluas jaringan reseller, distributor, marketplace, toko kosmetik, retail, atau kanal pemasaran lainnya.

Legalitas produk menjadi bagian penting dalam membangun fondasi bisnis tersebut. Semakin besar jaringan distribusi, semakin penting bagi brand untuk menjaga konsistensi dokumen, produk, kemasan, informasi, dan kepatuhan.

Karena itu, brand owner sebaiknya mempersiapkan legalitas sejak mengembangkan produk pertama:

Legal Product → Distribution Readiness → Market Expansion → Brand Growth

Namun, BPOM bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan bisnis. Brand owner juga perlu mengelola formula, mutu, positioning, pricing, pemasaran, distribusi, dan pengalaman konsumen secara bersamaan.

7. Membantu Brand Membangun Kredibilitas Jangka Panjang

Konsumen semakin mudah mencari informasi mengenai kosmetik. Mereka dapat mengecek produk melalui database BPOM, membaca komposisi, membandingkan brand, melihat ulasan, dan mencari informasi perusahaan hanya melalui smartphone.

Karena itu, brand perlu membangun kredibilitas melalui proses yang konsumen dapat verifikasi. Klaim “aman”, “premium”, atau “berkualitas” dalam materi pemasaran tidak menggantikan legalitas maupun quality control.

Fondasi yang lebih kuat adalah:

Formula → Manufacturing → Legal Compliance → QC → Transparent Information → Consumer Experience

Brand kemudian membangun kredibilitas melalui konsistensi antara janji perusahaan dan produk yang konsumen terima.

Apa Dampaknya Jika Kosmetik Belum Memiliki Izin BPOM?

Brand owner sebaiknya tidak memasarkan kosmetik sebelum produk memenuhi persyaratan legal untuk beredar. Risikonya bukan hanya masalah “belum punya nomor BPOM”. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi stok, distribusi, aktivitas pemasaran, serta keberlanjutan bisnis.

Data pengawasan terbaru memperlihatkan bahwa BPOM masih aktif menemukan kosmetik ilegal. Dalam pengawasan serentak pada Mei 2026, BPOM menemukan 2.205 item atau lebih dari 2,1 juta pieces kosmetik yang tidak memenuhi ketentuan dengan nilai keekonomian sekitar Rp35,8 miliar. Dari hasil pemeriksaan tersebut, kosmetik ilegal mencapai 86,83%. POM

Dalam pengawasan online, BPOM juga menemukan 9.042 tautan yang melanggar ketentuan dengan estimasi nilai keekonomian Rp260,7 miliar. Kosmetik ilegal mendominasi pelanggaran pada tautan tersebut sebesar 95,24%. Angka tersebut hanya menggambarkan hasil intensifikasi pengawasan terhadap target pemeriksaan dan tidak berarti bahwa 95,24% dari seluruh kosmetik online di Indonesia ilegal.

Bagi brand owner, beberapa konsekuensi yang perlu mereka pertimbangkan antara lain:

  • BPOM dapat mengambil tindakan pengawasan terhadap produk;
  • BPOM dapat memerintahkan penarikan atau pemusnahan produk sesuai hasil pengawasan;
  • BPOM dapat menghentikan sementara kegiatan sesuai jenis pelanggaran dan sanksi yang relevan;
  • stok dan packaging yang sudah tersedia dapat menimbulkan kerugian;
  • masalah kepatuhan dapat mengganggu jadwal launching dan distribusi;
  • biaya pemasaran yang sudah keluar dapat kehilangan efektivitas;
  • masalah produk dapat memengaruhi reputasi dan kepercayaan konsumen.

Karena itu, brand owner sebaiknya tidak bertanya, “Bisakah kami menjual produk terlebih dahulu sambil menunggu BPOM?” Pertanyaan yang lebih tepat adalah, “Apa yang perlu kami persiapkan agar produk dapat memasuki pasar melalui proses yang sesuai?”

Apakah BPOM Menjamin Kosmetik Pasti Aman?

Notifikasi BPOM merupakan bagian penting dari sistem regulasi kosmetika. Namun, brand owner tidak boleh menjadikan satu nomor sebagai pengganti seluruh proses mutu. Pengembangan kosmetik tetap mencakup bahan, formula, fasilitas produksi, proses manufaktur, quality control, penandaan, penyimpanan, serta pengawasan setelah produk masuk ke pasar.

Pengawasan BPOM menunjukkan pentingnya aspek tersebut. Pada triwulan II 2026, BPOM menemukan 14 kosmetik yang mengandung bahan berbahaya dan/atau bahan terlarang. Dari hasil pengujian tersebut, 11 produk berasal dari kontrak produksi lokal, satu merupakan produk impor, dan dua lainnya merupakan produk ilegal.

Temuan tersebut memberikan pengingat penting bagi brand owner:

BPOM Notification ≠ Alasan Mengabaikan Quality Control

Proses yang lebih lengkap adalah:

Formula Compliance → Manufacturing → BPOM → QC → Distribution → Post-Market Monitoring

Karena itu, brand owner tetap perlu memperhatikan partner produksi, transparansi formula, standar manufaktur, dan quality control ketika membangun brand kosmetik.

Kapan Brand Owner Sebaiknya Mempersiapkan BPOM dalam Proses Maklon?

Brand owner sebaiknya memasukkan persiapan legalitas sejak tahap awal pengembangan, meskipun pengajuan notifikasi memiliki tahapan dan dokumen tersendiri. Sebelum menentukan jadwal produksi dan launching, brand owner perlu membicarakan kategori produk, formula, sampel, packaging, klaim, serta kebutuhan regulatory dengan partner maklon.

EFBA Kosmetindo mempublikasikan proses pengembangan yang menghubungkan konsultasi, R&D, sampel, packaging, HKI/BPOM, produksi, dan distribusi. Melalui situs resminya, EFBA Kosmetindo juga menjelaskan tahapan legalitas agar brand memahami persiapan yang perlu mereka selesaikan sebelum memasukkan produk ke pasar. Pasted markdown

Secara sederhana:

Ide Produk → Konsultasi & Product Concept → R&D Formula → Sample & Revision → Sample Approval → Packaging Preparation → Regulatory & BPOM Preparation → Production → Quality Control → Product Launch

Dengan alur tersebut, brand owner dapat memahami hubungan antara pengembangan produk, legalitas, produksi, dan kesiapan pasar secara lebih jelas.

Data Resmi BPOM: Kosmetik Ilegal Masih Menjadi Perhatian

Data 2026 memperlihatkan mengapa brand owner tidak sebaiknya menganggap legalitas sebagai formalitas. BPOM melakukan intensifikasi pengawasan kosmetik secara nasional pada 11–22 Mei 2026 dan memeriksa 190 sarana. Dari pemeriksaan tersebut, BPOM menemukan 128 sarana yang tidak memenuhi ketentuan serta 2.205 item yang terdiri atas lebih dari 2,1 juta pieces kosmetik.

Kosmetik ilegal mencapai 86,83% dari temuan pada sarana tersebut. Selanjutnya, kosmetik impor tanpa surat keterangan impor mencapai 12,58%, kosmetik yang mengandung bahan berbahaya atau terlarang mencapai 0,32%, sedangkan produk dengan penggunaan yang tidak sesuai definisi kosmetik mencapai 0,27%.

Setelah menemukan pelanggaran, BPOM menerapkan tindak lanjut administratif sesuai jenis pelanggaran. Tindakan tersebut mencakup penarikan, pemusnahan, penghentian sementara kegiatan, dan pencabutan izin edar. Pasted markdown

Di sisi lain, database Cek Produk BPOM pada awal Oktober 2026 mencatat sekitar 372 ribu kosmetik dengan registrasi yang masih berlaku. Masyarakat dapat menggunakan database regulator tersebut untuk melakukan verifikasi produk.

Data ini tidak berarti bahwa konsumen dapat langsung mengambil kesimpulan terhadap setiap produk yang tidak muncul dalam hasil pencarian tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Namun, pesannya jelas bagi brand owner: masukkan persiapan legalitas dan kepatuhan ke dalam strategi produk sebelum memasuki pasar.

Bagaimana Konsumen Mengecek Izin BPOM Kosmetik?

Konsumen dapat menggunakan layanan resmi Cek Produk BPOM. Sistem menyediakan pencarian menggunakan nama produk, merek, NIE atau nomor registrasi, dan nama pendaftar.

Pada halaman kosmetika, pengguna juga dapat menggunakan filter nomor registrasi, nama produk, merek, kemasan, bentuk sediaan, komposisi, tanggal permohonan, tanggal terbit, tanggal expired, nama pendaftar, dan status.

Alurnya:

Produk → Temukan Nomor/Nama/Merek → Cek Database BPOM → Cocokkan Data → Periksa Status

Brand owner perlu memahami bahwa konsumen dapat melakukan pemeriksaan tersebut secara mandiri. Karena itu, brand sebaiknya menyampaikan informasi legalitas secara transparan dan memastikan kesesuaiannya dengan produk yang mereka pasarkan.

Expertise EFBA Kosmetindo dalam Persiapan Produk Kosmetik

EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan pengembangan dan maklon kosmetik yang mencakup proses dari ide hingga persiapan produk. Website resminya menjelaskan dukungan legalitas, termasuk HKI dan BPOM. EFBA Kosmetindo juga menempatkan legalitas sebagai salah satu tahapan penting sebelum brand memasukkan produk ke pasar.

EFBA Kosmetindo menyatakan pengalaman di industri maklon sejak 2020, lebih dari 150 brand client, serta produksi lebih dari 450 ribu produk. Angka tersebut berasal dari informasi yang EFBA Kosmetindo cantumkan pada situs resminya. Karena itu, artikel ini menempatkan angka tersebut sebagai data perusahaan dan bukan statistik independen dari BPOM. Pasted markdown

Untuk pengembangan skincare, halaman Maklon Skincare EFBA Kosmetindo menjelaskan pengalaman perusahaan dalam mendampingi brand mengembangkan dan memproduksi kosmetik. Sementara itu, melalui halaman Maklon Kosmetik EFBA Kosmetindo, perusahaan menjelaskan layanan produksi, formulasi, dan pengurusan izin sebagai bagian dari layanan maklon.

Untuk topik legalitas, brand owner juga dapat membaca artikel Jasa Maklon Kosmetik BPOM untuk Brand Legal. Dalam artikel tersebut, EFBA Kosmetindo menggunakan alur:

Concept → R&D → Sample → Regulatory Preparation → BPOM → Production → Quality Control → Launch

Berdasarkan informasi pada website resminya, expertise EFBA Kosmetindo mencakup:

Konsultasi → R&D → Formula → Sample → Packaging → Legalitas → BPOM → Production → QC → Distribution

EFBA Kosmetindo merupakan bagian dari ekosistem PT EFBA Digital Mulia yang mengembangkan layanan bisnis dalam lingkup EFBA Group.

izin BPOM kosmetik
izin BPOM kosmetik

Apa yang Perlu Disiapkan Brand Sebelum Mengurus BPOM?

Brand owner sebaiknya tidak langsung memulai dari pertanyaan tentang nomor BPOM. Pertama, tentukan konsep produk dan pastikan pengembangan formula, sampel, packaging, serta aspek regulatory berjalan dalam satu perencanaan.

Checklist awal yang dapat digunakan meliputi:

  1. Tentukan kategori dan konsep produk.
  2. Tentukan target konsumen dan positioning.
  3. Kembangkan formula bersama tim R&D.
  4. Evaluasi dan setujui sampel.
  5. Pastikan bahan dan formula memperhatikan ketentuan yang berlaku.
  6. Persiapkan nama brand dan kebutuhan HKI.
  7. Finalisasi model packaging.
  8. Persiapkan informasi dan penandaan produk.
  9. Siapkan kebutuhan regulatory dan notifikasi BPOM.
  10. Susun timeline produksi setelah tahapan terkait siap.
  11. Lakukan quality control.
  12. Persiapkan distribusi dan launching.

Tidak semua tahapan harus berjalan sepenuhnya secara linear karena beberapa pekerjaan dapat berlangsung paralel. Namun, brand owner tetap perlu memastikan keputusan produksi dan pemasaran mengikuti kesiapan produk serta legalitasnya.

FAQ tentang Izin BPOM Kosmetik

Apa itu izin BPOM kosmetik?

Istilah “izin BPOM kosmetik” umum digunakan untuk membicarakan legalitas kosmetik, sedangkan regulasi BPOM menggunakan istilah notifikasi kosmetika. Tata cara pengajuan notifikasi saat ini diatur melalui PerBPOM Nomor 21 Tahun 2022 dan peraturan tersebut masih berstatus berlaku. JDIH Biro Hukum dan Organisasi

Apakah kosmetik harus memiliki BPOM sebelum dijual?

Kosmetik perlu memenuhi ketentuan legal yang berlaku sebelum diedarkan. Karena itu, brand owner sebaiknya menempatkan notifikasi BPOM sebagai bagian dari proses sebelum pemasaran, bukan baru mengurusnya setelah produk telanjur beredar.

Apa risiko menjual kosmetik yang belum memiliki BPOM?

Produk yang tidak memenuhi ketentuan dapat menjadi objek tindakan pengawasan. Dalam intensifikasi 2026, BPOM menerapkan tindak lanjut administratif terhadap pelanggaran yang dapat berupa penarikan, pemusnahan, penghentian sementara kegiatan, hingga pencabutan izin edar sesuai kasusnya. POM

Apakah boleh produksi kosmetik sebelum BPOM terbit?

Brand owner perlu membedakan pengembangan atau persiapan produksi dengan peredaran produk kepada konsumen. Urutan teknis dapat bergantung pada proses maklon dan kebutuhan regulatory, tetapi produk tidak sebaiknya dipasarkan sebelum memenuhi persyaratan legal yang berlaku. Untuk timeline aktual, koordinasikan formula, sampel, packaging, regulatory, produksi, dan jadwal launching dengan partner maklon.

Berapa lama izin BPOM kosmetik diproses?

Waktu aktual dapat dipengaruhi jenis pengajuan, kesiapan dokumen, formula, hasil verifikasi, revisi, serta kondisi proses pada sistem BPOM. Karena itu, brand owner sebaiknya tidak menentukan tanggal launching hanya berdasarkan estimasi umum tanpa mengecek kesiapan pengajuan produknya.

Bagaimana cara mengecek kosmetik sudah BPOM atau belum?

Gunakan database resmi Cek Produk BPOM, kemudian cari menggunakan nomor registrasi, nama produk, atau merek. Cocokkan informasi produk, pendaftar, dan status yang muncul dengan produk yang diperiksa. Cek BPOM

Apakah produk yang sudah BPOM tidak perlu quality control?

Tetap perlu. Notifikasi BPOM tidak menggantikan kebutuhan pengendalian mutu. Temuan pengawasan BPOM tahun 2026 menunjukkan pentingnya pengawasan berkelanjutan terhadap kosmetik, termasuk produk kontrak produksi. POM

Apakah EFBA Kosmetindo membantu proses BPOM?

Website resmi EFBA Kosmetindo menyebut dukungan kebutuhan legalitas produk termasuk HKI dan BPOM sebagai bagian dari pendampingan pengembangan kosmetik. Proses yang dipublikasikan juga mencakup konsultasi, R&D, sampel, packaging, legalitas, produksi, dan distribusi. Efbakosmetindo

logo efba kosmetindo

Persiapkan Legalitas Sebelum Produk Kosmetik Masuk Pasar

Izin BPOM kosmetik sebaiknya dipersiapkan sebagai bagian dari pengembangan produk, bukan setelah produk telanjur dipasarkan. Brand owner perlu menghubungkan konsep, formula, sampel, packaging, regulatory preparation, produksi, quality control, dan strategi launching dalam satu proses yang terencana.

Pendekatan sederhananya:

Idea → Formula → Sample → Packaging → Legalitas → BPOM → Production → QC → Launch

Dengan alur tersebut, brand dapat mengurangi risiko keputusan produksi atau pemasaran yang terlalu dini. Selain itu, owner memiliki waktu untuk memahami produk, mengevaluasi sampel, menyiapkan packaging, menyelesaikan kebutuhan regulatory, dan menentukan jadwal launching berdasarkan kesiapan aktual.

EFBA Kosmetindo mempublikasikan pendampingan pengembangan kosmetik mulai dari konsultasi, R&D dan formula, sampel, packaging, kebutuhan legalitas termasuk BPOM, hingga produksi dan distribusi. Brand owner yang sedang mempersiapkan skincare atau kosmetik dapat mempelajari layanan Maklon Kosmetik EFBA Kosmetindo untuk merencanakan proses pengembangan produk sebelum memasuki pasar.

Cara Cek Kosmetik BPOM untuk Memastikan Produk Memiliki Izin Edar

cara cek kosmetik BPOM
cara cek kosmetik BPOM

Membeli skincare atau kosmetik tidak sebaiknya hanya mempertimbangkan popularitas produk, review influencer, harga murah, atau tampilan kemasan. Konsumen juga perlu memeriksa nomor notifikasi kosmetika BPOM dan mencocokkan informasi tersebut dengan produk yang mereka gunakan. Lalu, bagaimana cara cek kosmetik BPOM dengan benar?

Konsumen dapat melakukan cara cek kosmetik BPOM melalui layanan resmi Cek Produk BPOM. Pengguna dapat mencari produk berdasarkan nomor registrasi atau notifikasi, nama produk, merek, nama pendaftar, serta beberapa parameter lain dalam sistem. Per September 2026, database resmi BPOM menampilkan lebih dari 372 ribu kosmetik dengan registrasi yang masih berlaku. Karena itu, konsumen dapat menjadikan database tersebut sebagai rujukan utama untuk melakukan pengecekan. Cek BPOM

Pengecekan menjadi semakin penting karena BPOM masih menemukan kosmetik ilegal dalam jumlah besar. Dalam intensifikasi pengawasan pada 11–22 Mei 2026, BPOM menemukan lebih dari 2,1 juta pieces kosmetik yang tidak memenuhi ketentuan pada sarana yang mereka periksa, dengan nilai keekonomian sekitar Rp35,8 miliar. POM

Bagi brand owner, legalitas juga perlu masuk ke dalam proses pengembangan produk sejak awal. EFBA Kosmetindo mempublikasikan proses maklon yang mencakup diskusi produk, R&D dan sampel, desain serta packaging, pendaftaran merek, dukungan pendaftaran varian produk ke BPOM, produksi setelah klien menyetujui sampel, hingga distribusi produk jadi.

Bagaimana Cara Cek Kosmetik BPOM?

Cara paling aman adalah memeriksa produk melalui database resmi BPOM. Jangan hanya mempercayai nomor pada kemasan atau informasi yang penjual cantumkan di marketplace. Situs Cek Produk BPOM menyediakan pencarian berdasarkan nomor registrasi, nama produk, merek, nama pendaftar, dan komposisi. Cek BPOM

Alurnya sederhana:

Produk Kosmetik → Temukan Nama/Merek/Nomor Notifikasi → Cek Database BPOM → Cocokkan Informasi → Periksa Status

Jangan menghentikan pengecekan setelah menemukan nomor. Konsumen perlu mencocokkan informasi dalam database dengan produk yang mereka pegang. Sebab, nomor yang terlihat meyakinkan belum tentu berkaitan dengan produk tersebut.

1. Buka Website Resmi Cek Produk BPOM

Langkah pertama adalah membuka layanan resmi Cek Produk BPOM. Hindari menggunakan situs tidak resmi, unggahan media sosial, atau informasi seller sebagai satu-satunya dasar untuk memeriksa legalitas produk.

Pada halaman tersebut, BPOM menyediakan fitur pencarian produk untuk masyarakat. Database mencakup beberapa kategori produk, termasuk kosmetik. Oleh karena itu, konsumen dapat melakukan pemeriksaan secara mandiri melalui layanan tersebut.

Untuk pencarian yang lebih spesifik, BPOM juga menyediakan halaman khusus Daftar Produk Kosmetika BPOM. Pengguna dapat memanfaatkan filter yang lebih terperinci untuk menemukan produk yang ingin mereka periksa.

2. Masukkan Nomor Notifikasi atau Nama Produk

Selanjutnya, masukkan informasi produk ke kolom pencarian. BPOM menyediakan pilihan pencarian menggunakan nama produk, merek, nomor izin edar atau registrasi, nama pendaftar, dan komposisi.

Jika kemasan mencantumkan nomor notifikasi, gunakan nomor tersebut terlebih dahulu agar pencarian lebih spesifik. Jika nomor tersebut tidak memberikan hasil yang sesuai, konsumen dapat mencoba nama produk atau merek.

Halaman kosmetika BPOM juga menyediakan filter Nomor Registrasi, Nama Produk, Merek, Kemasan, Bentuk Sediaan, Komposisi, Tanggal Permohonan, Tanggal Terbit, Tanggal Expired, Nama Pendaftar, dan Status.

3. Cocokkan Nama dan Merek Produk

Menemukan sebuah nomor di database belum cukup. Selanjutnya, cocokkan nama produk dan merek dalam database dengan kosmetik yang Anda periksa.

Langkah ini penting agar konsumen tidak langsung menganggap sebuah produk legal hanya karena nomor BPOM menghasilkan hasil pencarian. Pastikan informasi dalam database benar-benar merujuk pada produk yang sama.

Gunakan pola:

Nomor Ditemukan → Cocokkan Nama Produk → Cocokkan Merek → Cocokkan Pendaftar → Periksa Status

Jika menemukan perbedaan yang mencurigakan antara produk fisik dan informasi resmi, jangan langsung menyimpulkan bahwa BPOM telah memverifikasi produk tersebut.

4. Periksa Nama Pendaftar

Database BPOM juga menampilkan nama pendaftar. Informasi ini memberikan konteks mengenai pihak yang terkait dengan notifikasi produk tersebut.

Konsumen dapat membandingkan nama pendaftar dengan informasi relevan pada produk. Sementara itu, brand owner perlu memahami struktur pihak yang terlibat dalam produksi dan notifikasi sejak awal, khususnya ketika menggunakan sistem maklon.

PerBPOM Nomor 21 Tahun 2022 mengatur Tata Cara Pengajuan Notifikasi Kosmetika. Berdasarkan informasi JDIH BPOM pada pengecekan yang menjadi dasar artikel ini, regulasi tersebut masih mencantumkan status berlaku. Regulasi tersebut juga mengatur mekanisme kosmetika kontrak. JDIH Biro Hukum dan Organisasi

5. Periksa Status dan Masa Berlaku pada Database

Jangan hanya memastikan bahwa produk pernah muncul dalam database. Periksa juga status dan informasi masa berlaku melalui sistem BPOM.

Halaman kosmetika BPOM menyediakan filter berdasarkan status serta tanggal expired. Dengan demikian, konsumen dapat memperoleh informasi yang lebih lengkap daripada sekadar melihat nomor pada kemasan.

Prinsipnya:

Ada Nomor ≠ Pemeriksaan Selesai

Sebaliknya, lakukan pengecekan dengan alur:

Nomor → Produk → Merek → Pendaftar → Status → Cocokkan Informasi

Pendekatan ini membantu konsumen memverifikasi produk secara lebih teliti.

cara cek kosmetik BPOM
cara cek kosmetik BPOM

Apa Itu Nomor Notifikasi BPOM pada Kosmetik?

Dalam konteks kosmetik, istilah yang lebih tepat adalah notifikasi kosmetika. PerBPOM Nomor 21 Tahun 2022 mengatur tata cara pengajuan notifikasi kosmetika. Saat artikel ini disusun, JDIH BPOM masih mencantumkan peraturan tersebut dengan status berlaku.

Materi edukasi BPOM menjelaskan bahwa nomor notifikasi kosmetik menggunakan awalan yang menunjukkan wilayah, misalnya NA untuk negara di benua Asia, kemudian rangkaian angka mengikutinya. Materi BPOM tersebut juga menjelaskan struktur angka yang antara lain mewakili kode negara, tahun notifikasi, jenis produk, dan nomor urut.

Namun, konsumen tidak perlu menghafalkan struktur nomor untuk melakukan pemeriksaan. Langkah terpenting tetap memasukkan nomor tersebut ke database resmi dan mencocokkan hasilnya dengan produk.

Karena itu, ketika menemukan tulisan seperti:

No. Notifikasi: NAxxxxxxxxxxx

jangan langsung menganggap produk legal hanya karena formatnya terlihat benar.

Lakukan:

Nomor pada Kemasan → Database BPOM → Hasil Pencarian → Cocokkan Produk

Mengapa Kosmetik Perlu Memiliki Notifikasi BPOM?

Notifikasi BPOM merupakan bagian penting dari sistem pengawasan kosmetik di Indonesia. Dalam pengawasan 2026, BPOM menegaskan kewajiban pelaku usaha untuk memastikan kosmetik yang mereka produksi, impor, dan distribusikan memiliki izin edar serta memenuhi persyaratan keamanan, manfaat, dan mutu.

Bagi konsumen, keberadaan produk pada database resmi memberikan dasar verifikasi yang jauh lebih kuat daripada sekadar mengandalkan klaim penjual. Sementara itu, brand owner perlu memasukkan notifikasi sebagai salah satu bagian penting dalam persiapan produk sebelum memasuki pasar.

Namun, nomor notifikasi bukan alasan untuk mengabaikan aspek lain. Brand owner tetap perlu memperhatikan formula, bahan kosmetik, proses manufaktur, quality control, penandaan, penyimpanan, dan kepatuhan produk selama proses pengembangan kosmetik.

Karena itu, brand owner dapat menggunakan alur pengembangan berikut:

Concept → Formula → Sample → Regulatory Preparation → BPOM Notification → Production → Quality Control → Market

Apa Bedanya Kosmetik BPOM dan Kosmetik Tanpa Izin Edar?

Konsumen dapat melihat perbedaan paling mendasar melalui keberadaan produk dan statusnya dalam sistem resmi. Konsumen dapat menelusuri kosmetik yang memiliki notifikasi melalui database BPOM. Sebaliknya, kosmetik tanpa izin edar tidak memiliki dasar legal yang sama untuk beredar di pasar.

BPOM memperingatkan bahwa konsumen tidak dapat mengandalkan keamanan maupun mutu kosmetik tanpa izin edar. Risiko ini menjadi alasan konsumen sebaiknya tidak membeli produk hanya karena harganya murah, viral, memiliki banyak ulasan, atau tersedia melalui marketplace besar.

Marketplace juga bukan bukti legalitas. Pada 2026, BPOM menemukan pelanggaran kosmetik dalam jumlah besar melalui kanal online. Karena itu, konsumen tetap perlu melakukan pengecekan sendiri.

Gunakan prinsip:

  • Viral ≠ Terdaftar BPOM
  • Banyak Review ≠ Terdaftar BPOM
  • Tersedia di Marketplace ≠ Otomatis Terdaftar BPOM
  • Verifikasi Database BPOM = Langkah Pemeriksaan yang Tepat

Bagaimana Jika Nomor BPOM Tidak Ditemukan?

Jika nomor pada kosmetik tidak menghasilkan data yang sesuai, periksa kembali susunan angka dan hurufnya. Setelah itu, coba gunakan nama produk atau merek untuk melakukan pencarian melalui database kosmetika BPOM.

Jangan langsung mengubah atau menebak nomor agar hasil pencarian muncul. Jika pencarian tetap tidak memberikan hasil atau sistem menampilkan informasi yang berbeda dari produk, lakukan pemeriksaan lebih lanjut sebelum membeli atau menggunakan kosmetik.

Konsumen juga perlu memperhatikan beberapa kondisi berikut:

  • pencarian nomor pada kemasan tidak memberikan hasil;
  • nomor menghasilkan nama produk yang berbeda;
  • merek tidak sesuai;
  • informasi pendaftar berbeda dari produk;
  • konsumen masih perlu memverifikasi status produk;
  • kemasan atau informasi produk tidak konsisten dengan data resmi.

Apabila masih ragu, gunakan kanal resmi BPOM untuk mendapatkan informasi lebih lanjut daripada hanya meminta penjelasan dari penjual.

Apakah Produk yang Dijual Online Tetap Harus Memiliki Izin Edar?

Ya. Penjualan melalui marketplace, media sosial, live shopping, atau website tidak menghilangkan kewajiban pelaku usaha terhadap ketentuan peredaran kosmetik.

BPOM secara khusus meningkatkan pengawasan terhadap perdagangan kosmetik melalui media digital. Dalam intensifikasi pengawasan online pada Mei 2026, BPOM memeriksa 9.617 tautan dan menemukan 9.042 tautan atau 94,02% tidak memenuhi ketentuan, dengan estimasi nilai keekonomian Rp260,7 miliar. Kosmetik tanpa izin edar mendominasi pelanggaran tersebut dengan porsi 95,24%. Pasted markdown

Data tersebut tidak berarti bahwa 94,02% dari seluruh kosmetik online di Indonesia ilegal. Angka tersebut berasal dari tautan yang menjadi sasaran intensifikasi pengawasan BPOM. Karena itu, pembaca perlu mempertahankan konteks populasinya.

Bagi konsumen, temuan tersebut memberikan satu pesan praktis: jangan menjadikan keberadaan produk di marketplace sebagai bukti legalitas.

Data Resmi BPOM: Mengapa Pengecekan Kosmetik Penting?

Data BPOM terbaru memperlihatkan bahwa isu kosmetik ilegal masih relevan pada 2026. Dalam pengawasan serentak pada 11–22 Mei 2026, BPOM memeriksa 190 sarana dan menemukan 128 sarana yang tidak memenuhi ketentuan. Petugas menemukan 2.205 item atau 2.127.765 pieces dengan nilai keekonomian sekitar Rp35,8 miliar.

Kosmetik tanpa izin edar mendominasi temuan pada sarana tersebut sebesar 86,83%. Selanjutnya, kosmetik impor tanpa surat keterangan impor mencapai 12,58%, kosmetik yang mengandung bahan berbahaya atau terlarang mencapai 0,32%, sedangkan kosmetik dengan penggunaan yang tidak sesuai definisi kosmetik mencapai 0,27%.

Dalam pengawasan rutin triwulan II 2026, BPOM juga menemukan 14 kosmetik yang mengandung bahan berbahaya dan/atau bahan terlarang. Sebelas produk berasal dari produksi kontrak lokal, satu merupakan produk impor, sedangkan dua lainnya tidak memiliki izin edar.

Data tersebut menunjukkan bahwa konsumen dan brand owner perlu memahami legalitas dan pengawasan mutu sebagai bagian dari sistem yang lebih luas. Konsumen perlu mengecek izin edar. Sementara itu, brand owner perlu memperhatikan formula, bahan, fasilitas produksi, quality control, penandaan, dan kepatuhan produk secara menyeluruh.

Apa Saja Aturan BPOM yang Relevan untuk Kosmetik?

Untuk artikel ini, regulasi utama terkait notifikasi adalah Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2022 tentang Tata Cara Pengajuan Notifikasi Kosmetika. Pada 2026, JDIH BPOM masih mencantumkan peraturan tersebut dengan status berlaku.

Selain itu, PerBPOM Nomor 18 Tahun 2024 tentang Penandaan, Promosi, dan Iklan Kosmetik juga berstatus berlaku. Peraturan tersebut menggantikan ketentuan sebelumnya mengenai persyaratan teknis penandaan kosmetika dan pengawasan periklanan kosmetika.

Untuk bahan kosmetik, JDIH BPOM mencantumkan PerBPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik dengan status berlaku. Peraturan tersebut mencabut PerBPOM Nomor 23 Tahun 2019 beserta perubahan tahun 2022 mengenai persyaratan teknis bahan kosmetika.

Sementara itu, JDIH BPOM juga mencantumkan PerBPOM Nomor 16 Tahun 2024 tentang Batas Cemaran dalam Kosmetik dengan status berlaku.

Artinya, brand owner sebaiknya tidak melihat BPOM hanya sebagai satu nomor pada akhir proses. Brand owner perlu memperhatikan berbagai aspek kepatuhan sejak tahap formula dan bahan hingga penandaan dan peredaran.

Mengapa Brand Owner Harus Memikirkan BPOM Sejak Pengembangan Produk?

Brand owner terkadang mengembangkan produk, menentukan kemasan, merancang klaim pemasaran, dan menyiapkan launching terlebih dahulu sebelum memikirkan legalitas. Pola seperti ini dapat menghambat proses pengembangan ketika tim harus menyesuaikan formula, informasi produk, atau aspek lainnya.

Karena itu, brand owner sebaiknya menempatkan regulatory preparation di dalam alur pengembangan sejak awal:

Product Idea → Formula → Sample → Packaging → Regulatory Preparation → BPOM → Production → QC → Launch

Dengan pola tersebut, tim dapat menyelaraskan diskusi tentang formula, bahan, bentuk sediaan, klaim, penandaan, dan packaging dengan kebutuhan pengembangan produk.

Hal ini juga relevan bagi bisnis yang menggunakan perusahaan maklon. Brand owner tidak perlu membangun fasilitas manufaktur sendiri. Namun, mereka tetap perlu mengetahui pihak yang memproduksi produk serta memahami tahapan pengembangan dan proses legalitasnya.

Expertise EFBA Kosmetindo dalam Pengembangan Kosmetik dan BPOM

EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan pengembangan dan maklon kosmetik untuk pemilik brand yang ingin membuat produk melalui pihak ketiga. Berdasarkan website resminya, tim memulai proses maklon dengan mendiskusikan kebutuhan produk. Selanjutnya, tim R&D membuat sampel, tim mengembangkan desain produk dan packaging, serta memberikan dukungan untuk pendaftaran merek dan varian produk ke BPOM. Setelah klien menyetujui sampel, tim melanjutkan produksi hingga distribusi produk jadi. Pasted markdown

EFBA Kosmetindo juga mempublikasikan pengalaman di industri maklon sejak 2020, lebih dari 150 brand client, dan produksi lebih dari 450 ribu produk. Website perusahaan menjadi sumber angka tersebut. Karena itu, artikel ini menempatkannya sebagai klaim pengalaman yang EFBA Kosmetindo publikasikan, bukan sebagai statistik independen dari BPOM.

Untuk brand yang ingin mengembangkan skincare, halaman Maklon Skincare EFBA Kosmetindo menjelaskan pendampingan produksi, izin, formulasi, dan pengembangan produk. Sementara itu, layanan Maklon Kosmetik EFBA Kosmetindo mencakup pengembangan berbagai kategori kosmetik melalui sistem maklon.

EFBA Kosmetindo juga mempublikasikan artikel khusus mengenai Jasa Maklon Kosmetik BPOM untuk Brand Legal. Artikel tersebut membahas hubungan antara konsep produk, formula, sampel, brand dan packaging, legalitas, notifikasi BPOM, produksi, quality control, hingga produk siap masuk ke pasar.

Dengan demikian, website EFBA Kosmetindo menunjukkan expertise melalui alur:

Konsultasi Produk → R&D & Formula → Sample → Design & Packaging → HKI → BPOM → Production → Distribution

Ekosistem perusahaan juga terhubung dengan PT EFBA Digital Mulia untuk layanan bisnis yang lebih luas.

cara cek kosmetik BPOM
cara cek kosmetik BPOM

Bisa. Di bagian ini masih ada beberapa pola pasif yang kemungkinan besar terbaca Yoast, terutama “sedang diperiksa”, “digunakan”, “tercetak”, “diasumsikan”, “diikuti”, “dimasukkan”, “ditemukan”, “dijual”, “diedarkan”, “ditempatkan”, “disiapkan”, dan “dipublikasikan”.

Gunakan versi FIX berikut untuk mengganti section lama:

Checklist Cek Kosmetik Sebelum Membeli

Konsumen tidak harus memahami seluruh regulasi kosmetik untuk melakukan pemeriksaan dasar. Namun, kebiasaan memeriksa informasi produk dapat membantu konsumen membuat keputusan yang lebih terukur sebelum membeli.

Gunakan checklist berikut:

  1. Periksa nama produk.
  2. Periksa merek.
  3. Cari nomor notifikasi pada kemasan.
  4. Masukkan nomor tersebut ke Cek Produk BPOM.
  5. Cocokkan hasil pencarian dengan nama produk.
  6. Cocokkan merek pada database dengan kemasan.
  7. Periksa nama pendaftar.
  8. Periksa status produk pada database.
  9. Perhatikan informasi pada kemasan.
  10. Jangan menganggap produk legal hanya karena viral atau tersedia di marketplace.

Ringkasnya:

Lihat Produk → Cari Nomor → Cek BPOM → Cocokkan Data → Periksa Status → Baru Putuskan

FAQ tentang Cara Cek Kosmetik BPOM

Bagaimana cara cek kosmetik BPOM?

Buka layanan resmi Cek Produk BPOM, kemudian masukkan nomor registrasi atau notifikasi, nama produk, atau merek. Setelah sistem menampilkan hasil pencarian, cocokkan nama produk, merek, pendaftar, dan status dengan kosmetik yang Anda periksa. Cek BPOM

Di mana cek nomor BPOM kosmetik yang asli?

Gunakan website resmi Cek Produk BPOM. Jadikan database resmi sebagai rujukan utama daripada hanya mempercayai informasi seller, marketplace, media sosial, atau nomor BPOM pada kemasan.

Apakah nomor BPOM pada kemasan pasti asli?

Belum tentu. Jangan langsung menganggap nomor tersebut asli hanya karena tercantum pada kemasan. Masukkan nomor ke database BPOM, kemudian cocokkan hasilnya dengan nama produk, merek, pendaftar, serta status produk.

Apa arti NA pada nomor BPOM kosmetik?

Materi edukasi BPOM menjelaskan bahwa kode NA menunjukkan kosmetik dari negara di benua Asia. Setelah kode tersebut, rangkaian angka membentuk struktur kode tertentu. Namun, konsumen tetap perlu memverifikasi nomor melalui database resmi. Mamuju

Bagaimana jika nomor BPOM kosmetik tidak ditemukan?

Periksa kembali nomor yang Anda masukkan, kemudian coba mencari produk berdasarkan nama atau merek. Jika sistem tetap tidak menampilkan data atau memberikan hasil yang tidak sesuai, jangan langsung menganggap produk memiliki izin edar. Gunakan kanal resmi BPOM untuk melakukan verifikasi lebih lanjut.

Apakah kosmetik yang tersedia di marketplace pasti sudah BPOM?

Tidak. Pada pengawasan perdagangan online tahun 2026, BPOM masih menemukan kosmetik tanpa izin edar. Karena itu, konsumen tetap perlu memeriksa produk melalui database BPOM meskipun marketplace besar menawarkan kosmetik tersebut. Intelijen

Mengapa izin edar BPOM penting bagi brand kosmetik?

Notifikasi menjadi bagian penting dari persyaratan peredaran kosmetik sesuai ketentuan di Indonesia. Karena itu, brand owner perlu memasukkan proses tersebut ke dalam pengembangan formula, pemilihan bahan, pembuatan sampel, packaging, produksi, quality control, dan penandaan. Pendekatan ini membantu brand owner menjalankan pengembangan produk secara lebih terstruktur. JDIH Biro Hukum dan Organisasi

Apakah EFBA Kosmetindo membantu proses BPOM?

Ya. Website resmi EFBA Kosmetindo mencantumkan dukungan pendaftaran varian produk kepada BPOM sebagai salah satu tahap proses maklon. EFBA Kosmetindo juga menjelaskan alur layanan yang mencakup konsultasi, R&D, sampel, desain dan packaging, HKI, produksi, hingga distribusi.

Perubahan yang paling penting di sini adalah mengubah pola “produk yang sedang diperiksa” → “produk yang Anda periksa”, “kode digunakan” → “kode menunjukkan”, “nomor diikuti” → “rangkaian angka membentuk”, “yang dimasukkan” → “yang Anda masukkan”, “kosmetik yang dijual” → “kosmetik yang tersedia”, serta “proses ditempatkan/disiapkan” → “brand owner memasukkan/menjalankan proses”.

logo efba kosmetindo

Bangun Produk Kosmetik dengan Legalitas yang Dipersiapkan Sejak Awal

Bagi konsumen, mengetahui cara cek kosmetik BPOM membantu memastikan bahwa informasi izin edar tidak hanya berasal dari klaim penjual. Gunakan database resmi BPOM, cari produk berdasarkan nomor atau nama, lalu cocokkan informasi yang muncul dengan kosmetik yang akan dibeli.

Bagi brand owner, pendekatannya perlu dimulai lebih awal. Legalitas bukan sesuatu yang baru dipikirkan setelah ribuan produk selesai diproduksi, melainkan bagian dari proses pengembangan bersama formula, sampel, packaging, regulatory preparation, produksi, dan quality control.

Alurnya dapat dirancang sebagai:

Idea → R&D → Formula → Sample → Packaging → Legalitas → BPOM → Production → QC → Market

EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan pendampingan mulai dari konsep produk, R&D dan sampel, desain dan packaging, HKI dan BPOM, hingga produksi serta distribusi produk jadi. Brand yang sedang merencanakan skincare, body care, atau kategori kosmetik lainnya dapat mempelajari layanan Maklon Kosmetik EFBA Kosmetindo dan Maklon Skincare EFBA Kosmetindo sebelum memulai pengembangan.

Standar Produksi Kosmetik: Dari Bahan Baku hingga Produk Siap Dipasarkan

standar produksi kosmetik
standar produksi kosmetik

Membuat produk kosmetik tidak cukup hanya dengan memiliki formula yang menarik. Brand owner juga perlu memastikan bahan baku, formulasi, fasilitas produksi, proses manufaktur, quality control, kemasan, legalitas, dan informasi produk memenuhi standar yang berlaku.

Di Indonesia, proses produksi kosmetik berkaitan erat dengan Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik atau CPKB. BPOM menjelaskan CPKB sebagai seluruh aspek kegiatan pembuatan kosmetik yang bertujuan menjaga produk agar selalu memenuhi persyaratan mutu sesuai tujuan penggunaannya. Standar OTSKK — CPKB

Karena itu, brand sebaiknya melihat pengembangan kosmetik sebagai satu rangkaian yang saling terhubung:

Product Concept → Raw Materials → Formulation → Sample → Testing → Production → Quality Control → Packaging → BPOM → Market

Bagi brand yang belum memiliki fasilitas produksi sendiri, layanan maklon dapat membantu menghubungkan berbagai tahap tersebut. EFBA Kosmetindo — Maklon Kosmetik EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan formulasi, produksi, perizinan, dan pendampingan pengembangan produk. Situs perusahaan juga menyebut fasilitas produksinya menerapkan standar CPKB. EFBA Kosmetindo

Apa Itu Standar Produksi Kosmetik?

Standar produksi kosmetik mencakup berbagai persyaratan dan pengendalian sejak perusahaan menerima bahan baku hingga produk siap dikemas dan dipasarkan.

Jadi, standar produksi tidak hanya berkaitan dengan kebersihan pabrik. Sistem tersebut juga mencakup personel, fasilitas, peralatan, bahan, dokumentasi, proses produksi, pengawasan mutu, penyimpanan, serta berbagai aspek lain yang mendukung konsistensi produk.

Selain itu, regulasi produksi terus berkembang. Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2026 tentang Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik mencabut PerBPOM No. 33 Tahun 2021 dan berlaku sejak 29 April 2026. Sementara itu, standar perizinan CPKB mengatur penerapan aspek sistem mutu CPKB serta penanggung jawab teknis sesuai ketentuan. Standar OTSKK — Peraturan BPOM

Dengan demikian, brand owner perlu melihat produksi sebagai:

Quality by Process, bukan hanya Quality by Finished Product.

Artinya, tim perlu mengendalikan kualitas sejak awal proses. Pemeriksaan produk akhir saja tidak cukup untuk menjaga konsistensi manufaktur.

1. Mulai dari Konsep Produk

Sebelum membeli bahan baku atau membuat sampel, brand perlu menentukan produk yang ingin dikembangkan.

Pertama, tentukan target konsumen, kategori produk, fungsi utama, positioning, tekstur, karakter formula, ukuran kemasan, dan target harga. Selanjutnya, gunakan informasi tersebut untuk menentukan kebutuhan formulasi serta proses produksi.

Alurnya dapat diringkas menjadi:

Target Consumer → Product Need → Product Concept → Formula → Production

Sebagai contoh, serum, moisturizer, facial wash, body lotion, hair care, dan produk dekoratif memiliki karakter formula serta proses manufaktur yang berbeda.

Oleh sebab itu, brand sebaiknya mempertimbangkan standar produksi sejak tahap konsep. Dengan cara ini, tim tidak perlu menyesuaikan terlalu banyak hal ketika produk sudah mendekati produksi massal.

2. Pilih Bahan Baku Sesuai Persyaratan Kosmetik

Bahan baku menjadi salah satu fondasi utama kualitas produk.

Karena itu, brand sebaiknya tidak memilih bahan hanya berdasarkan tren atau daya tarik marketing. Tim R&D perlu mengevaluasi fungsi, spesifikasi, kompatibilitas, konsentrasi, keamanan, stabilitas, serta ketentuan penggunaan setiap bahan.

BPOM saat ini menerapkan Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik. Regulasi tersebut menggantikan ketentuan sebelumnya dan mengatur persyaratan teknis bahan kosmetik. Standar OTSKK — PerBPOM No. 25 Tahun 2025

Selain itu, BPOM menjelaskan bahwa ketentuan tersebut mencakup bahan kosmetik yang diizinkan, dibatasi, maupun dilarang serta mengacu pada ASEAN Cosmetic Directive. Standar OTSKK — Regulasi Bahan Kosmetik

Karena itu, proses pemilihan bahan sebaiknya mengikuti alur berikut:

Product Function → Ingredient Selection → Regulatory Check → Formula Development

Dengan pendekatan tersebut, tim dapat mengembangkan formula secara lebih terarah sejak awal. Sebaliknya, memasukkan bahan yang sedang viral lalu memeriksa regulasinya belakangan dapat menimbulkan revisi yang tidak perlu.

3. Kendalikan Mutu Bahan Baku

Memilih bahan dengan nama dan fungsi yang tepat belum cukup. Brand juga perlu memperhatikan mutu bahan sebelum tim menggunakannya dalam proses produksi.

Hal ini semakin penting karena regulasi juga memperhatikan risiko penggunaan bahan baku. PerBPOM No. 26 Tahun 2025 mengatur kajian risiko penggunaan bahan baku untuk sediaan tertentu, termasuk kosmetik, sebagai bagian dari penguatan pengawasan mutu bahan baku. Standar OTSKK — Regulasi Bahan Baku

Dalam praktik manufaktur, fasilitas produksi perlu mengikuti spesifikasi dan sistem pengendalian yang berlaku.

Secara sederhana, alurnya dapat berupa:

Supplier → Raw Material → Verification → Storage → Production

Dengan demikian, kualitas produk akhir tidak hanya bergantung pada formula. Konsistensi material juga ikut menentukan hasil produksi.

4. Kembangkan Formula Sesuai Tujuan Produk

Setelah konsep dan bahan memiliki arah yang jelas, tim R&D dapat mulai mengembangkan formula.

Formula yang baik tidak harus menggunakan bahan aktif dalam jumlah banyak. Sebaliknya, formulator perlu menyeimbangkan fungsi bahan, kompatibilitas, konsentrasi, pH, tekstur, stabilitas, sensasi penggunaan, kemasan, serta kemampuan formula untuk masuk ke proses manufaktur.

Karena itu:

More Ingredients ≠ Better Product

Pendekatan yang lebih terarah adalah:

Consumer Need → Product Benefit → Ingredients → Formula → Evaluation

EFBA Kosmetindo menjelaskan bahwa proses pengembangan produk mengacu pada hasil konsultasi dan sampel yang telah disepakati. Selanjutnya, tim dapat meneruskan produk ke tahap produksi sesuai konsep dan spesifikasi yang telah direncanakan. EFBA Kosmetindo

Untuk pembahasan lebih mendalam, brand dapat melihat artikel internal mengenai formulasi skincare di EFBA Kosmetindo.

5. Buat Sampel Sebelum Produksi Massal

Formula awal belum tentu siap masuk ke produksi dalam jumlah besar.

Karena itu, tahap sampel memberi kesempatan kepada brand dan tim pengembangan untuk mengevaluasi karakter produk sebelum melanjutkan proses.

Evaluasi dapat mencakup tekstur, aroma, warna, daya sebar, sensasi penggunaan, tampilan, serta kesesuaian produk dengan konsep awal. Parameter yang digunakan tentu dapat berbeda sesuai kategori kosmetik.

Alurnya menjadi:

Formula → Sample → Evaluation → Revision → Approval

Dengan proses tersebut, brand memiliki kesempatan untuk memberikan masukan sebelum produksi massal berjalan.

EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan pengembangan produk yang mencakup formulasi dan pembuatan sampel sebagai bagian dari proses maklon kosmetik. EFBA Kosmetindo — Maklon Kosmetik

Oleh sebab itu, evaluasi sampel dapat membantu brand mengurangi risiko ketika produk memasuki tahap manufaktur.

6. Terapkan Prinsip CPKB dalam Produksi

Setelah brand menyetujui formula dan sampel, proses dapat bergerak dari tahap pengembangan menuju manufaktur.

Pada tahap tersebut, CPKB memiliki peran penting. BPOM menjelaskan bahwa CPKB mencakup seluruh aspek pembuatan kosmetik untuk menjaga produk tetap memenuhi persyaratan mutu sesuai tujuan penggunaannya. Sertifikat CPKB menunjukkan bahwa industri kosmetik telah menerapkan prinsip tersebut. Standar OTSKK — CPKB

Per Mei 2026, BPOM juga telah mempublikasikan daftar industri pemegang Sertifikat CPKB dan menerapkan ketentuan PerBPOM No. 8 Tahun 2026 mengenai sertifikasi CPKB. Daftar Industri Pemilik Sertifikat CPKB

Bagi brand owner, prinsipnya cukup sederhana:

Formula Bagus + Produksi Tidak Terkendali = Risiko

Sebaliknya:

Formula + CPKB + Quality Control = Proses Produksi Lebih Terstruktur

Karena itu, brand sebaiknya memilih fasilitas manufaktur yang dapat menjelaskan standar dan legalitas produksinya secara jelas.

7. Kendalikan Setiap Tahap Produksi

Produksi kosmetik membutuhkan konsistensi dari awal hingga akhir.

Setelah brand menyetujui sampel, tim manufaktur perlu menerjemahkan formula tersebut ke proses produksi dengan parameter dan prosedur yang sesuai dengan jenis sediaan.

Secara umum, prosesnya dapat mengikuti:

Material Preparation → Manufacturing → In-Process Control → Filling → Packaging → Quality Control

Namun, setiap kategori kosmetik dapat memiliki tahapan dan parameter yang berbeda.

EFBA Kosmetindo mempublikasikan bahwa proses produksinya mengacu pada hasil konsultasi dan sampel yang telah disepakati. Selain itu, perusahaan menawarkan berbagai kategori layanan, termasuk skincare, body care, dan hair care. EFBA Kosmetindo

Dengan demikian, fasilitas produksi perlu menyesuaikan proses dengan jenis sediaan, formula, serta spesifikasi produk.

8. Integrasikan Quality Control ke Dalam Proses

Banyak orang menganggap quality control hanya bertugas memeriksa produk setelah produksi selesai. Padahal, pengendalian kualitas dapat berjalan sejak bahan masuk hingga produk akhir.

Brand dapat memahami sistem tersebut melalui tiga titik utama:

Raw Material Control → Process Control → Finished Product Control

Pendekatan ini membantu tim menjaga konsistensi antara formula yang telah disetujui dengan produk yang keluar dari fasilitas manufaktur.

Selain itu, BPOM menerapkan PerBPOM No. 16 Tahun 2024 tentang Batas Cemaran dalam Kosmetik. Regulasi tersebut menggantikan ketentuan sebelumnya mengenai batas cemaran kosmetik. Standar OTSKK — Batas Cemaran Kosmetik

Jadi, keamanan dan mutu produk tidak hanya bergantung pada bahan aktif. Tim juga perlu mengendalikan bahan baku, proses produksi, cemaran, kondisi fasilitas, serta produk akhir.

9. Sesuaikan Formula dengan Kemasan

Kemasan tidak hanya berfungsi sebagai elemen visual. Pemilihannya juga perlu mempertimbangkan karakter formula, metode penggunaan, perlindungan produk, dan pengalaman konsumen.

Karena itu, brand dapat mempertimbangkan hubungan berikut:

Formula ↔ Packaging ↔ User Experience

Misalnya, serum dapat menggunakan bottle, dropper, atau pump sesuai karakter produknya. Sementara itu, moisturizer dapat menggunakan jar, tube, atau airless pump berdasarkan kebutuhan formula dan positioning.

Kemasan yang menarik belum tentu cocok untuk semua jenis produk. Oleh sebab itu, brand sebaiknya mendiskusikan packaging ketika formula mulai mendekati tahap final.

Dalam ekosistem EFBA, layanan maklon yang dipublikasikan juga mencakup desain logo, pelabelan, pengemasan, dan penyediaan kemasan primer. EFBA — Jasa Maklon Kosmetik

10. Sesuaikan Label dan Klaim dengan Produk

Produk yang berkualitas tetap membutuhkan informasi yang sesuai dengan ketentuan.

BPOM menerapkan Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024 tentang Penandaan, Promosi, dan Iklan Kosmetik. Regulasi tersebut mengatur persyaratan teknis penandaan serta pengawasan promosi dan iklan kosmetik. Standar OTSKK — Penandaan Kosmetik

Karena itu, brand perlu menyelaraskan formula, fungsi produk, label, dan klaim.

Gunakan alur:

Formula → Product Benefit → Claim → Label → Promotion

Pendekatan tersebut lebih terarah daripada membuat klaim pemasaran terlebih dahulu lalu memaksa formula mengikuti klaim.

Brand owner yang ingin memahami ketentuan lebih lanjut juga dapat membaca artikel internal EFBA Kosmetindo mengenai Peraturan BPOM Kosmetik. Peraturan BPOM Kosmetik — EFBA Kosmetindo

11. Urus Notifikasi BPOM Sebelum Produk Beredar

Produksi bukan tahap terakhir dalam pengembangan kosmetik. Sebelum produk beredar, brand juga perlu menyelesaikan kebutuhan legalitas yang berlaku.

Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2022 mengatur Tata Cara Pengajuan Notifikasi Kosmetika. Regulasi tersebut mencakup kriteria, persyaratan, tata cara, serta prosedur teknis terkait notifikasi kosmetik. Standar OTSKK — Notifikasi Kosmetika

Karena itu, perjalanan produk dapat mengikuti:

Formula → Sample Approval → Production Preparation → Regulatory → Manufacturing → QC → Packaging → Market

EFBA Kosmetindo mempublikasikan pendampingan legalitas yang mencakup HKI dan BPOM sebagai bagian dari proses pengembangan brand. EFBA Kosmetindo

Dengan memasukkan aspek legalitas sejak awal, brand dapat mengurangi risiko perubahan besar ketika produk sudah mendekati tahap peluncuran.

12. Pastikan Produk Siap Dipasarkan

Produk yang selesai diproduksi belum tentu langsung siap masuk pasar.

Sebelum meluncurkan produk, brand perlu menyelaraskan formula, kualitas, legalitas, kemasan, positioning, branding, distribusi, dan kesiapan stok.

Gunakan checklist berikut:

Formula ✓ → Quality ✓ → Packaging ✓ → Legalitas ✓ → Branding ✓ → Market Readiness ✓

Selanjutnya, brand dapat menyiapkan strategi harga, target konsumen, saluran distribusi, materi pemasaran, serta stok awal.

Dengan begitu, manufaktur menjadi bagian dari strategi bisnis yang lebih luas. Produk bukan hanya perlu berhasil dibuat, tetapi juga harus memenuhi standar, konsisten, legal, dan siap dipasarkan.

Bagaimana Alur Standar Produksi Kosmetik hingga Siap Dipasarkan?

Secara ringkas, prosesnya dapat mengikuti alur berikut:

Market Need → Product Concept → Raw Material → Formulation → Sample → Evaluation → Formula Approval → Regulatory → Production → Quality Control → Filling → Packaging → Final Check → Market

Namun, setiap proyek dapat memiliki alur berbeda. Faktor seperti kategori kosmetik, jenis formula, kebutuhan pengujian, legalitas, serta fasilitas manufaktur dapat memengaruhi tahapan yang diperlukan.

Karena itu, brand sebaiknya menghubungkan semua proses sejak awal. Formula, BPOM, produksi, packaging, quality control, dan marketing perlu berjalan dalam satu rencana pengembangan.

Data Resmi: CPKB Menjadi Dasar Penting Produksi Kosmetik

Per 29 April 2026, Indonesia menerapkan ketentuan terbaru melalui Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2026 tentang Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik. Peraturan tersebut mencabut PerBPOM No. 33 Tahun 2021. Standar OTSKK — Peraturan BPOM 2026

Selain itu, PerBPOM No. 27 Tahun 2025 mengatur standar perizinan CPKB. Ketentuan tersebut mencantumkan penerapan 12 aspek sistem mutu CPKB serta penanggung jawab teknis sebagai bagian dari persyaratan Sertifikat CPKB. Standar OTSKK — PerBPOM No. 27 Tahun 2025

Regulasi bahan kosmetik juga mengalami pembaruan melalui PerBPOM No. 25 Tahun 2025. Ketentuan tersebut mengatur persyaratan teknis bahan kosmetik dan mengacu pada perkembangan standar yang berlaku. Standar OTSKK — PerBPOM No. 25 Tahun 2025

Sementara itu, aspek lain memiliki ketentuan tersendiri. Batas cemaran mengacu pada PerBPOM No. 16 Tahun 2024, sedangkan penandaan, promosi, dan iklan mengacu pada PerBPOM No. 18 Tahun 2024. Untuk notifikasi kosmetik, brand dapat mengacu pada PerBPOM No. 21 Tahun 2022. Standar OTSKK — Regulasi Kosmetik

Dengan melihat berbagai ketentuan tersebut, brand dapat memahami bahwa standar produksi kosmetik bukan sekadar satu pemeriksaan. Sebaliknya, standar mencakup sistem yang menghubungkan bahan, manufaktur, kualitas, regulasi, label, hingga pasar.

Ingredients → Manufacturing → Quality → Regulatory → Label → Market

Expertise EFBA Kosmetindo dalam Produksi Kosmetik

EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan pengembangan kosmetik yang menghubungkan konsultasi, formulasi, sampel, produksi, legalitas, hingga persiapan produk untuk diluncurkan.

Website perusahaan menyebut EFBA mulai memiliki pengalaman di industri maklon sejak 2020. Selain itu, perusahaan menampilkan pencapaian 150+ brand dan 450K+ produk sebagai angka yang dipublikasikan oleh perusahaan sendiri. EFBA Kosmetindo

Pada halaman Maklon Kosmetik EFBA Kosmetindo, perusahaan mempublikasikan layanan pabrik maklon kosmetik dengan dukungan BPOM, Halal, dan CPKB, serta berbagai kategori produk mulai dari skincare hingga body care.

Sementara itu, halaman Maklon Skincare EFBA Kosmetindo menjelaskan pengembangan berbagai kategori skincare dan pendampingan dari tahap awal hingga produk siap diluncurkan.

Dengan demikian, proses pengembangan bersama EFBA dapat diringkas menjadi:

Consultation → Product Concept → R&D → Sample → Approval → Legalitas → Production → Quality Control → Packaging → Product Launch

Pendekatan tersebut membantu brand menghubungkan kebutuhan produk dengan proses manufaktur secara lebih terstruktur. Dengan perencanaan sejak awal, setiap tahap dapat saling mendukung hingga produk siap masuk ke pasar.

standar produksi kosmetik
standar produksi kosmetik

Fasilitas Produksi Kosmetik dalam Ekosistem EFBA

Informasi mengenai fasilitas manufaktur dapat Anda cek langsung melalui website resmi PT EFBA Digital Mulia.

EFBA menjelaskan bahwa PT EFBA Digital Mulia membangun fasilitas pabrik di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Tim apoteker, ahli farmasi, R&D, serta peralatan produksi mendukung kegiatan manufaktur di fasilitas tersebut. Selain itu, EFBA menjelaskan bahwa tim produksi mengendalikan proses produksi hingga pengemasan agar produk memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan. EFBA

Selain proses produksi, EFBA juga menyediakan pengembangan dan reformulasi produk, pemilihan bahan baku, kemasan primer, desain kemasan, serta dukungan registrasi BPOM. EFBA

Karena itu, pemilik brand dapat melibatkan EFBA sejak tahap awal pengembangan produk. Ekosistem layanan tersebut menghubungkan beberapa tahap berikut:

Idea → Formula → Raw Material → R&D → Production → Packaging → Regulatory → Market

Dengan alur tersebut, brand owner dapat mengembangkan kosmetik tanpa harus membangun fasilitas manufaktur sendiri. Namun, brand tetap perlu memastikan setiap tahap memenuhi kebutuhan produk dan ketentuan yang berlaku.

Tips Memilih Jasa Produksi Kosmetik

Memilih mitra produksi tidak cukup hanya dengan membandingkan harga termurah. Sebaliknya, brand perlu memeriksa kemampuan partner dalam menjelaskan fasilitas produksi, standar CPKB, pengembangan formula, quality control, legalitas, kemasan, dan alur kerja secara transparan.

Sebagai langkah awal, gunakan kerangka berikut:

Legal Facility → R&D → CPKB → Quality Control → Regulatory Support → Production Capability

Kemudian, ajukan beberapa pertanyaan penting kepada calon mitra. Tanyakan apakah tim dapat membuat sampel sebelum produksi, bagaimana tim melakukan evaluasi dan finalisasi formula, kategori kosmetik apa saja yang dapat mereka produksi, serta bagaimana mereka menangani kebutuhan legalitas.

Selain itu, tanyakan juga bagaimana tim menjaga konsistensi produk selama proses manufaktur dan bagaimana mereka menangani quality control pada setiap tahap.

Dengan cara tersebut, brand dapat menilai kemampuan mitra secara lebih menyeluruh. Jadi, jangan hanya membandingkan harga per pcs tanpa memahami proses, fasilitas, dan standar yang mendukung produk tersebut.

FAQ tentang Standar Produksi Kosmetik

Apa yang dimaksud dengan standar produksi kosmetik?

Standar produksi kosmetik mencakup berbagai sistem pengendalian untuk menjaga mutu produk. Sistem tersebut meliputi bahan baku, personel, fasilitas, proses produksi, quality control, dokumentasi, pengemasan, penyimpanan, dan aspek terkait lainnya.

Apa itu CPKB?

CPKB merupakan singkatan dari Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik. BPOM menjelaskan CPKB sebagai seluruh aspek kegiatan pembuatan kosmetik yang bertujuan menjaga produk agar selalu memenuhi persyaratan mutu sesuai tujuan penggunaannya. Standar OTSKK

Apakah pabrik kosmetik harus menerapkan CPKB?

Industri kosmetik perlu memenuhi persyaratan yang berlaku sesuai klasifikasi dan kegiatan produksinya. Saat ini, PerBPOM No. 8 Tahun 2026 mengatur sertifikasi CPKB. Standar OTSKK

Karena itu, brand sebaiknya memeriksa status dan standar fasilitas sebelum memilih mitra manufaktur.

Bagaimana standar bahan baku kosmetik di Indonesia?

PerBPOM No. 25 Tahun 2025 mengatur persyaratan teknis bahan kosmetik di Indonesia. BPOM menetapkan ketentuan mengenai bahan yang boleh digunakan, bahan yang penggunaannya memiliki batasan, serta bahan yang tidak boleh digunakan dalam kosmetik. Standar OTSKK

Dengan demikian, tim R&D perlu memeriksa bahan sebelum memasukkannya ke dalam formula.

Apakah kosmetik harus memiliki BPOM sebelum dipasarkan?

Sebelum mengedarkan kosmetik, pelaku usaha perlu mengikuti ketentuan notifikasi yang berlaku. PerBPOM No. 21 Tahun 2022 mengatur tata cara pengajuan notifikasi kosmetika. Standar OTSKK

Karena itu, brand sebaiknya menyiapkan kebutuhan regulasi sejak tahap pengembangan produk, bukan setelah produksi selesai.

Apakah brand harus memiliki pabrik kosmetik sendiri?

Tidak. Brand owner dapat menggunakan jasa maklon atau contract manufacturing. Dengan pilihan tersebut, brand dapat bekerja sama dengan fasilitas manufaktur yang sesuai dengan kebutuhan produk dan ketentuan yang berlaku.

Selain itu, model maklon memungkinkan brand lebih fokus pada pengembangan produk, positioning, pemasaran, dan pengembangan bisnis.

Apa yang harus diperiksa sebelum memilih pabrik maklon kosmetik?

Sebelum memilih mitra, periksa beberapa aspek utama seperti legalitas fasilitas, standar CPKB, kemampuan R&D, kategori produk, quality control, dukungan BPOM, proses pembuatan sampel, packaging, dan alur produksi.

Selanjutnya, minta penjelasan mengenai proses pengembangan formula serta mekanisme persetujuan sampel. Langkah ini membantu brand memahami proses kerja sebelum masuk ke produksi.

Apakah EFBA Kosmetindo menyediakan jasa produksi kosmetik?

Ya. EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan maklon kosmetik yang mencakup formulasi, pengembangan sampel, produksi, legalitas, serta pendampingan hingga produk siap diluncurkan. EFBA Kosmetindo

Dengan demikian, brand dapat membahas kebutuhan produk sejak tahap konsep dan melanjutkannya ke formulasi, sampel, legalitas, produksi, hingga persiapan peluncuran.

logo efba kosmetindo

Dari Bahan Baku hingga Produk Kosmetik Siap Dipasarkan

Membangun brand kosmetik yang berkelanjutan membutuhkan lebih dari formula menarik dan kemasan yang terlihat premium.

Brand perlu memperhatikan bahan baku, formulasi, sampel, CPKB, proses manufaktur, quality control, BPOM, kemasan, penandaan, hingga kesiapan produk memasuki pasar.

Alurnya menjadi:

Concept → Ingredients → Formula → Sample → Regulatory → Production → QC → Packaging → BPOM → Market

Jika Anda ingin mengembangkan kosmetik tanpa membangun fasilitas produksi sendiri, EFBA Kosmetindo menyediakan layanan pengembangan dan maklon kosmetik dari tahap konsultasi hingga produksi. Untuk kebutuhan manufaktur yang lebih luas, layanan tersebut terhubung dengan ekosistem PT EFBA Digital Mulia yang mempublikasikan kapabilitas formulasi, R&D, produksi, packaging, serta dukungan legalitas kosmetik.

Formulasi Skincare: Dari Pemilihan Bahan Aktif hingga Produk Siap Diproduksi

formulasi skincare

Membuat produk skincare tidak cukup dengan memilih bahan aktif yang sedang populer. Brand owner perlu menentukan target konsumen, manfaat produk, bentuk sediaan, karakter formula, keamanan bahan, stabilitas, kemasan, klaim, hingga kesiapan produk untuk masuk tahap produksi.

Karena itu, formulasi skincare menjadi salah satu tahap penting dalam pengembangan produk kosmetik. Formula yang baik perlu mempertimbangkan fungsi setiap bahan, konsentrasi, kompatibilitas antarbahan, karakter produk, regulasi, serta proses manufaktur.

Di Indonesia, brand juga perlu memilih bahan kosmetik sesuai ketentuan BPOM. Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 mengatur persyaratan teknis bahan kosmetik untuk mendukung keamanan, kemanfaatan, dan mutu kosmetik. Standar OTSKK

Bagi brand owner yang belum memiliki tim R&D sendiri, EFBA Kosmetindo menyediakan pendampingan mulai dari konsultasi konsep, formulasi skincare, pengembangan sampel, desain, legalitas, hingga persiapan produksi. Website resminya menyebut EFBA mulai memiliki pengalaman di industri maklon sejak 2020 dan telah dipercaya lebih dari 150 brand. EFBA Kosmetindo

Apa Itu Formulasi Skincare?

Formulasi skincare merupakan proses merancang dan mengembangkan komposisi bahan untuk menghasilkan produk perawatan kulit dengan fungsi, tekstur, karakter, keamanan, stabilitas, dan kualitas yang sesuai dengan konsep produk serta ketentuan yang berlaku.

Proses formulasi tidak sekadar mencampurkan beberapa bahan aktif. Formulator perlu memahami hubungan antara bahan aktif, bahan pendukung, basis formula, pH, tekstur, aroma, warna, stabilitas, kemasan, dan proses produksi.

Dengan demikian, bahan yang terlihat menarik secara individual belum tentu cocok ketika formulator menggabungkannya dalam satu formula.

Secara sederhana, proses formulasi skincare dapat mengikuti alur:

Target Market → Product Concept → Active Ingredients → Formula Development → Sample → Evaluation → Formula Fixation → Regulatory → Production

Alur tersebut membantu brand mengembangkan produk berdasarkan kebutuhan konsumen dan tujuan formula, bukan sekadar mengikuti tren bahan aktif.

Mengapa Formulasi Skincare Penting?

Formula menentukan banyak karakter utama sebuah produk skincare. Serum, moisturizer, toner, facial wash, day cream, dan kategori lainnya membutuhkan pendekatan formulasi yang berbeda.

Setiap jenis produk memiliki tujuan penggunaan, karakter tekstur, sistem formula, pilihan kemasan, serta kebutuhan pengembangan yang tidak selalu sama.

Selain aspek teknis, formulasi skincare juga berkaitan dengan pengalaman konsumen. Produk dapat menggunakan bahan aktif yang populer, tetapi konsumen tetap akan mempertimbangkan tekstur, kenyamanan, aroma, kemudahan aplikasi, dan kesesuaian produk dengan kebutuhan mereka.

Karena itu, pengembangan produk sebaiknya mengikuti alur:

Consumer Need → Product Benefit → Formula → User Experience

Bukan sekadar:

Trending Ingredient → Product

1. Tentukan Target Konsumen Sebelum Memilih Bahan Aktif

Tahap awal formulasi skincare sebaiknya dimulai dengan menentukan siapa yang akan menggunakan produk.

Brand perlu memahami kebutuhan konsumen, rentang usia, masalah kulit yang ingin ditargetkan, positioning, kategori produk, hingga kisaran harga yang ingin dicapai.

Sebagai contoh, moisturizer untuk kulit kering membutuhkan pertimbangan berbeda dari moisturizer dengan tekstur ringan untuk kulit berminyak.

Hal yang sama berlaku untuk serum dengan konsep brightening, soothing, hydrating, maupun anti-aging. Setiap konsep membutuhkan pertimbangan bahan dan karakter formula yang berbeda.

Gunakan kerangka berikut:

Target Consumer → Skin Concern → Product Benefit → Product Type → Formula

Dengan pendekatan tersebut, formulator dapat memilih bahan aktif berdasarkan tujuan yang jelas dan relevan dengan target pasar.

2. Tentukan Fungsi Utama Produk

Satu produk tidak harus memiliki terlalu banyak fungsi. Sebaliknya, brand perlu menentukan manfaat utama sejak awal agar formula, komunikasi produk, dan positioning memiliki arah yang konsisten.

Sebagai contoh:

  1. Dry Skin → Hydration → Moisturizer
  2. Dull Skin → Brightening Concept → Serum
  3. Oily Skin → Gentle Cleansing → Facial Wash
  4. Sensitive Skin Concept → Soothing Approach → Moisturizer/Toner

Setelah menentukan fungsi utama, tim formulasi dapat mengevaluasi bahan yang paling relevan dengan konsep tersebut.

Pendekatan ini juga membantu mencegah formula menjadi terlalu kompleks hanya karena brand ingin memasukkan banyak bahan aktif sekaligus.

3. Pilih Bahan Aktif Sesuai Tujuan Formula

Dalam formulasi skincare, brand sebaiknya memilih bahan aktif berdasarkan fungsi dan tujuan produk, bukan semata-mata karena bahan tersebut sedang viral.

Beberapa bahan aktif dapat mendukung kebutuhan seperti hidrasi, brightening, soothing, antioxidant, barrier care, atau fungsi kosmetik lainnya. Namun, formulator tetap perlu melihat keseluruhan sistem formula sebelum menentukan pilihan akhir.

Daripada hanya bertanya:

“Bahan aktif apa yang bagus?”

Pertanyaan yang lebih relevan adalah:

“Bahan apa yang sesuai dengan tujuan produk, sistem formula, target konsumen, dan regulasi yang berlaku?”

Pertimbangan tersebut penting karena BPOM mengatur persyaratan teknis bahan kosmetik melalui Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025. Regulasi tersebut mengatur persyaratan bahan sebagai bagian dari standar keamanan, kemanfaatan, dan mutu kosmetik. Standar OTSKK

Dengan demikian, tren bahan aktif tetap perlu mengikuti pertimbangan formulasi dan regulasi.

4. Jangan Menilai Formula Hanya dari Banyaknya Bahan Aktif

Jumlah bahan aktif yang lebih banyak tidak otomatis menghasilkan skincare yang lebih baik.

Setiap penambahan bahan dapat memengaruhi sistem formula secara keseluruhan. Karena itu, formulator perlu mengevaluasi kompatibilitas, karakter bahan, konsentrasi, pH, kelarutan, stabilitas, tekstur, serta interaksi antarkomponen.

Prinsip sederhananya:

More Ingredients ≠ Better Formula

Formula yang tepat justru harus memenuhi konsep produk dengan komposisi yang terukur, stabil, dan dapat dikembangkan secara konsisten.

Oleh sebab itu, brand owner sebaiknya mendiskusikan prioritas bahan bersama tim R&D daripada memasukkan semua bahan populer ke dalam satu produk.

5. Perhatikan Bahan Pendukung Formula

Produk skincare tidak hanya terdiri dari bahan aktif. Dalam proses formulasi skincare, formulator juga perlu memilih berbagai komponen pendukung untuk membentuk tekstur, menjaga karakter produk, membantu kestabilan, mempertahankan kualitas, dan meningkatkan kenyamanan saat digunakan.

Struktur formulasi secara sederhana dapat digambarkan sebagai:

Active Ingredients + Formula Base + Supporting Ingredients = Finished Formula

Komposisi tersebut dapat berbeda pada setiap kategori produk.

Sebagai contoh, serum berbasis air, moisturizer emulsi, facial wash, toner, dan sunscreen memiliki sistem pengembangan yang berbeda. Oleh sebab itu, brand sebaiknya tidak menyalin komposisi produk lain tanpa memahami fungsi setiap bahan dan sistem formulanya.

Dengan memahami peran setiap komponen, proses formulasi skincare dapat menghasilkan produk yang lebih sesuai dengan konsep, target konsumen, dan kebutuhan produksi.

formulasi skincare
formulasi skincare

6. Buat Sampel Sebelum Produksi

Formula awal belum tentu menjadi formula final.

Tim R&D perlu menerjemahkan konsep produk menjadi sampel yang dapat brand evaluasi sebelum produksi. Pada tahap ini, tim dapat melihat apakah formula sudah sesuai dengan konsep, karakter produk, dan kebutuhan target konsumen.

Website resmi EFBA Kosmetindo menjelaskan bahwa client terlebih dahulu berdiskusi mengenai produk yang mereka inginkan. Setelah itu, tim R&D mengembangkan sampel berdasarkan hasil pembahasan tersebut. Produksi kemudian mengikuti sampel yang telah client setujui. EFBA Kosmetindo

Alurnya menjadi:

Concept → Formula Development → Sample → Evaluation → Revision → Approval

Melalui sampel, brand dapat mengevaluasi tekstur, warna, aroma, daya sebar, sensasi setelah pemakaian, serta kesesuaian produk dengan konsep awal.

Jika hasil evaluasi belum memenuhi kebutuhan, tim R&D dapat melakukan penyesuaian formula dan membuat sampel berikutnya.

7. Lakukan Revisi hingga Formula Disepakati

Revisi sampel merupakan bagian normal dalam proses formulasi skincare.

Brand mungkin menemukan tekstur yang terlalu kental, terlalu cair, atau terlalu lengket. Aroma juga mungkin belum sesuai dengan positioning produk. Dalam kondisi tersebut, tim R&D dapat menyesuaikan formula berdasarkan hasil evaluasi brand.

Prosesnya dapat mengikuti alur:

Sample → Review → Revision → New Sample → Approval

Tahap ini membantu brand dan tim R&D menyamakan ekspektasi sebelum masuk ke tahap berikutnya.

EFBA Kosmetindo juga menjelaskan bahwa proses pengembangan produk menghubungkan konsultasi dengan formulasi dan pembuatan sampel sebelum masuk ke tahap legalitas serta produksi. EFBA Kosmetindo

Dengan pendekatan tersebut, brand memiliki kesempatan untuk mengevaluasi produk terlebih dahulu sebelum memulai produksi massal.

8. Evaluasi Stabilitas dan Kesiapan Formula

Sampel yang terlihat baik saat pertama kali dibuat belum tentu siap masuk produksi.

Dalam formulasi skincare, tim perlu mengevaluasi kestabilan karakter produk serta kesesuaiannya dengan sistem produksi dan kemasan yang akan digunakan.

Website layanan maklon dalam ekosistem EFBA menjelaskan bahwa tahap R&D mencakup formulasi produk, pengujian stabilitas, dan uji keamanan sebelum produksi massal. Maklon PT. Efba Digital Mulia

Evaluasi tersebut membantu tim memastikan bahwa formula tidak hanya menarik sebagai sampel, tetapi juga memiliki dasar pengembangan yang memadai untuk tahap manufaktur.

Karena itu:

Good Sample ≠ Production Ready Formula

Formula dapat bergerak menuju produksi setelah tim menyelesaikan kebutuhan pengembangan, evaluasi, legalitas, dan persiapan manufaktur.

9. Sesuaikan Formula dengan Packaging

Brand sebaiknya mengembangkan formula dan kemasan secara beriringan.

Viskositas, sensitivitas produk, metode aplikasi, ukuran produk, serta karakter formula dapat memengaruhi pilihan packaging.

Sebagai contoh, brand dapat menggunakan dropper atau pump untuk serum sesuai karakter formula dan cara pemakaiannya. Moisturizer dapat menggunakan jar, tube, atau airless pump. Sementara itu, produk cair memiliki kebutuhan kemasan yang berbeda.

Karena itu:

Formula ↔ Packaging

Kedua elemen tersebut perlu saling menyesuaikan.

EFBA Kosmetindo juga memasukkan desain produk dan packaging dalam proses maklon yang mereka publikasikan pada website resminya. EFBA Kosmetindo

Brand owner sebaiknya mulai membahas pilihan kemasan ketika formula mendekati tahap final. Langkah ini membantu mencegah keputusan packaging menghambat proses pengembangan berikutnya.

10. Pastikan Formula Memenuhi Ketentuan BPOM

Brand perlu mempertimbangkan aspek regulasi sejak awal pengembangan formula, bukan setelah produk selesai.

Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 mengatur Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik. Regulasi tersebut mendukung penerapan persyaratan keamanan, kemanfaatan, dan mutu kosmetik. Standar OTSKK

Selain memilih bahan yang sesuai, brand owner perlu memperhatikan notifikasi, penandaan, klaim, promosi, serta ketentuan lain yang berlaku untuk kosmetik.

Artikel EFBA Kosmetindo mengenai Peraturan BPOM Kosmetik juga menjelaskan bahwa Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2022 mengatur tata cara pengajuan notifikasi kosmetika. Sementara itu, Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024 mengatur penandaan, promosi, dan iklan kosmetik. EFBA Kosmetindo

Karena itu, tim sebaiknya menyelaraskan formulasi dan regulatory sejak awal:

Formula → Ingredients Review → Claims → Packaging Information → Notification → Production

Dengan alur tersebut, brand dapat mengurangi risiko perubahan besar ketika produk sudah mendekati tahap produksi.

11. Hindari Klaim yang Tidak Sesuai Konsep Kosmetik

Formula dan klaim produk memiliki hubungan yang erat.

Brand sebaiknya tidak menentukan klaim pemasaran secara terpisah dari produk yang sedang dikembangkan. Tim perlu memastikan klaim sesuai dengan fungsi kosmetik dan ketentuan regulator yang berlaku.

Misalnya, pemilik brand ingin membangun positioning tertentu karena melihat tren pasar. Tim pengembangan kemudian perlu mengevaluasi hubungan antara konsep formula, bahan, manfaat produk, komunikasi pemasaran, dan klaim pada kemasan.

Gunakan alur:

Formula → Benefit → Evidence → Claim

Bukan:

Marketing Claim → Cari Formula Belakangan

Pendekatan ini membantu brand menjaga konsistensi antara produk dan komunikasi pemasaran sejak awal.

12. Lakukan Finalisasi Formula Sebelum Produksi

Setelah brand menyetujui sampel dan tim menyelesaikan kebutuhan pengembangan, formula dapat masuk ke tahap finalisasi.

Brand perlu memastikan beberapa komponen sudah memiliki arah yang jelas:

Formula + Sample Approval + Packaging + Regulatory + Production Specification

Website EFBA Kosmetindo menjelaskan bahwa tim produksi menggunakan sampel yang telah client setujui sebagai dasar produksi. EFBA Kosmetindo

Tahap ini penting karena produksi massal membutuhkan standar yang lebih terkontrol dibandingkan pembuatan sampel di laboratorium.

Dengan demikian, tahap akhir formulasi skincare bukan sekadar memastikan produk terasa cocok. Tim juga perlu memastikan formula siap masuk ke proses manufaktur sesuai spesifikasi dan prosedur yang berlaku.

Bagaimana Alur Formulasi Skincare hingga Siap Diproduksi?

Secara ringkas, proses pengembangan dapat mengikuti alur:

Market Need → Target Consumer → Product Concept → Active Ingredients → Formula Development → Sample → Evaluation → Revision → Sample Approval → Packaging → Regulatory → Production Preparation → Manufacturing → QC

Setiap proyek dapat memiliki alur berbeda. Kompleksitas formula, jenis sediaan, jumlah revisi sampel, packaging, kebutuhan pengujian, dan proses legalitas dapat memengaruhi tahapan pengembangan.

EFBA Kosmetindo mempublikasikan tujuh langkah maklon yang mencakup diskusi kebutuhan produk, pembuatan sampel oleh tim R&D, desain dan packaging, pendaftaran merek, pendaftaran varian ke BPOM, produksi berdasarkan sampel yang client setujui, serta distribusi produk kepada client. EFBA Kosmetindo

Artinya, formulasi skincare menjadi bagian dari rangkaian product development, bukan proses yang berdiri sendiri.

Berapa Lama Membuat Formula Skincare?

Tidak ada satu durasi yang berlaku untuk semua produk.

Kompleksitas formula, jumlah revisi, jenis bahan, evaluasi sampel, packaging, proses legalitas, dan kesiapan produksi dapat memengaruhi waktu pengembangan.

Pada halaman layanan maklon skincare, EFBA Kosmetindo saat ini mencantumkan estimasi pembuatan sampel sekitar 7–14 hari kerja. Website tersebut juga menyebut keseluruhan proses maklon kosmetik membutuhkan waktu sekitar dua bulan atau lebih, dengan tahapan lain yang mencakup HKI, BPOM, notifikasi merek, dan produksi. EFBA Kosmetindo

Angka tersebut merupakan estimasi layanan yang EFBA publikasikan, bukan standar waktu universal untuk seluruh industri kosmetik.

Karena itu, brand sebaiknya mengonfirmasi timeline berdasarkan jenis formula, kebutuhan revisi, dan ruang lingkup proyek sebelum memulai pengembangan.

Bagaimana Memilih Formulasi Skincare yang Baik?

Brand tidak cukup menilai formula hanya dari daftar bahan aktif.

Pertimbangkan juga kesesuaian formula dengan target konsumen, manfaat utama, bentuk sediaan, regulasi, pengalaman penggunaan, packaging, harga produk, dan kemampuan manufaktur.

Gunakan checklist berikut:

Relevant → Safe → Stable → Compliant → Manufacturable → Marketable

  • Relevant: formula sesuai dengan kebutuhan target konsumen.
  • Safe: tim memilih dan menggunakan bahan sesuai persyaratan yang berlaku.
  • Stable: formula mampu mempertahankan karakter produk sesuai kebutuhan pengembangan.
  • Compliant: bahan, informasi produk, dan klaim mengikuti regulasi yang relevan.
  • Manufacturable: tim dapat menerjemahkan formula ke proses produksi.
  • Marketable: karakter produk mendukung positioning dan kebutuhan pasar.

Formula yang baik tidak harus memiliki bahan paling banyak atau bahan paling mahal.

Sebaliknya, formula yang tepat menghubungkan kebutuhan konsumen dengan produk yang realistis untuk dikembangkan, diproduksi, dan dipasarkan.

Data Resmi: BPOM Memperbarui Persyaratan Bahan Kosmetik

Regulasi bahan kosmetik di Indonesia terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada 2025, BPOM menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik. Dalam pertimbangannya, BPOM menjelaskan bahwa ketentuan sebelumnya perlu diganti karena tidak lagi sesuai dengan kebutuhan hukum serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kosmetik. Standar OTSKK

Regulasi tersebut menjadi penting bagi formulator dan brand owner. Pemilihan bahan tidak cukup hanya mengikuti tren atau permintaan marketing.

Sebaliknya, tim perlu mengembangkan formula dengan mempertimbangkan persyaratan bahan yang berlaku.

EFBA Kosmetindo juga membahas aspek regulasi melalui artikel Peraturan BPOM Kosmetik yang Perlu Dipahami Pemilik Brand. Artikel tersebut membahas hubungan antara formula, informasi kemasan, klaim, promosi, dan notifikasi produk. EFBA Kosmetindo

Bagi brand owner, alurnya dapat diringkas menjadi:

Market Trend → Product Concept → Formula → Regulatory Check → Sample → Approval → Legalitas → Production

Dengan pendekatan tersebut, brand tidak hanya mengikuti bahan yang sedang populer lalu memikirkan regulasi pada tahap akhir.

Expertise EFBA Kosmetindo dalam Formulasi Skincare

EFBA Kosmetindo menyediakan layanan pengembangan produk kosmetik yang menghubungkan konsultasi produk, formulasi skincare, pembuatan sampel, desain, legalitas, hingga persiapan produksi.

Website resmi EFBA Kosmetindo juga menjelaskan pengalaman perusahaan dalam mendampingi brand melalui proses pengembangan produk dan maklon. EFBA Kosmetindo

Dalam proses tersebut, brand dapat mendiskusikan konsep produk, kebutuhan formula, karakter sampel, packaging, serta tahapan berikutnya bersama tim terkait.

Pendekatan tersebut membantu brand melihat formulasi skincare sebagai bagian dari proses product development yang lebih luas.

Mulai dari:

Product Concept → Formula Development → Sample → Evaluation → Regulatory → Production

Dengan demikian, brand tidak hanya mengejar formula yang menarik, tetapi juga mempertimbangkan kesesuaian produk dengan target pasar, regulasi, packaging, dan kemampuan produksi.

formulasi skincare
formulasi skincare

EFBA Kosmetindo menyatakan telah berpengalaman di industri maklon sejak 2020. Saat ini, perusahaan menampilkan pencapaian 150+ brand yang telah mempercayakan pengembangan produknya serta 450K+ produk yang telah diproduksi. Angka tersebut merupakan pencapaian yang dipublikasikan oleh perusahaan sendiri. Efbakosmetindo

Dalam pengembangan skincare, tim R&D EFBA membantu menerjemahkan hasil konsultasi menjadi konsep formula dan sampel produk. Setelah client menyetujui sampel, tim produksi menggunakan sampel tersebut sebagai acuan untuk proses manufaktur. Efbakosmetindo

Layanan Maklon Skincare EFBA Kosmetindo mencakup berbagai kategori produk, seperti facial wash, day cream, moisturizer, night cream, serum, toner, dan produk kecantikan lainnya. Efbakosmetindo

Dengan alur tersebut, proses pengembangan produk bersama EFBA dapat diringkas menjadi:

Idea → Consultation → Product Concept → R&D → Formula → Sample → Approval → Design & Packaging → Legalitas → Production

Konsultasi Formulasi Skincare untuk Brand Pemula

Brand owner tidak perlu memiliki formula final sebelum memulai pengembangan produk.

Misalnya, Anda dapat membawa ide sederhana seperti serum brightening, moisturizer untuk kulit kering, toner, facial wash, atau lini skincare dengan positioning tertentu. Dari konsep tersebut, tim dapat membantu mengarahkan kebutuhan pengembangan sesuai ruang lingkup layanan.

Bagi brand pemula, EFBA Kosmetindo menjelaskan dukungan untuk menentukan produk, konsep, kemasan, manufaktur, dan kebutuhan legalitas.

Dalam konsultasi awal, brand dapat membahas beberapa aspek penting, mulai dari target konsumen, masalah kulit yang ingin ditangani, jenis produk, karakter formula, hingga positioning brand.

Beberapa pertimbangan utamanya meliputi:

  • Target konsumen yang ingin dijangkau.
  • Kebutuhan atau masalah kulit yang menjadi fokus produk.
  • Jenis produk yang paling sesuai dengan konsep brand.
  • Karakter formula seperti tekstur, sensasi penggunaan, dan hasil akhir.
  • Positioning brand yang ingin dibangun di pasar.

Setelah konsep semakin jelas, tim R&D dapat menerjemahkannya ke tahap pengembangan formula dan pembuatan sampel sesuai scope layanan.

Pendekatan tersebut membantu brand menentukan formula berdasarkan kebutuhan produk, bukan sekadar memilih bahan aktif yang sedang populer.

Konsultasi Maklon Skincare bersama EFBA Kosmetindo

Brand yang ingin membawa pengembangan formula hingga tahap produksi dapat mempertimbangkan jasa maklon skincare EFBA Kosmetindo.

Proses yang dipublikasikan perusahaan mencakup konsultasi, pembuatan sampel, desain produk dan packaging, dukungan HKI dan BPOM, produksi berdasarkan sampel yang telah disetujui, hingga distribusi produk jadi. Efbakosmetindo

Dengan demikian, brand dapat mengembangkan produk melalui alur yang lebih terstruktur:

Consultation → Formula Development → Sample → Approval → Packaging → Legalitas → Production → Distribution

Setiap tahap tetap perlu menyesuaikan jenis produk, kebutuhan brand, hasil evaluasi sampel, serta persyaratan regulasi yang berlaku.

logo efba kosmetindo

Dalam ekosistem PT EFBA Digital Mulia, layanan maklon juga mencakup pengembangan dan reformulasi produk, notifikasi BPOM, desain logo dan kemasan, serta berbagai kebutuhan pendukung pengembangan brand. EFBA

Dengan demikian, brand owner dapat melihat proses pengembangan secara menyeluruh:

Formula Development → Product Development → Regulatory → Manufacturing → Brand Development

Pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada formula yang terlihat menarik di laboratorium. Sebaliknya, tim perlu menyiapkan produk agar dapat memasuki tahap produksi dan pasar melalui proses yang lebih terstruktur.

FAQ tentang Formulasi Skincare

Apa itu formulasi skincare?

Formulasi skincare merupakan proses merancang komposisi bahan aktif dan bahan pendukung untuk menghasilkan produk perawatan kulit. Proses tersebut mencakup fungsi, tekstur, karakter, keamanan, stabilitas, dan kualitas yang sesuai dengan konsep produk.

Bagaimana cara memilih bahan aktif skincare?

Mulailah dengan menentukan target konsumen dan fungsi utama produk. Selanjutnya, pilih bahan yang relevan dengan tujuan formulasi skincare.

Setelah itu, formulator perlu mengevaluasi kompatibilitas bahan, konsentrasi, sistem formula, stabilitas, serta kesesuaiannya dengan persyaratan BPOM.

Apakah semakin banyak bahan aktif membuat skincare semakin bagus?

Tidak. Jumlah bahan aktif tidak otomatis menentukan kualitas sebuah formula.

Sebaliknya, formulator perlu melihat fungsi setiap bahan, konsentrasi, kompatibilitas, stabilitas, pH, tekstur, dan karakter produk secara keseluruhan. Karena itu, formula yang lebih sederhana tetap dapat memberikan hasil yang sesuai apabila tim mengembangkan komposisinya berdasarkan kebutuhan produk.

Apakah formula skincare harus diuji sebelum diproduksi?

Ya, tim perlu mengevaluasi formula sebelum masuk ke produksi. Dalam layanan maklon EFBA, tim R&D mengembangkan formula, melakukan pengujian stabilitas dan keamanan, serta membuat sampel sebelum produksi massal. Maklon PT. Efba Digital Mulia

Dengan tahapan tersebut, brand dapat menilai karakter produk sekaligus memastikan tim memiliki dasar yang memadai sebelum melanjutkan ke produksi.

Berapa kali sampel skincare bisa direvisi?

Jumlah revisi bergantung pada kesepakatan layanan dan kebutuhan setiap proyek. Karena itu, brand perlu menilai setiap sampel berdasarkan formula, tekstur, aroma, warna, sensasi penggunaan, serta kesesuaiannya dengan konsep produk.

Jika hasil evaluasi belum sesuai, brand dapat menyampaikan masukan kepada tim R&D. Tim kemudian dapat menyesuaikan formula dan menyiapkan sampel berikutnya sesuai ruang lingkup pengembangan.

Berapa lama proses formulasi skincare?

Setiap produk memiliki durasi pengembangan yang berbeda. Faktor seperti kompleksitas formula, jumlah revisi, bahan yang digunakan, pengujian, packaging, legalitas, dan persiapan produksi dapat memengaruhi timeline.

Saat ini, EFBA Kosmetindo mempublikasikan estimasi pembuatan sampel sekitar 7–14 hari kerja. Sementara itu, keseluruhan proses maklon membutuhkan waktu lebih panjang karena mencakup legalitas, packaging, dan produksi. Efbakosmetindo

Apakah saya bisa membuat formula skincare sendiri?

Bisa. Namun, brand tetap perlu meminta evaluasi teknis dan regulasi sebelum membawa formula tersebut ke tahap produksi.

Dalam ekosistem layanan EFBA, brand dapat membawa konsep atau formula sendiri. Selain itu, brand juga dapat meminta dukungan tim pengembangan formula sesuai kebutuhan proyek. Maklon PT. Efba Digital Mulia

Apakah EFBA Kosmetindo melayani konsultasi formulasi skincare?

Ya. EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan konsultasi produk dan pengembangan formula sebagai bagian dari proses pengembangan kosmetik.

Selanjutnya, brand dapat melanjutkan proses ke pembuatan sampel, desain, legalitas, dan persiapan produksi sesuai kebutuhan. Efbakosmetindo

Dari Ide Formula hingga Produk Siap Diproduksi

Membangun produk skincare membutuhkan lebih dari sekadar mencari bahan aktif yang sedang populer.

Pertama, brand perlu memahami target konsumen dan menentukan fungsi produk. Kemudian, tim mengembangkan formula berdasarkan konsep tersebut.

Setelah itu, brand bersama tim R&D mengevaluasi sampel dan melakukan revisi jika diperlukan. Selanjutnya, tim menyesuaikan packaging, memeriksa aspek regulasi, dan menyiapkan produk untuk proses manufaktur.

Alurnya dapat diringkas menjadi:

Market Need → Product Concept → Formula → Sample → Evaluation → Approval → Packaging → BPOM → Production → Quality Control

Karena itu, setiap tahap formulasi skincare memiliki peran dalam membangun produk yang konsisten dan siap dikembangkan secara komersial.

Jika Anda memiliki ide produk tetapi belum mengetahui formula yang tepat, EFBA Kosmetindo menyediakan konsultasi pengembangan produk dan layanan maklon skincare. Tim dapat membantu mengarahkan proses mulai dari konsep, formulasi, sampel, legalitas, hingga persiapan produksi.

Kosmetik Mengandung Merkuri: Mengapa Bahan Ini Berbahaya dan Dilarang?

kosmetik mengandung merkuri
kosmetik mengandung merkuri

Kosmetik mengandung merkuri berbahaya karena paparan merkuri dapat menimbulkan iritasi, perubahan warna kulit, dan risiko kerusakan ginjal. Merkuri juga termasuk bahan yang dilarang dalam kosmetik di Indonesia. Pada 2026, BPOM masih menemukan kosmetik yang mengandung merkuri dalam pengawasan pasar. Temuan tersebut menunjukkan bahwa masalah keamanan kosmetik masih membutuhkan perhatian serius. POM – Pengawasan Kosmetik 2026

Bagi konsumen, temuan tersebut menjadi alasan untuk semakin teliti sebelum menggunakan skincare. Sementara itu, calon brand owner perlu melihat kasus merkuri sebagai pengingat untuk memeriksa formula, bahan baku, fasilitas produksi, legalitas, dan partner maklon. Harga maupun kecepatan produksi saja tidak cukup untuk menentukan keamanan sebuah produk.

Prinsip dasarnya:

Ingredient → Formula → Supplier → Production → Quality Control → BPOM → Product Safety → Consumer Trust

Karena itu, brand yang ingin bertahan dalam jangka panjang perlu menempatkan keamanan produk di atas klaim pemasaran.

Apa Itu Merkuri dalam Kosmetik?

Merkuri atau Hg (air raksa) merupakan logam berat. Dalam praktik ilegal, pelaku pernah menambahkan merkuri pada produk yang menawarkan efek pemutih atau pencerah kulit secara cepat. BPOM secara konsisten memasukkan merkuri sebagai bahan yang dilarang dalam kosmetik. POM – Pengawasan Peredaran Kosmetika

Namun, brand owner perlu membedakan merkuri yang sengaja ditambahkan ke dalam kosmetik dengan cemaran logam berat dalam jumlah sangat kecil. BPOM menjelaskan bahwa trace element logam berat dapat muncul sebagai cemaran yang sulit dihindari. Karena itu, regulator menetapkan batas cemaran tertentu dan membutuhkan metode laboratorium untuk mengujinya. POM – Deteksi Cemaran Logam Berat dalam Kosmetika

Selain itu, jangan menggunakan cara sederhana seperti menggosok kosmetik dengan cincin emas untuk mencari merkuri. BPOM menyatakan bahwa pengujian cemaran logam berat membutuhkan metode laboratorium seperti AAS atau ICP. POM – Deteksi Cemaran Logam Berat dalam Kosmetika

Mengapa Merkuri Dilarang dalam Kosmetik?

Alasan utamanya berkaitan dengan risiko kesehatan.

BPOM menjelaskan bahwa kosmetik yang mengandung merkuri dapat menyebabkan perubahan warna kulit berupa bintik-bintik hitam, reaksi alergi, iritasi kulit, sakit kepala, diare, muntah, hingga kerusakan ginjal. Pada temuan kosmetik berbahaya tahun 2026, BPOM kembali menegaskan risiko perubahan warna kulit, iritasi, dan kerusakan organ seperti ginjal akibat merkuri. POM – Temuan Kosmetik Berbahaya

Oleh sebab itu, efek kulit yang terlihat cepat tidak dapat menjadi ukuran keamanan sebuah kosmetik.

Bagi brand owner, gunakan prinsip berikut:

Fast Result ≠ Safe Product

Sebaliknya, prioritaskan:

Safe Formula → Regulatory Compliance → Controlled Production → Quality → Consumer Trust

Selain itu, brand perlu menyusun klaim produk berdasarkan formula dan bukti yang sesuai. Jangan meminta formulator memasukkan bahan berisiko hanya untuk mengejar efek yang dramatis.

5 Bahaya Kosmetik Mengandung Merkuri yang Perlu Dipahami

1. Dapat Menyebabkan Iritasi dan Reaksi Alergi

Kosmetik yang mengandung merkuri dapat menimbulkan reaksi pada kulit. BPOM mencantumkan iritasi dan reaksi alergi sebagai beberapa risiko yang dapat muncul akibat penggunaan kosmetik bermerkuri. POM – Temuan Kosmetik Berbahaya

Sayangnya, sebagian konsumen menganggap rasa panas, perih, atau perubahan kulit sebagai tanda bahwa produk sedang “bekerja”. Padahal, reaksi tersebut justru dapat menunjukkan masalah pada produk atau ketidakcocokan terhadap kulit.

Jika muncul reaksi yang mengkhawatirkan, hentikan penggunaan dan cari bantuan tenaga kesehatan yang sesuai.

2. Dapat Menimbulkan Perubahan Warna Kulit

Produk yang menawarkan efek pencerahan secara instan perlu mendapat perhatian lebih, terutama ketika produsen atau legalitasnya tidak jelas.

BPOM menjelaskan bahwa merkuri dapat menyebabkan perubahan warna kulit berupa bintik-bintik hitam. Dalam temuan BPOM pada 2026, merkuri kembali dikaitkan dengan perubahan warna kulit permanen dan iritasi. POM – Pengawasan Kosmetik 2026

Oleh karena itu, brand skincare sebaiknya menghindari klaim ekstrem yang dapat mendorong penggunaan bahan berbahaya.

Marketing Claim harus mengikuti Product Evidence — bukan sebaliknya.

3. Paparan Merkuri Dapat Berdampak pada Ginjal

Risiko merkuri tidak hanya berkaitan dengan tampilan kulit.

BPOM menyebut kerusakan ginjal sebagai salah satu risiko kesehatan dari merkuri dalam kosmetik. Fakta tersebut menunjukkan bahwa kosmetik bermerkuri merupakan persoalan keamanan kesehatan, bukan sekadar masalah kualitas skincare. POM – Temuan Kosmetik Berbahaya

Karena itu, pemilik brand perlu memasukkan keamanan formula sejak tahap awal pengembangan produk.

Product Idea → Ingredient Review → Formula → Sample → Evaluation → Legalitas → Production → QC

Jangan mengubah urutan tersebut hanya demi mengejar tren pasar.

4. Merkuri Tidak Bisa Dipastikan Hanya dari Tampilan Produk

Warna, aroma, tekstur, dan tampilan kemasan tidak dapat menunjukkan apakah sebuah produk mengandung merkuri.

BPOM secara khusus mengingatkan bahwa metode populer seperti menggosok produk dengan cincin emas tidak dapat menjadi metode valid untuk mendeteksi cemaran logam berat. Laboratorium perlu melakukan pengujian untuk menghasilkan identifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan. POM – Deteksi Cemaran Logam Berat dalam Kosmetika

Dengan demikian, konsumen sebaiknya tidak hanya mengandalkan ciri fisik produk.

Bagi brand owner, pengendalian harus mencakup:

Supplier Documentation → Ingredient Control → Formula → Production Control → Laboratory/Quality Evaluation → Legal Compliance

Melalui pendekatan tersebut, perusahaan dapat mengendalikan keamanan produk melalui dokumentasi dan proses, bukan sekadar memeriksa produk akhir.

5. Produk Bermasalah Dapat Menghancurkan Kepercayaan Brand

Bagi perusahaan kosmetik, risiko keamanan tidak berhenti pada produk.

Masalah keamanan dapat memengaruhi konsumen, legalitas, reputasi, distribusi, marketplace, dan keberlanjutan brand. Pada temuan Triwulan I 2026, BPOM mengambil tindakan berupa pencabutan izin edar serta penghentian sementara kegiatan, termasuk produksi, distribusi, dan impor terhadap produk terkait. POM – Temuan Kosmetik Berbahaya Triwulan I 2026

Dampaknya dapat mengikuti alur berikut:

Unsafe Product → Consumer Risk → Regulatory Action → Reputation Risk → Business Risk

Dengan demikian, keamanan formula juga menjadi bagian dari strategi bisnis.

Kosmetik Berbahaya Masih Ditemukan pada 2026

Kasus kosmetik yang mengandung bahan berbahaya masih terjadi pada 2026.

Dalam pengawasan rutin Triwulan I 2026, BPOM menemukan 11 kosmetik yang terbukti mengandung bahan berbahaya dan/atau bahan yang dilarang. Empat produk berasal dari kontrak produksi, dua produk merupakan produk lokal, dua lainnya merupakan produk impor, dan tiga produk tidak memiliki izin edar. POM – Temuan Kosmetik Berbahaya Triwulan I 2026

Hasil laboratorium menemukan antara lain asam retinoat, deksametason, hidrokuinon, merkuri, pewarna Merah K10, dan 1,4-dioksan. Setelah itu, BPOM mengambil tindakan, termasuk mencabut izin edar dan menghentikan sementara kegiatan terhadap produk terkait. POM – Temuan Kosmetik Berbahaya Triwulan I 2026

Pada Triwulan II 2026, BPOM kembali menemukan 14 kosmetik yang mengandung bahan berbahaya dan/atau bahan dilarang. Sebelas produk merupakan produk lokal yang dibuat melalui kontrak produksi, satu produk merupakan produk impor, dan dua produk tidak memiliki izin edar. BPOM juga melakukan pengujian laboratorium terhadap seluruh temuan tersebut. Balai Pengujian Khusus Obat dan Makanan – Peringatan Publik

Data tersebut memberikan pelajaran penting bagi brand owner:

Sistem Maklon ≠ Jaminan Keamanan Produk

Karena itu, brand tetap perlu memeriksa manufacturer, pengembangan formula, pengendalian bahan, standar fasilitas produksi, legalitas produk, dan sistem quality control.

Apa yang Harus Diperhatikan Brand Owner Sebelum Memilih Maklon?

Jangan memilih jasa maklon hanya karena perusahaan menawarkan harga termurah, MOQ rendah, atau janji produksi cepat.

Sebaliknya, evaluasi seluruh proses pengembangan:

Konsep Produk → Formula → Ingredient → Supplier → Sample → Legalitas → Production → Quality Control → Produk Siap Dipasarkan

Pertama, tanyakan pihak yang mengembangkan formula. Kemudian, pahami bahan yang digunakan, proses pembuatan sampel, fasilitas produksi, status legalitas, dan tahapan quality control.

Selain itu, pastikan fasilitas produksi memiliki standar yang sesuai untuk produksi kosmetik. Langkah tersebut semakin penting karena BPOM menemukan produk bermasalah pada skema kontrak produksi selama 2026. POM – Temuan Kosmetik Berbahaya Triwulan I 2026

Untuk pembahasan lebih lengkap, baca juga artikel EFBA Kosmetindo tentang [Bisnis Skincare: Legalitas dan Keamanan Harus Jadi Prioritas]. Artikel tersebut membahas hubungan antara keamanan formula, legalitas, produksi, dan kepercayaan konsumen. Bisnis Skincare: Legalitas dan Keamanan Harus Jadi Prioritas

kosmetik mengandung merkuri
kosmetik mengandung merkuri

Legalitas dan Quality Control Bukan Sekadar Administrasi

Brand baru sering kali memprioritaskan nama, logo, packaging, influencer, dan strategi launching. Namun, bisnis kosmetik perlu membangun fondasi produk jauh sebelum menjalankan aktivitas pemasaran.

Mulailah dari:

Formula → Safety → Quality → Legalitas → Production

Setelah fondasi tersebut siap, brand dapat mengembangkan tahap berikutnya:

Branding → Marketing → Distribution → Sales → Repeat Order

Prinsip tersebut juga EFBA Kosmetindo jelaskan dalam artikel Jasa Produksi Kosmetik: Aman, Legal & Berkualitas. Artikel tersebut membahas proses konsultasi produk, pengembangan formula, pembuatan sampel, legalitas, hingga persiapan produksi. Efbakosmetindo

Dengan pendekatan tersebut, brand owner dapat membahas aspek legalitas dan kualitas sejak tahap awal. Jadi, tim tidak perlu menunggu produk selesai sebelum memeriksa kebutuhan regulasi dan standar mutu.

Expertise EFBA Kosmetindo dalam Pengembangan Produk Kosmetik

EFBA Kosmetindo menyediakan layanan pengembangan kosmetik yang mencakup konsultasi, formulasi, sampel, legalitas, dan persiapan produksi. Selain itu, website resminya menjelaskan bahwa tim mengembangkan produk melalui proses konsultasi dan menggunakan sampel sebagai acuan sebelum menjalankan produksi. Efbakosmetindo

Menurut informasi yang EFBA Kosmetindo publikasikan, perusahaan mulai berpengalaman dalam industri maklon sejak 2020. Website tersebut juga mencantumkan 150+ brand yang telah mempercayakan pengembangan produk serta 450K+ produk yang telah diproduksi. Angka tersebut berasal dari publikasi perusahaan sendiri, sehingga pembaca sebaiknya menganggapnya sebagai informasi perusahaan dan bukan hasil audit independen. Efbakosmetindo

Selanjutnya, calon brand owner dapat mempelajari layanan Maklon Kosmetik EFBA Kosmetindo untuk melihat kategori produk dan dukungan pengembangan yang tersedia. Halaman tersebut juga menjelaskan peran tim dalam membantu proses pengembangan produk. Efbakosmetindo

Jika brand ingin mengembangkan produk perawatan kulit, calon client dapat melihat layanan Maklon Skincare EFBA Kosmetindo. Halaman tersebut menjelaskan layanan formulasi, produksi, perizinan, serta pendampingan pengembangan skincare. Efbakosmetindo

Dengan demikian, calon brand owner dapat menilai partner maklon berdasarkan proses yang mereka jalankan, bukan hanya berdasarkan harga atau materi promosi. Pendekatan ini juga membantu brand memahami tahapan pengembangan produk sebelum mengambil keputusan produksi.

kosmetik mengandung merkuri
kosmetik mengandung merkuri

Mengapa Hal Ini Penting untuk Calon Brand Owner?

Kasus kosmetik mengandung merkuri menunjukkan bahwa membangun brand kosmetik membutuhkan perhatian lebih dari sekadar tampilan produk.

Calon brand owner perlu memahami beberapa hal utama:

Formula → Bahan Baku → Manufacturer → Quality Control → Legalitas → Klaim Produk

Selain itu, brand owner perlu mengetahui siapa yang mengembangkan formula, dari mana bahan baku berasal, siapa yang memproduksi produk, bagaimana tim melakukan quality control, serta bagaimana perusahaan memastikan klaim produk sesuai dengan ketentuannya.

EFBA Kosmetindo menjalankan proses pengembangan produk secara terstruktur. Dalam ekosistem EFBA yang lebih luas, layanan Jasa Maklon Kosmetik EFBA mencakup pengembangan atau reformulasi produk, registrasi produk, kemasan, konsultasi bisnis, R&D, serta tahapan uji laboratorium. EFBA

Dengan alur tersebut, calon owner dapat mengubah ide produk menjadi rencana pengembangan yang lebih terarah.

Checklist Brand Owner untuk Mengurangi Risiko Produk Bermasalah

Sebelum bekerja sama dengan perusahaan maklon, brand owner perlu memeriksa beberapa aspek penting berikut:

Legal Company → Manufacturing Facility → CPKB → Ingredient → Supplier → Formula → R&D → Sample → BPOM → QC → Documentation → Production

Selain checklist tersebut, mintalah penjelasan mengenai formula, bahan baku, proses pengembangan, legalitas, perubahan bahan, quality control, serta pihak yang menangani produksi.

Jika sebuah perusahaan hanya menawarkan klaim seperti “cepat putih”, “hasil instan”, atau janji ekstrem lainnya tanpa menjelaskan formula, legalitas, dan dasar produknya, lakukan pemeriksaan lebih lanjut sebelum mengambil keputusan.

Dengan demikian, brand owner dapat menilai produk berdasarkan informasi dan proses yang jelas, bukan hanya berdasarkan materi pemasaran.

FAQ tentang Kosmetik Mengandung Merkuri

Apakah merkuri boleh digunakan dalam kosmetik?

Tidak. Merkuri termasuk bahan yang dilarang dalam kosmetik. PerBPOM Nomor 17 Tahun 2022 mengatur perubahan persyaratan teknis bahan kosmetika, dan BPOM terus menemukan serta menindak produk yang mengandung merkuri. JDIH Badan POM RI

Apa bahaya kosmetik mengandung merkuri?

Menurut BPOM, paparan merkuri dapat menimbulkan iritasi, reaksi alergi, perubahan warna kulit, sakit kepala, gangguan pencernaan, hingga kerusakan ginjal. Tingkat risikonya dapat berbeda sesuai tingkat paparan dan kondisi masing-masing pengguna. POM

Apakah krim yang cepat memutihkan pasti mengandung merkuri?

Tidak. Efek pemutihan yang cepat tidak cukup untuk membuktikan keberadaan merkuri. Pengujian yang valid tetap diperlukan untuk mengetahui kandungan merkuri, dan BPOM menjelaskan bahwa pemeriksaan logam berat memerlukan pengujian laboratorium. POM

Apakah merkuri bisa dideteksi dengan cincin emas?

Tidak. BPOM menyatakan bahwa metode menggosok kosmetik menggunakan cincin emas tidak dapat memastikan keberadaan cemaran logam berat. Untuk menganalisis logam berat, BPOM menyebut metode laboratorium seperti AAS atau ICP. POM

Apakah kosmetik BPOM pasti bebas dari masalah?

Notifikasi BPOM menjadi bagian penting dalam legalitas kosmetik. Namun, pengawasan tetap berlangsung setelah produk beredar. Karena itu, produsen dan brand owner perlu menjaga formula, proses produksi, mutu, serta kepatuhan produk secara berkelanjutan.

Bagaimana konsumen memilih kosmetik yang lebih aman?

BPOM menganjurkan prinsip Cek KLIK, yaitu Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa. Selain itu, konsumen sebaiknya menghindari produk dengan identitas produsen yang tidak jelas, legalitas yang meragukan, atau klaim ekstrem yang tidak masuk akal. Efbakosmetindo

Mengapa brand owner perlu berhati-hati memilih jasa maklon?

BPOM menemukan produk hasil kontrak produksi di antara kosmetik yang mengandung bahan berbahaya atau bahan yang dilarang dalam pengawasan 2026. Oleh sebab itu, brand owner tidak cukup hanya memilih jasa maklon. Mereka juga perlu memeriksa fasilitas, formula, legalitas, quality control, serta proses produksi. POM

Apakah EFBA Kosmetindo menyediakan jasa maklon skincare?

Ya. EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan maklon skincare yang mencakup pengembangan produk, formulasi, perizinan, dan produksi. Untuk mendapatkan detail yang sesuai, calon brand owner perlu mendiskusikan konsep produk, formula, dan kebutuhan pengembangan secara langsung. Efbakosmetindo

logo efba kosmetindo

Bangun Brand Kosmetik dari Keamanan, Bukan Sekadar Tren

Kasus kosmetik mengandung merkuri menunjukkan bahwa produk yang memberikan hasil cepat belum tentu menjadi produk yang tepat untuk konsumen maupun bisnis.

Pada 2026, BPOM masih menemukan kosmetik dengan bahan berbahaya dan dilarang, termasuk merkuri. Temuan tersebut menjadi pengingat bagi brand owner untuk memperhatikan formula, bahan, supplier, legalitas, fasilitas produksi, dokumentasi, dan quality control sejak tahap pengembangan. POM

Gunakan prinsip:

Safe Ingredient → Responsible Formula → Controlled Production → Legal Compliance → Quality → Consumer Trust → Sustainable Brand

EFBA Kosmetindo membantu brand owner melalui proses konsultasi, pengembangan formula, sampel, legalitas, dan persiapan produksi. Jika Anda sedang merencanakan skincare atau kosmetik dengan merek sendiri, mulai dari konsep produk dan proses pengembangan yang jelas sebelum memutuskan produksi. Efbakosmetindo

Untuk pengembangan bisnis yang lebih luas, EFBA Kosmetindo merupakan bagian dari ekosistem PT EFBA Digital Mulia.

10 Ciri Maklon Kosmetik Terpercaya yang Perlu Diketahui Brand Owner

maklon kosmetik terpercaya

Memilih perusahaan maklon merupakan salah satu keputusan penting ketika membangun brand kosmetik. Partner maklon tidak hanya memproduksi serum, moisturizer, body care, atau produk kecantikan lainnya, tetapi juga terlibat dalam formulasi, pembuatan sampel, pengurusan legalitas, pengendalian mutu, kemasan, dan persiapan produk sebelum pemasaran.

Karena itu, brand owner sebaiknya tidak memilih maklon kosmetik terpercaya hanya berdasarkan harga murah, MOQ rendah, atau janji produksi cepat. Brand owner perlu memeriksa legalitas fasilitas produksi, standar CPKB, kemampuan R&D, sistem quality control, proses BPOM, kesiapan halal, transparansi tahapan produksi, hingga portfolio perusahaan.

Cara sederhananya:

Legalitas → CPKB → R&D → Sample → BPOM & Halal → QC → Produksi → Portfolio → Transparansi → Pendampingan

Semakin banyak aspek yang dapat brand owner verifikasi, semakin kuat dasar pengambilan keputusannya.

Apa Ciri Maklon Kosmetik Terpercaya?

Jawaban langsungnya: maklon kosmetik terpercaya memiliki fasilitas dan proses produksi yang sesuai regulasi, menjalankan sistem pengembangan formula dan sampel, membantu proses legalitas produk, menjalankan quality control, memberikan spesifikasi dan tahapan kerja yang jelas, serta menunjukkan pengalaman atau portfolio yang dapat diverifikasi.

Brand owner juga perlu membedakan perusahaan yang benar-benar memiliki kemampuan manufaktur dari pihak yang hanya bertindak sebagai perantara. Hal ini penting karena BPOM telah memperbarui ketentuan sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB) melalui PerBPOM Nomor 8 Tahun 2026. Regulasi tersebut mengatur persyaratan dan tata cara sertifikasi CPKB bagi industri kosmetik. POM

Jadi, jangan memulai pertanyaan dengan:

“Berapa harga maklonnya?”

Mulailah dengan:

“Siapa yang memproduksi produk saya, bagaimana tim mengembangkan formulanya, standar produksi apa yang digunakan, bagaimana proses legalitas berjalan, dan bagaimana tim mengontrol kualitasnya?”

10 Ciri Maklon Kosmetik Terpercaya

1. Memiliki Standar Produksi Kosmetik yang Jelas

Ciri pertama terlihat dari kemampuan perusahaan dalam menunjukkan fasilitas dan standar produksinya. Dalam industri kosmetik, CPKB (Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik) menjadi parameter penting karena berkaitan dengan sistem mutu dan proses produksi kosmetik.

Pada 2026, BPOM menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2026 tentang Sertifikasi CPKB dan menggantikan PerBPOM Nomor 33 Tahun 2021. BPOM menjelaskan bahwa regulasi terbaru tersebut memperbarui persyaratan serta tata cara sertifikasi tanpa menurunkan standar keamanan dan mutu kosmetik. Standar Otskk

Brand owner sebaiknya memeriksa:

Perusahaan → Fasilitas → CPKB → Sistem Mutu → Produksi

Jangan hanya menerima klaim “pabrik terpercaya” dari materi pemasaran. Tanyakan fasilitas mana yang akan memproduksi produk Anda dan standar apa yang perusahaan gunakan.

2. Memiliki Tim R&D dan Proses Pengembangan Formula

Maklon kosmetik yang baik tidak sekadar menerima desain kemasan lalu memproduksi barang. Tim R&D perlu mengembangkan formula agar konsep brand dapat berubah menjadi produk yang realistis.

Tim R&D berperan ketika brand owner menentukan bentuk produk, tekstur, warna, aroma, ingredients, fungsi, pengalaman penggunaan, dan karakteristik lainnya. Karena itu, proses yang sehat biasanya dimulai dari:

Product Idea → Product Brief → R&D → Formula → Sample → Evaluation

EFBA Kosmetindo mempublikasikan bahwa tim R&D membuat sampel berdasarkan hasil diskusi dengan client. Website resminya juga menampilkan Ahmad sebagai Macloon Expert R&D, bersama tim lain yang menangani brand, kosmetik, skincare, bisnis, dan konsultasi maklon. Efbakosmetindo

Bagi brand owner, keberadaan proses R&D memberi ruang untuk mengevaluasi produk sebelum perusahaan menjalankan produksi dalam jumlah komersial.

3. Memberikan Sampel Sebelum Produksi Massal

Jangan langsung masuk ke produksi massal tanpa memahami produk yang akan Anda terima.

Sampel membantu brand owner mengevaluasi kesesuaian hasil pengembangan dengan product brief. Pada tahap ini, pemilik brand dapat memeriksa tekstur, aroma, warna, sensasi penggunaan, kemasan awal, dan karakter produk lainnya sesuai parameter yang telah disepakati.

Alurnya:

Formula → Sample → Review → Adjustment → Approval → Production

EFBA Kosmetindo menempatkan pembuatan sampel sebagai tahap kedua setelah meeting atau diskusi produk. Setelah client menyetujui sampel, perusahaan melanjutkan proses menuju produksi. Efbakosmetindo

Pola ini penting karena produksi memiliki konsekuensi biaya dan inventory yang lebih besar daripada tahap pengembangan sampel.

4. Membantu Proses Notifikasi BPOM secara Terarah

Kosmetik yang beredar di Indonesia mengikuti sistem notifikasi BPOM. Karena itu, brand owner perlu memahami bahwa legalitas bukan sekadar urusan administratif setelah produk selesai.

BPOM masih mencantumkan Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2022 tentang Tata Cara Pengajuan Notifikasi Kosmetika sebagai regulasi yang berlaku. Regulasi tersebut mengatur tata cara pengajuan notifikasi kosmetika. Standar Otskk

Perusahaan maklon yang terstruktur seharusnya dapat menjelaskan alur:

Formula → Dokumen → Brand → Notifikasi → Approval → Production/Market Preparation

EFBA Kosmetindo mempublikasikan bahwa salah satu tahapan layanannya mencakup pendaftaran varian produk client kepada BPOM. EFBA juga mencantumkan pendampingan legalitas sebagai bagian dari proses pengembangan brand kosmetik. Efbakosmetindo

Brand owner tetap perlu memastikan ruang lingkup layanan, dokumen yang dibutuhkan, timeline, dan tanggung jawab masing-masing pihak sejak awal.

5. Memahami Persiapan Sertifikasi Halal Kosmetik

Aspek halal menjadi semakin penting pada 2026.

BPJPH menyatakan bahwa berdasarkan PP Nomor 42 Tahun 2024, produk kosmetik termasuk kategori yang wajib memiliki sertifikat halal mulai 18 Oktober 2026 sesuai tahapan yang ditetapkan pemerintah. Kebijakan tersebut menjadi alasan kuat bagi brand owner untuk membicarakan aspek halal sejak tahap awal pengembangan produk. BPJPH Halal

Karena itu, calon brand owner sebaiknya menanyakan:

Ingredients → Supplier → Formula → Production → Documentation → Halal Readiness

Dengan membahas aspek tersebut sejak awal, brand owner dapat memahami kesiapan bahan, supplier, formula, proses produksi, serta dokumen yang berkaitan dengan persiapan halal.

Jangan menunggu produk selesai diproduksi untuk membicarakan kebutuhan halal. Brand owner dapat memasukkan aspek regulasi sejak tahap product development agar perusahaan dapat mengurangi kebutuhan perubahan yang tidak direncanakan di kemudian hari.

6. Menjalankan Quality Control pada Produksi

Produk yang bagus saat menjadi sampel harus tetap konsisten ketika masuk ke produksi.

Di sinilah quality control menjadi penting. Brand owner perlu memastikan bahwa tim produksi menggunakan formula, sampel, spesifikasi, dan parameter produksi yang sudah disepakati sebagai acuan untuk produk komersial.

Gunakan prinsip:

Approved Sample → Production Standard → Quality Control → Finished Product

Website EFBA mengenai jasa maklon kosmetik menyebut bahwa tim menjalankan proses produksi dan pengemasan berdasarkan standar yang telah mereka tetapkan. Website tersebut juga menempatkan R&D dan quality control sebagai bagian dari pengembangan produk. EFBA

Brand owner sebaiknya menanyakan bagaimana tim menangani perubahan formula, bahan, kemasan, atau spesifikasi apabila perubahan tersebut muncul selama proses pengembangan.

Dengan begitu, brand owner dapat mengetahui siapa yang mengambil keputusan, bagaimana tim mencatat perubahan, dan bagaimana perusahaan menjaga konsistensi produk.

7. Menjalankan Proses Maklon yang Transparan dari Awal sampai Produksi

Maklon kosmetik terpercaya seharusnya mampu menjelaskan proses kerja kepada calon client dengan bahasa yang mudah dipahami.

Brand owner perlu mengetahui apa yang terjadi setelah konsultasi, kapan tim membuat sampel, kapan tim menyiapkan desain, kapan perusahaan memproses legalitas, kapan tim memulai produksi, dan bagaimana perusahaan menyerahkan produk.

EFBA Kosmetindo mempublikasikan alur tujuh langkah:

Diskusi/Meeting → R&D & Sample → Desain & Packaging → HKI → BPOM → Produksi → Distribusi

EFBA Kosmetindo juga menyatakan bahwa tim produksi mengacu pada sampel yang telah client setujui. Efbakosmetindo

Transparansi seperti ini membantu brand owner memperkirakan timeline sekaligus memahami tanggung jawabnya pada setiap tahap.

Sebelum bekerja sama, brand owner dapat meminta penjelasan mengenai:

  • Tahapan pengembangan produk
  • Timeline setiap tahap
  • PIC pada setiap proses
  • Dokumen yang perlu disiapkan
  • Biaya pada setiap tahap
  • Proses approval sampel
  • Proses legalitas
  • Tahapan produksi dan distribusi

Semakin jelas perusahaan menjelaskan proses tersebut, semakin mudah brand owner memantau perkembangan produknya.

8. Memiliki Portfolio dan Dokumentasi yang Bisa Dilihat

Pengalaman sebaiknya tidak hanya muncul sebagai klaim pemasaran.

Brand owner dapat mencari bukti yang bisa diperiksa, seperti portfolio, dokumentasi produk, kategori produk yang pernah dikembangkan, informasi fasilitas, dan profil tim.

Website resmi EFBA Kosmetindo menampilkan bagian Portfolio sebagai dokumentasi pengembangan brand kosmetik bersama EFBA Kosmetindo. Website tersebut juga menyatakan bahwa EFBA Kosmetindo mulai berpengalaman di industri maklon sejak 2020, telah dipercaya oleh 150+ brand, dan telah memproduksi 450K+ produk. Efbakosmetindo

Data tersebut merupakan angka yang EFBA Kosmetindo publikasikan sendiri. Karena itu, pembaca sebaiknya memahami angka tersebut sebagai informasi perusahaan, bukan sebagai hasil audit independen.

Bagi calon client, portfolio tetap membantu untuk melihat aktivitas perusahaan dan menilai apakah pengalaman tersebut relevan dengan kategori produk yang ingin mereka kembangkan.

Brand owner dapat memeriksa:

Portfolio → Product Category → Documentation → Relevant Experience → Fit with Brand

Dengan cara ini, calon client tidak hanya melihat jumlah portfolio, tetapi juga relevansinya dengan kebutuhan produk.

9. Memiliki Tim yang Kompetensinya Dapat Diidentifikasi

Brand owner tidak hanya bekerja dengan nama perusahaan. Di balik proses maklon terdapat orang yang menangani formulasi, produk, brand, legalitas, konsultasi, dan pengembangan bisnis.

Karena itu, salah satu ciri partner yang lebih transparan adalah perusahaan berani menunjukkan siapa saja anggota tim yang terlibat serta bidang pekerjaan masing-masing.

EFBA Kosmetindo menampilkan profil tim pada website resminya, antara lain bidang Brand & Skincare, Brand & Cosmetics, R&D Maklon, serta konsultasi bisnis maklon. Website tersebut juga menyediakan informasi kontak profesional tim secara publik. Efbakosmetindo

Struktur tersebut relevan karena pembangunan brand kosmetik membutuhkan komunikasi lintas fungsi.

Gunakan alur:

Idea → Product → Formula → Brand → Legal → Production → Market

Semakin jelas PIC dan perannya, semakin mudah brand owner mengelola proses pengembangan.

Brand owner juga dapat menanyakan siapa PIC untuk setiap tahapan agar komunikasi berjalan lebih terarah.

Misalnya:

Product Development → R&D

Brand & Packaging → Brand Team

Legal & BPOM → Regulatory/Legal PIC

Production → Production Team

Quality → QC Team

Pembagian tersebut membantu brand owner mengetahui kepada siapa mereka perlu menyampaikan pertanyaan, revisi, atau persetujuan pada setiap tahap pengembangan.

maklon kosmetik terpercaya
maklon kosmetik terpercaya

10. Tidak Hanya Mengejar Produksi, tetapi Membantu Kesiapan Brand

Maklon yang tepat tidak berarti harus mengurus seluruh bisnis client. Namun, partner maklon perlu memahami tujuan utama produk: menyiapkan produk agar siap masuk ke pasar.

Karena itu, diskusi awal sebaiknya mencakup target konsumen, positioning, konsep produk, harga yang dituju, kemasan, serta kategori pasar. Informasi tersebut membantu tim R&D dan pengembangan produk menerjemahkan kebutuhan bisnis menjadi product brief yang lebih jelas.

Dalam penjelasannya, EFBA Kosmetindo menyebut bahwa pendampingan dimulai dari konsep, formulasi, sampel, desain, legalitas hingga persiapan produksi. Selain itu, website EFBA juga mempublikasikan layanan konsultasi bisnis dan strategi pemasaran sebagai bagian dari ekosistem pengembangan produk. Efbakosmetindo

Artinya, proses ideal bukan:

Punya Uang → Cari Produk → Produksi

Sebaliknya, brand owner dapat menggunakan alur:

Target Market → Product Concept → Formula → Sample → Brand → Legalitas → Production → Marketing

Alur tersebut membantu brand owner menghubungkan kebutuhan pasar dengan pengembangan produk sejak tahap awal.

Kenapa Legalitas Pabrik Maklon Semakin Penting?

Pada 2026, regulasi industri kosmetik mengalami pembaruan penting.

BPOM menetapkan PerBPOM Nomor 8 Tahun 2026 tentang Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB). Regulasi ini menggantikan PerBPOM Nomor 33 Tahun 2021 dan mulai berlaku pada 29 April 2026. Standar Otskk

Menurut penjelasan BPOM, regulasi baru tersebut mencakup persyaratan dan tata cara sertifikasi CPKB, sistem mutu, ketentuan bagi industri kosmetik Golongan A dan B, serta mekanisme sertifikasi. BPOM juga menegaskan bahwa industri yang hanya memperoleh Sertifikat Pemenuhan Aspek CPKB tidak boleh menerima kontrak produksi. POM

Informasi tersebut menjadi pertimbangan penting bagi calon brand owner.

Sebelum menjalin kerja sama dengan perusahaan maklon, pastikan Anda memahami beberapa hal berikut:

Identitas Manufacturer → Lokasi Fasilitas → Status CPKB → Legalitas Produk → Quality Control

Dengan demikian, brand owner tidak hanya menilai perusahaan berdasarkan harga dan tampilan media sosial. Mereka juga dapat memeriksa fasilitas, sistem mutu, legalitas, serta proses produksi yang perusahaan jalankan.

Halal Juga Perlu Disiapkan Sekarang

Selain regulasi produksi, aspek halal juga perlu masuk dalam perencanaan brand kosmetik.

BPJPH menegaskan bahwa mulai 18 Oktober 2026, kategori produk yang masuk tahap kewajiban sertifikasi halal mencakup kosmetik, sesuai PP Nomor 42 Tahun 2024 dan ketentuan terkait Jaminan Produk Halal. BPJPH Halal

Karena itu, brand owner perlu mempertimbangkan kebutuhan halal ketika memilih bahan baku, menyusun formula, memilih supplier, menyiapkan dokumentasi, dan merancang proses produksi.

Bagi brand owner yang sedang mengembangkan produk pada 2026, pertanyaannya bukan lagi hanya:

“Bisa dibantu BPOM?”

Lebih jauh lagi, tanyakan:

“Bagaimana kesiapan produk saya terhadap BPOM, CPKB, HKI, dan kebutuhan halal?”

Pertanyaan tersebut membantu brand owner membahas aspek regulasi sejak awal, bukan setelah proses produksi berjalan.

Expertise EFBA Kosmetindo sebagai Partner Pengembangan Brand

EFBA Kosmetindo menyebut bahwa pengalaman perusahaan di industri maklon dimulai sejak 2020. Pada website resminya, perusahaan juga mencantumkan 150+ brand yang telah mempercayakan pengembangan produk dan 450K+ produk yang telah perusahaan produksi. Efbakosmetindo

Namun, calon client tidak cukup melihat angka tersebut. Proses kerja perusahaan juga perlu menjadi bahan pertimbangan.

EFBA Kosmetindo menjelaskan alur kerja yang dimulai dari meeting client, pengembangan sampel oleh R&D, desain produk dan packaging, pendaftaran HKI, pendaftaran BPOM, produksi berdasarkan sampel yang client setujui, hingga distribusi produk kepada client. Efbakosmetindo

Untuk kebutuhan yang lebih spesifik, Maklon Kosmetik EFBA Kosmetindo mencakup berbagai kategori kosmetik. Sementara itu, brand yang berfokus pada produk perawatan kulit dapat mempelajari layanan Maklon Skincare EFBA Kosmetindo. Efbakosmetindo

Selain skincare dan kosmetik, EFBA Kosmetindo juga menyediakan layanan Maklon Body Care. Dengan demikian, calon client dapat memulai diskusi berdasarkan kategori produk yang ingin mereka kembangkan. Efbakosmetindo

Bagaimana dengan Review dan Pengalaman Client EFBA Kosmetindo?

Untuk membangun E-E-A-T yang kuat, jangan membuat atau memparafrasekan review seolah-olah berasal dari client jika sumber pernyataannya tidak jelas.

Saat ini, calon client dapat melihat beberapa bentuk bukti pengalaman melalui website EFBA Kosmetindo, yaitu angka 150+ brand, 450K+ produk, portfolio atau dokumentasi pengembangan brand, profil tim, serta alur kerja maklon yang perusahaan publikasikan. Efbakosmetindo

Selain itu, website EFBA pada layanan maklon menampilkan contoh brand mitra, termasuk Docteur Inc by dr. Monthique. Website tersebut juga menyatakan bahwa produk mitra telah beredar di masyarakat maupun marketplace. Informasi tersebut berasal dari publikasi resmi perusahaan.

Karena itu, sebut informasi tersebut sebagai portfolio yang EFBA publikasikan, bukan sebagai review independen dari konsumen. Dengan cara ini, pembaca dapat membedakan informasi perusahaan dari pengalaman client yang berasal dari sumber independen. Maklon PT. Efba Digital Mulia

Jika EFBA Kosmetindo nantinya memiliki review Google atau video testimonial client yang dapat diverifikasi, Anda dapat menempatkan testimonial tersebut setelah bagian ini sebagai real experience evidence.

Pendekatan tersebut membuat informasi pengalaman client lebih transparan. Pembaca dapat melihat perbedaan antara:

Company Information → Portfolio → Client Testimonial → Independent Review

Dengan struktur tersebut, calon brand owner dapat menilai pengalaman perusahaan berdasarkan jenis bukti yang tersedia.

maklon kosmetik terpercaya
maklon kosmetik terpercaya

Checklist Memilih Maklon Kosmetik Sebelum Membayar

Sebelum menentukan partner, jangan terburu-buru hanya karena Anda mendapatkan penawaran harga yang menarik.

Sebaliknya, gunakan checklist berikut untuk mengevaluasi calon partner:

Legal Company → Manufacturing Facility → CPKB → R&D → Sample → BPOM → Halal → QC → Portfolio → Contract → Timeline → PIC

Selanjutnya, minta penjelasan mengenai formula, sampel, MOQ, biaya, revisi, legalitas, kemasan, timeline produksi, pembayaran, serta prosedur yang berlaku apabila terjadi perubahan selama proses.

Dengan begitu, Anda dapat memahami seluruh ruang lingkup kerja sebelum memulai produksi. Partner maklon yang baik juga seharusnya mampu menjelaskan setiap tahap tersebut secara transparan.

FAQ tentang Maklon Kosmetik Terpercaya

Bagaimana cara memilih maklon kosmetik terpercaya?

Mulailah dengan memeriksa legalitas perusahaan dan fasilitas produksi, status CPKB, kemampuan R&D, proses pembuatan sampel, quality control, bantuan BPOM dan halal, portfolio, kontrak, serta transparansi timeline.

Selain itu, jangan menentukan pilihan hanya berdasarkan harga. Pertimbangkan pula kemampuan produksi, kualitas komunikasi, kejelasan tanggung jawab, dan sistem kerja yang perusahaan tawarkan.

Apakah pabrik maklon kosmetik harus memiliki CPKB?

CPKB merupakan standar penting bagi industri kosmetik. PerBPOM Nomor 8 Tahun 2026 mengatur sertifikasi CPKB dan ketentuan bagi industri kosmetik.

Karena itu, brand owner perlu memverifikasi status fasilitas yang akan memproduksi produknya sebelum menjalin kerja sama. POM

Apakah produk maklon kosmetik harus BPOM?

Kosmetik yang beredar di Indonesia mengikuti ketentuan notifikasi kosmetika BPOM. Saat ini, PerBPOM Nomor 21 Tahun 2022 mengatur tata cara pengajuan notifikasi kosmetika dan masih berstatus berlaku. JDIH Badan POM RI

Oleh karena itu, brand owner perlu membahas proses notifikasi bersama perusahaan maklon sejak tahap awal pengembangan produk.

Apakah kosmetik wajib halal pada 2026?

BPJPH menyatakan kosmetik termasuk kategori yang wajib bersertifikat halal mulai 18 Oktober 2026 sesuai tahapan implementasi PP Nomor 42 Tahun 2024.

Karena itu, brand owner yang sedang mengembangkan produk perlu memasukkan kesiapan halal ke dalam perencanaan sejak awal. BPJPH Halal

Apakah maklon kosmetik membuat sampel sebelum produksi?

Perusahaan maklon yang memiliki proses R&D dapat membuat sampel sebagai tahap evaluasi sebelum produksi. Melalui sampel tersebut, client dapat mengevaluasi formula dan karakter produk sebelum memberikan persetujuan produksi.

EFBA Kosmetindo sendiri mempublikasikan alur R&D dan pembuatan sampel sebelum client memberikan approval untuk produksi. Efbakosmetindo

Dengan demikian, brand owner dapat menggunakan tahap sampel untuk memastikan hasil pengembangan sudah sesuai dengan kebutuhan produk.

Apa yang harus ditanyakan saat meeting dengan perusahaan maklon?

Saat meeting, tanyakan kategori produk, formula, bahan, MOQ, sampel, revisi, kemasan, BPOM, halal, HKI, CPKB, quality control, biaya, timeline, serta PIC yang menangani proyek.

Selain itu, mintalah penjelasan mengenai tanggung jawab masing-masing pihak. Langkah tersebut membantu brand owner memahami ruang lingkup kerja sebelum proses pengembangan dimulai.

Berapa lama proses maklon kosmetik?

Tidak ada satu timeline yang berlaku untuk semua produk. Setiap proyek dapat membutuhkan waktu berbeda karena formula, revisi sampel, kemasan, legalitas, kesiapan bahan, kapasitas produksi, dan kebutuhan produk juga berbeda.

Karena itu, mintalah timeline untuk setiap tahap sebelum menandatangani kerja sama. Dengan cara tersebut, Anda dapat memahami target proses mulai dari pengembangan hingga produksi.

Apakah EFBA Kosmetindo melayani maklon skincare?

Ya. EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan maklon kosmetik dan skincare yang mencakup konsultasi, R&D, sampel, desain, legalitas, serta produksi. Efbakosmetindo

Dengan demikian, calon brand owner dapat mendiskusikan kebutuhan produk skincare sesuai konsep dan kategori yang ingin dikembangkan.

Apakah EFBA Kosmetindo memiliki pengalaman menangani brand?

Website resmi EFBA Kosmetindo menyatakan bahwa perusahaan mulai berpengalaman di industri maklon sejak 2020. Selain itu, perusahaan mencantumkan bahwa 150+ brand telah mempercayakan pengembangan produk kepada EFBA Kosmetindo dan 450K+ produk telah diproduksi.

Angka tersebut merupakan data yang EFBA Kosmetindo publikasikan pada website resminya. Karena itu, calon client dapat menggunakan informasi tersebut sebagai salah satu bahan pertimbangan bersama portfolio, proses kerja, fasilitas, dan informasi lain yang tersedia. Efbakosmetindo

logo efba kosmetindo

Pilih Partner Maklon Berdasarkan Bukti, Bukan Janji

Memilih maklon kosmetik terpercaya sebaiknya dimulai dari verifikasi, bukan sekadar membandingkan harga.

Periksa:

CPKB → R&D → Sample → BPOM → Halal → QC → Portfolio → Team → Transparency → Support

Jika sepuluh aspek tersebut jelas, brand owner memiliki dasar yang lebih kuat untuk menilai calon partner produksi.

EFBA Kosmetindo menyediakan proses pengembangan brand mulai dari konsultasi produk, formulasi dan R&D, sampel, desain, HKI, BPOM, produksi hingga distribusi kepada client. Website resminya juga menyediakan portfolio dan profil tim sehingga calon client dapat mempelajari proses sebelum memulai kerja sama. Efbakosmetindo

Untuk perspektif pengembangan bisnis yang lebih luas, EFBA Kosmetindo berada dalam ekosistem PT EFBA Digital Mulia. EFBA juga mempublikasikan layanan Jasa Maklon Kosmetik EFBA yang menghubungkan pengembangan produk dengan formulasi, legalitas, branding, dan konsultasi bisnis. EFBA

7 Risiko Bisnis Kosmetik yang Harus Diantisipasi Brand Owner Sejak Awal

risiko bisnis kosmetik

Bisnis kosmetik menawarkan peluang besar, tetapi produk yang bagus belum otomatis menghasilkan bisnis yang sehat. Brand owner perlu mengelola produk, legalitas, harga, pemasaran, persediaan, cash flow, hingga respons konsumen secara bersamaan.

Risiko akan meningkat ketika owner terlalu fokus pada produksi dan mengabaikan sisi bisnis. Misalnya, perusahaan mungkin berhasil menyelesaikan produksi, tetapi produk sulit terjual. Selain itu, margin yang terlalu tipis, stok yang menumpuk, biaya marketing yang membesar, atau positioning yang lemah juga dapat menghambat pertumbuhan.

Karena itu, memahami risiko bisnis kosmetik sejak awal membantu owner mengambil keputusan sebelum masalah berkembang. Pendekatan ini menghubungkan pengembangan kosmetik dengan target pasar, positioning, struktur harga, distribusi, pemasaran, dan strategi pertumbuhan.

Mengapa Brand Kosmetik Perlu Mengelola Risiko Sejak Awal?

Setiap keputusan dalam bisnis kosmetik dapat memengaruhi bagian lainnya. Pemilihan produk memengaruhi target pasar, sedangkan harga berhubungan dengan margin dan positioning. Selanjutnya, strategi marketing akan memengaruhi penjualan, inventory, serta cash flow.

Oleh sebab itu, owner perlu melihat bisnis kosmetik sebagai satu sistem. Brand tidak cukup hanya memiliki produk yang menarik. Sebaliknya, perusahaan juga perlu membangun strategi bisnis yang mendukung produk tersebut sejak tahap pengembangan.

Pendekatan tersebut membantu owner mengidentifikasi potensi masalah lebih awal. Dengan demikian, perusahaan dapat menentukan prioritas sebelum mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk produksi dan pemasaran.

Apa Risiko Bisnis Kosmetik yang Paling Perlu Diantisipasi?

Jawaban langsungnya: brand owner perlu mengantisipasi produk yang tidak sesuai pasar, masalah legalitas dan kualitas, positioning yang lemah, harga dan margin yang tidak sehat, stok yang tidak bergerak, pemasaran yang tidak menghasilkan penjualan, serta gangguan cash flow.

Berbagai risiko tersebut saling berhubungan. Produk yang kurang relevan, misalnya, dapat memperlambat penjualan. Selanjutnya, penjualan yang lambat akan meningkatkan inventory, sementara biaya marketing dan operasional tetap berjalan. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat menekan cash flow.

Karena itu, brand owner sebaiknya menggunakan alur:

Market → Product → Compliance → Price → Marketing → Sales → Inventory → Cash Flow → Evaluation

Artinya, jangan menunggu bisnis mengalami masalah sebelum melakukan evaluasi. Sejak tahap pengembangan produk, brand perlu menentukan indikator utama untuk memantau performa bisnis.

Selain itu, owner dapat melakukan evaluasi secara berkala agar perubahan pasar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Data BPOM Menunjukkan Pentingnya Mengelola Risiko Kosmetik

Risiko dalam industri kosmetik tidak hanya berkaitan dengan aspek komersial. Brand juga perlu memberikan perhatian serius pada kepatuhan, keamanan produk, distribusi, dan pemasaran.

Dalam intensifikasi pengawasan pada 11–22 Mei 2026, BPOM mengawasi 190 sarana dan menemukan 128 sarana yang tidak memenuhi ketentuan. Selama kegiatan tersebut, BPOM menemukan 2.205 item kosmetik dengan 86,83% berupa kosmetik ilegal. Secara keseluruhan, temuan mencapai lebih dari 2,1 juta pieces dengan nilai keekonomian sekitar Rp35,8 miliar.

Selain itu, BPOM menemukan 14 kosmetik yang mengandung bahan berbahaya atau terlarang dalam pengawasan April–Juni 2026. Sebelas item dari temuan tersebut merupakan produk lokal yang menggunakan sistem kontrak produksi. Data tersebut tidak menunjukkan bahwa seluruh contract manufacturing bermasalah. Namun, temuan itu menegaskan pentingnya kontrol terhadap formula, manufaktur, legalitas, dan mutu produk.

Sementara itu, perkembangan pasar digital membuat pengawasan semakin relevan. Sepanjang 2025, BPOM mencatat 73.722 tautan penjualan kosmetik ilegal atau tidak sesuai ketentuan melalui patroli siber marketplace.

Dengan demikian, pertumbuhan pasar perlu berjalan bersama product quality, compliance, business control, dan consumer trust. Brand yang ingin bertumbuh perlu mengelola aspek komersial dan kepatuhan secara bersamaan.

1. Risiko Produk Tidak Sesuai Kebutuhan Pasar

Salah satu risiko bisnis kosmetik terbesar muncul ketika brand membuat produk hanya karena tren viral tanpa memahami target konsumen dan kebutuhan pasar. Tren memang dapat menjadi referensi. Namun, popularitas jangka pendek belum tentu menciptakan permintaan yang berkelanjutan.

Sebelum masuk ke produksi, owner perlu memahami konsumennya terlebih dahulu. Mulailah dengan mengidentifikasi masalah konsumen, daya beli, kebiasaan menggunakan produk, preferensi, serta alasan mereka mempertimbangkan produk baru.

Selain itu, referensi pengembangan produk EFBA menekankan pendekatan:

Consumer Problem → Consumer Need → Product Opportunity

Pendekatan tersebut membantu brand memulai pengembangan produk dari kebutuhan konsumen, bukan sekadar mengikuti produk yang sedang ramai.

Antisipasi: lakukan riset konsumen, kompetitor, harga, review, tren, positioning, dan kanal distribusi sebelum menetapkan produk.

Tanda risiko: calon konsumen sulit memahami keunggulan produk, conversion rendah, produk terlihat mirip dengan kompetitor, atau penjualan hanya bergerak ketika brand memberikan diskon.

Dengan kata lain, owner perlu memastikan bahwa produk memiliki alasan yang cukup kuat untuk masuk ke pasar sebelum mengalokasikan anggaran produksi dalam jumlah besar.

2. Risiko Legalitas dan Compliance

Legalitas sebaiknya menjadi bagian dari product development sejak awal. Formula, bahan, notifikasi BPOM, penandaan, klaim, kemasan, promosi, dan dokumentasi memiliki hubungan yang erat.

Hal tersebut penting karena BPOM masih menemukan produk yang tidak memenuhi ketentuan. Pada akhir Mei 2026, misalnya, BPOM menemukan gudang dengan 956 item atau lebih dari 2 juta pieces kosmetik ilegal atau tanpa izin edar dengan nilai keekonomian sekitar Rp27,6 miliar.

Selain aspek BPOM, brand juga perlu memperhatikan implementasi Wajib Halal. BPJPH menyatakan bahwa kosmetik termasuk kategori produk yang memasuki kewajiban sertifikasi halal mulai 18 Oktober 2026 sesuai ketentuan yang berlaku.

Oleh sebab itu, owner perlu memasukkan regulatory check ke dalam roadmap sejak tahap formula dan sampel. Setelah itu, tim dapat melanjutkan pemeriksaan pada packaging, legalitas, serta kesiapan produksi.

Antisipasi: masukkan regulatory check ke dalam roadmap pengembangan produk sejak awal.

Tanda risiko: tim sudah menyelesaikan formula tetapi belum memeriksa aspek regulasi, brand sudah mencetak kemasan sebelum menyelesaikan informasi legal, atau owner baru memikirkan halal dan BPOM menjelang launching.

Dengan pendekatan tersebut, brand dapat mengurangi risiko revisi ketika produk sudah mendekati tahap produksi atau peluncuran.

3. Risiko Positioning Brand Terlalu Lemah

Pasar kosmetik menawarkan banyak pilihan kepada konsumen. Oleh karena itu, istilah seperti “premium”, “berkualitas”, “natural”, atau “terbaik” belum cukup untuk membedakan sebuah brand.

Positioning perlu menjelaskan target konsumen, kebutuhan yang ingin brand jawab, pengalaman yang ingin perusahaan tawarkan, serta alasan konsumen perlu mempertimbangkan produk tersebut.

Dalam materi pengembangan produk EFBA, positioning juga menjadi bagian penting sebelum formulasi. Dengan urutan tersebut, brand dapat menghubungkan keputusan produk dengan strategi bisnis sejak awal.

Antisipasi: tentukan target customer, consumer problem, value proposition, price segment, product character, dan alasan pembeda sebelum masuk ke produksi massal.

Tanda risiko: brand sulit menjelaskan keunggulannya dalam satu kalimat, materi marketing terlalu generik, atau komunikasi hanya mengandalkan bahan aktif yang juga banyak kompetitor gunakan.

Selain itu, positioning yang jelas akan membantu tim menentukan harga, desain kemasan, pesan marketing, channel distribusi, hingga strategi komunikasi. Karena itu, brand perlu membangun positioning sebelum meningkatkan investasi produksi dan pemasaran.

4. Risiko Harga dan Margin Tidak Sehat

Produk dapat menghasilkan penjualan tetapi bisnis tetap menghadapi masalah ketika struktur marginnya tidak sehat. Oleh sebab itu, brand owner perlu menghitung lebih dari sekadar harga maklon dan harga jual.

Perhitungan perlu mencakup biaya pengembangan, kemasan, desain, legalitas, marketplace fee, promosi, komisi reseller, distribusi, operasional, dan kebutuhan marketing. Selain itu, referensi EFBA menekankan pentingnya membandingkan harga dengan positioning serta kemampuan beli target konsumen sebelum produksi massal.

Owner dapat menggunakan alur berikut:

COGS → Gross Margin → Marketing Cost → Operating Cost → Net Margin → Cash Flow

Alur tersebut membantu owner melihat hubungan antara harga jual dan kesehatan finansial bisnis. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya mengejar omzet, tetapi juga menjaga margin dan cash flow.

Antisipasi: hitung seluruh komponen biaya sebelum menentukan harga final. Setelah itu, lakukan simulasi margin untuk harga normal, promo, reseller, marketplace, dan channel distribusi lainnya.

Tanda risiko: penjualan naik tetapi kas tidak bertambah, brand terlalu sering memberikan diskon, biaya mendapatkan pelanggan terlalu tinggi, atau margin tidak cukup untuk membiayai operasional.

Pada akhirnya, harga yang tepat perlu mendukung tiga aspek sekaligus: daya beli konsumen, positioning brand, dan kesehatan finansial perusahaan.

risiko bisnis kosmetik

5. Risiko Stok Menumpuk dan Produk Lambat Bergerak

Produksi dalam jumlah besar dapat menurunkan biaya per unit, tetapi keputusan tersebut juga meningkatkan risiko inventory. Masalah muncul ketika permintaan aktual lebih rendah daripada proyeksi.

Stok yang terlalu lama tersimpan mengikat modal yang seharusnya dapat digunakan untuk marketing, pengembangan produk, operasional, atau kebutuhan bisnis lainnya. Dalam kosmetik, owner juga perlu memperhatikan umur simpan dan kemampuan distribusi produk.

Antisipasi: gunakan forecast konservatif, tentukan target sell-through, pantau inventory turnover, dan sesuaikan produksi berikutnya dengan data penjualan aktual.

Tanda risikonya: stok bergerak lambat, gudang terus bertambah, repeat order rendah, atau bisnis harus memberikan diskon besar hanya untuk menghabiskan inventory.

6. Risiko Marketing Besar tetapi Penjualan Tidak Bertumbuh

Followers, reach, impressions, dan views dapat membantu awareness, tetapi brand tetap membutuhkan penjualan. Risiko muncul ketika perusahaan terus meningkatkan marketing budget tanpa memahami bagian funnel yang bermasalah.

Owner perlu memisahkan masalah traffic, conversion, average transaction value, repeat order, dan retention. Jika traffic tinggi tetapi conversion rendah, menambah iklan belum tentu menyelesaikan masalah. Brand mungkin perlu memperbaiki offer, positioning, product page, trust, harga, atau customer journey.

Antisipasi: pantau alur:

Awareness → Traffic → Leads → Conversion → Transaction → Repeat Order → Retention

Tanda risikonya: traffic naik tetapi transaksi stagnan, biaya iklan terus meningkat, penjualan bergantung pada promo, atau pelanggan jarang melakukan repeat order.

7. Risiko Cash Flow Terganggu karena Pertumbuhan Tidak Terkontrol

Pertumbuhan penjualan tidak selalu sama dengan pertumbuhan kesehatan bisnis. Brand dapat mengalami peningkatan omzet sekaligus menghadapi tekanan cash flow jika terlalu banyak modal masuk ke stok, marketing, ekspansi SKU, atau biaya operasional.

Karena itu, keputusan menambah produk tidak sebaiknya hanya berdasarkan omzet. Brand perlu memeriksa margin, inventory, kebutuhan working capital, biaya marketing, kewajiban pembayaran, dan kas yang tersedia untuk menjalankan operasional.

Antisipasi: buat cash flow projection dan lakukan evaluasi keuangan secara rutin sebelum produksi ulang, menambah SKU, atau meningkatkan marketing budget.

Tanda risikonya: omzet terlihat tinggi tetapi kas terus menipis, stok bertambah lebih cepat daripada penjualan, pengeluaran marketing sulit dikendalikan, atau bisnis mulai kesulitan memenuhi kebutuhan operasional.

Urutan Mengantisipasi Risiko Bisnis Kosmetik

Jika seluruh pembahasan diringkas, brand owner dapat menggunakan alur berikut:

Market Research → Product → Positioning → Formula → Compliance → Costing → Production → Marketing → Sales → Inventory → Cash Flow → Evaluation

Tidak semua masalah membutuhkan perubahan produk. Penjualan yang turun dapat berasal dari positioning, harga, channel, conversion, customer retention, atau kondisi keuangan.

Karena itu, sebelum mengambil keputusan besar, jawab empat pertanyaan berikut:

  1. Apakah produk benar-benar dibutuhkan target konsumen?
  2. Apakah margin dan cash flow masih sehat?
  3. Apakah masalah berada pada produk, marketing, sales, atau operasional?
  4. Apakah bisnis memiliki data yang cukup sebelum mengambil keputusan berikutnya?

Pendekatan ini membantu brand berpindah dari keputusan berbasis asumsi menuju keputusan berdasarkan diagnosis.

Expertise EFBA dalam Bisnis dan Pengembangan Kosmetik

Pengelolaan risiko bisnis kosmetik membutuhkan dua perspektif: produk dan bisnis. Dari sisi produk, owner perlu mengelola konsep, formula, sampel, kemasan, legalitas, produksi, dan kualitas. Dari sisi bisnis, owner perlu memperhatikan target pasar, positioning, harga, distribusi, pemasaran, keuangan, dan strategi pertumbuhan.

Pada materi yang dipublikasikan EFBA, EFBA Kosmetindo mencantumkan layanan konsultasi produk, pengembangan formula, pengembangan sampel, pendampingan legalitas, hingga persiapan produksi. Referensi yang Anda berikan juga menghubungkan kebutuhan strategi bisnis dengan EFBA Consulting untuk marketing, keuangan, dan operasional.

risiko bisnis kosmetik

Karena itu, owner perlu membedakan dua kondisi. Jika masalah muncul pada pengembangan formula, sampel, legalitas, atau persiapan produksi, owner dapat mencari solusi melalui layanan EFBA Kosmetindo. Sebaliknya, ketika produk sudah masuk pasar dan mulai mengalami penjualan stagnan, margin menurun, cash flow terganggu, marketing tidak efektif, atau arah ekspansi kurang jelas, owner perlu mengevaluasi bisnis secara lebih menyeluruh.

Untuk kebutuhan tersebut, brand owner dapat menggunakan layanan EFBA Consulting sebagai referensi pendampingan bisnis. EFBA Consulting membantu perusahaan melihat hubungan antara penjualan, marketing, keuangan, operasional, dan strategi pertumbuhan. Selain itu, owner dapat mengenal ekosistem pengembangan bisnis EFBA melalui EFBA Digital Mulia.

Dengan pembagian tersebut, owner dapat menentukan kebutuhan secara lebih jelas:

Product Development & Legalitas → EFBA Kosmetindo

Business Performance & Growth → EFBA Consulting

FAQ tentang Risiko Bisnis Kosmetik

Apa Risiko Terbesar dalam Bisnis Kosmetik?

Risiko bisnis kosmetik tidak hanya berkaitan dengan kegagalan penjualan. Brand juga perlu mengantisipasi ketidaksesuaian produk dengan kebutuhan pasar, masalah compliance, positioning yang lemah, margin terlalu tipis, penumpukan stok, marketing yang tidak efektif, serta gangguan cash flow.

Selain itu, setiap bisnis dapat menghadapi kombinasi risiko yang berbeda. Karena itu, owner perlu menganalisis kondisi pasar, produk, keuangan, marketing, dan operasional sebelum menentukan prioritas.

Mengapa Produk Kosmetik yang Bagus Bisa Sulit Terjual?

Kualitas produk hanya menjadi salah satu faktor dalam keputusan pembelian konsumen. Target konsumen, positioning, harga, komunikasi, distribusi, customer trust, marketing, dan conversion juga memengaruhi penjualan.

Sebagai contoh, produk dapat memiliki formula yang baik tetapi menggunakan positioning yang kurang jelas. Pada kondisi lain, harga mungkin tidak sesuai dengan target konsumen atau marketing gagal menjangkau audiens yang tepat.

Karena itu, brand perlu menganalisis funnel penjualan sebelum menyimpulkan bahwa produk menjadi sumber masalah.

Apakah Brand Sebaiknya Memproduksi Banyak Stok Sejak Awal?

Tidak selalu. Sebelum menentukan jumlah produksi, owner perlu mempertimbangkan forecast permintaan, kemampuan distribusi, marketing plan, working capital, kapasitas penyimpanan, serta karakter produk.

Produksi dalam jumlah besar tanpa validasi pasar dapat meningkatkan inventory dan menekan cash flow. Sebaliknya, perencanaan volume yang lebih terukur membantu brand menyesuaikan produksi dengan kemampuan penjualan.

Karena itu, owner dapat menggunakan alur:

Market Validation → Sales Forecast → Production Planning → Inventory → Sales → Evaluation

Apa Tanda Bisnis Kosmetik Mulai Bermasalah?

Owner perlu memperhatikan beberapa indikator seperti penjualan stagnan, conversion yang menurun, repeat order rendah, stok meningkat, frekuensi diskon bertambah, marketing cost membesar, margin menurun, serta tekanan pada cash flow.

Satu indikator belum tentu menunjukkan masalah besar. Namun, kombinasi beberapa indikator dapat menunjukkan bahwa bisnis membutuhkan evaluasi lebih mendalam.

Misalnya, peningkatan inventory bersamaan dengan penurunan repeat order dan kenaikan marketing cost dapat menunjukkan masalah pada produk, permintaan pasar, atau efektivitas pemasaran. Dalam kondisi tersebut, owner perlu mencari root cause sebelum menambah promosi atau produksi.

Apakah BPOM Saja Cukup untuk Membuat Bisnis Kosmetik Aman?

Tidak. Kepatuhan regulasi dan keberhasilan komersial memiliki fungsi yang berbeda.

Legalitas membantu brand memenuhi ketentuan yang berlaku. Sementara itu, keberhasilan bisnis membutuhkan target konsumen yang jelas, positioning yang kuat, struktur harga yang sehat, distribusi yang tepat, marketing yang efektif, serta pengelolaan keuangan yang baik.

Karena itu, owner perlu menghubungkan aspek compliance dengan strategi bisnis:

Compliance → Product → Market → Positioning → Sales → Finance → Growth

Produk yang memenuhi aspek legalitas tetap membutuhkan strategi bisnis agar mampu bersaing dan berkembang di pasar.

Kapan Brand Kosmetik Perlu Berkonsultasi Mengenai Bisnis?

Owner dapat mempertimbangkan konsultasi ketika sulit menemukan penyebab penurunan penjualan, margin semakin kecil, marketing tidak menghasilkan conversion, inventory meningkat, atau cash flow mulai tertekan.

Selain itu, konsultasi dapat membantu ketika perusahaan ingin melakukan ekspansi tetapi belum memiliki arah yang jelas. Dalam situasi tersebut, konsultan dapat membantu owner menganalisis data, menemukan root cause, menentukan prioritas, dan menyusun action plan.

Tujuan konsultasi bukan sekadar mencari ide baru. Sebaliknya, proses tersebut membantu owner memahami masalah sebelum mengalokasikan lebih banyak anggaran, menambah produk, meningkatkan marketing, atau melakukan ekspansi.

Antisipasi Risiko Sebelum Menjadi Masalah Besar

Membangun bisnis kosmetik tidak cukup hanya dengan membuat produk dan memasarkannya. Brand owner perlu mengelola risiko bisnis kosmetik dari sisi pasar, produk, legalitas, positioning, harga, marketing, inventory, hingga cash flow.

Selain itu, owner perlu memantau hubungan antara setiap area tersebut. Masalah pada satu bagian dapat memengaruhi bagian lainnya. Penjualan yang melambat, misalnya, dapat meningkatkan inventory dan kemudian memberikan tekanan pada cash flow.

Untuk mengantisipasinya, gunakan alur:

Identify Risk → Diagnose → Prioritize → Action Plan → Monitor → Evaluate → Improve

Jika masalah muncul pada pengembangan produk, formula, sampel, legalitas, dan persiapan produksi, owner dapat melihat layanan EFBA Kosmetindo untuk memahami dukungan pada tahap pengembangan produk.

Sebaliknya, jika masalah sudah memengaruhi penjualan, marketing, margin, cash flow, operasional, atau strategi pertumbuhan, owner dapat menggunakan EFBA Consulting untuk membantu menganalisis kondisi bisnis secara lebih menyeluruh.

Dengan demikian, brand tidak hanya bereaksi ketika masalah sudah membesar. Owner dapat mengenali risiko lebih awal, mencari penyebab utama, menentukan prioritas, serta mengambil tindakan berdasarkan kondisi aktual bisnis.

Risk Identification → Root Cause → Priority → Strategy → Action → Monitoring → Improvement

Pendekatan tersebut membantu brand membangun bisnis kosmetik dengan fondasi yang lebih terukur. Pada akhirnya, tujuan utama bukan sekadar menjual lebih banyak produk, tetapi menjaga keseimbangan antara pertumbuhan penjualan, profitabilitas, cash flow, operasional, dan keberlanjutan bisnis.

logo efba kosmetindo

Tujuannya bukan menghilangkan seluruh risiko. Brand perlu mengetahui risiko mana yang paling penting, mendeteksinya lebih cepat, dan mengambil keputusan berdasarkan kondisi bisnis yang sebenarnya.

Peraturan BPOM Kosmetik yang Perlu Dipahami Pemilik Brand

peraturan BPOM kosmetik

Membangun brand kosmetik tidak berhenti pada formula yang menarik dan kemasan yang terlihat premium. Pemilik brand juga perlu memahami peraturan BPOM kosmetik karena BPOM menetapkan ketentuan mengenai legalitas, formula, informasi pada kemasan, klaim produk, promosi, hingga peredaran kosmetik.

Salah satu bagian penting adalah notifikasi kosmetika. BPOM menetapkan tata cara pengajuan notifikasi melalui Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2022. Selain itu, Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024 mengatur ketentuan mengenai penandaan, promosi, dan iklan kosmetik.

Karena proses regulatory mencakup beberapa tahapan, brand owner tidak harus menangani seluruh proses sendiri. EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan pengembangan kosmetik yang mencakup konsultasi, pengembangan sampel, desain, pendampingan legalitas, hingga persiapan produksi.

Apa Saja Peraturan BPOM Kosmetik yang Perlu Dipahami Pemilik Brand?

Jawaban langsungnya: pemilik brand perlu memahami aturan mengenai notifikasi kosmetika, keamanan dan formula, proses produksi, penandaan atau label, klaim, promosi, iklan, serta pengawasan produk setelah beredar.

BPOM tidak hanya menetapkan ketentuan mengenai nomor notifikasi. Sebagai contoh, PerBPOM Nomor 18 Tahun 2024 secara khusus membahas penandaan, promosi, dan iklan kosmetik. BPOM juga mewajibkan pelaku usaha memberikan informasi yang objektif, lengkap, dan tidak menyesatkan kepada konsumen.

Karena itu, brand owner sebaiknya melihat legalitas sebagai satu rangkaian:

Konsep Produk → Formula → R&D → Sampel → Regulatory Check → Notifikasi BPOM → Label & Klaim → Produksi → Promosi → Produk Beredar

Pendekatan tersebut membantu brand mengurangi risiko revisi ketika produk sudah mendekati tahap produksi atau peluncuran.

Regulasi Resmi BPOM yang Relevan untuk Brand Kosmetik

BPOM memiliki beberapa regulasi yang berkaitan dengan setiap aktivitas dan tahapan pengembangan produk. Untuk proses notifikasi, salah satu regulasi utama adalah PerBPOM Nomor 21 Tahun 2022 tentang Tata Cara Pengajuan Notifikasi Kosmetika. Regulasi tersebut menggantikan PerBPOM Nomor 12 Tahun 2020.

Untuk penandaan, promosi, dan iklan, BPOM menerbitkan PerBPOM Nomor 18 Tahun 2024. Regulasi tersebut mencabut PerBPOM Nomor 30 Tahun 2020 tentang persyaratan teknis penandaan kosmetika dan PerBPOM Nomor 32 Tahun 2021 tentang pengawasan periklanan kosmetika. Peraturan tersebut juga mencabut sebagian ketentuan PerBPOM Nomor 12 Tahun 2023.

Selain itu, BPOM mencantumkan PerBPOM Nomor 16 Tahun 2024 tentang Batas Cemaran dalam Kosmetik sebagai regulasi yang berlaku. Hal tersebut menunjukkan bahwa kepatuhan kosmetik mencakup lebih dari sekadar registrasi administratif.

Dengan memahami peraturan BPOM kosmetik sejak awal, pemilik brand dapat menghubungkan konsep produk, formula, legalitas, kemasan, produksi, dan pemasaran dalam satu proses pengembangan yang lebih terarah.

1. Pemilik Brand Perlu Mengurus Notifikasi BPOM untuk Kosmetik

Notifikasi menjadi salah satu bagian utama yang perlu pemilik brand pahami sebelum mengedarkan kosmetik. PerBPOM Nomor 21 Tahun 2022 menetapkan tata cara pengajuan notifikasi kosmetika.

Pemilik brand sebaiknya memperhitungkan proses tersebut sejak tahap pengembangan produk. Tim perlu menyiapkan formula, informasi produk, kemasan, pihak yang bertanggung jawab atas produk, serta dokumen terkait secara terstruktur.

Karena itu, hindari pola:

Produk Jadi → Baru Memikirkan BPOM

Gunakan alur yang lebih terencana:

Konsep → Formula → Regulatory Preparation → Notifikasi → Produksi & Launch

Dengan alur tersebut, brand dapat memasukkan kebutuhan legalitas ke dalam product development sejak awal.

2. Brand Tidak Bisa Memilih Formula Hanya Berdasarkan Tren

Produk viral sering mendorong brand untuk mengembangkan formula dengan bahan aktif tertentu. Namun, pemilik brand sebaiknya tidak memilih bahan hanya karena popularitasnya di media sosial.

Tim product development perlu mempertimbangkan fungsi produk, komposisi, keamanan, stabilitas, kompatibilitas bahan, klaim yang ingin brand gunakan, serta ketentuan regulator yang relevan. Artinya, brand perlu menghubungkan keputusan formula dengan aspek regulatory sejak proses R&D.

EFBA Kosmetindo mempublikasikan proses maklon yang dimulai dari konsultasi kebutuhan produk dan pengembangan sampel sebelum memasuki tahap legalitas dan persiapan produksi.

Gunakan alur:

Market Need → Product Concept → Formula → Sample → Evaluation → Regulatory Preparation

Urutan tersebut membantu brand mengembangkan produk berdasarkan kebutuhan bisnis sekaligus mempertimbangkan persyaratan sebelum produksi.

3. Pemilik Brand Perlu Mencantumkan Informasi yang Sesuai pada Label Kosmetik

Kemasan kosmetik bukan hanya alat branding. Brand juga menggunakan label untuk memberikan informasi produk kepada konsumen.

Dalam materi resmi BPOM yang merujuk pada PerBPOM Nomor 18 Tahun 2024, BPOM mencantumkan sejumlah informasi minimum pada penandaan. Informasi tersebut antara lain nama kosmetik, kegunaan, cara penggunaan, komposisi, peringatan atau perhatian, negara produsen, identitas pemilik nomor notifikasi, nomor notifikasi, nomor batch, tanggal kedaluwarsa, ukuran atau isi atau berat bersih, dan 2D barcode. Ketentuan serta pengecualian tertentu dapat berlaku sesuai jenis dan karakter produk.

BPOM juga mewajibkan pelaku usaha menampilkan informasi penandaan secara jelas dan mudah dibaca. Brand perlu menjaga informasi tersebut agar tidak mudah lepas, luntur, atau rusak.

Untuk kondisi kemasan tertentu, BPOM menetapkan ketentuan mengenai informasi minimum pada kemasan primer serta penggunaan media lain untuk informasi yang lebih lengkap.

Karena itu, brand sebaiknya melakukan regulatory check sebelum tim desain menyelesaikan kemasan dan mengirimkannya ke tahap final printing.

Langkah tersebut dapat mengikuti alur:

Formula → Product Information → Regulatory Check → Label Design → Review → Final Artwork → Printing

Dengan pendekatan tersebut, brand dapat mengurangi risiko revisi desain akibat informasi label yang belum sesuai dengan peraturan BPOM kosmetik.

4. Brand Tidak Boleh Membuat Klaim Produk Sembarangan

Kalimat pada kemasan dan materi marketing dapat memengaruhi persepsi konsumen. Karena itu, pemilik brand perlu memastikan bahwa klaim sesuai dengan fungsi kosmetik dan ketentuan yang berlaku.

PerBPOM Nomor 18 Tahun 2024 membahas penandaan, promosi, dan iklan kosmetik. BPOM juga mewajibkan pelaku usaha menyampaikan informasi secara objektif, lengkap, dan tidak menyesatkan.

Artinya, tim product development dan marketing sebaiknya bekerja secara terintegrasi. Sejak awal, kedua tim perlu mempertimbangkan hubungan antara formula, fungsi produk, klaim, label, dan komunikasi pemasaran.

Gunakan alur:

Formula → Function → Evidence → Claim → Label → Promotion

Sebagai contoh, tim marketing sebaiknya tidak membuat klaim terlebih dahulu lalu meminta tim R&D menyesuaikan produk. Brand perlu menentukan klaim berdasarkan fungsi produk, formula, bukti pendukung, dan ketentuan regulatory yang relevan.

Dengan pendekatan tersebut, marketing tetap dapat membangun komunikasi yang menarik tanpa mengabaikan kepatuhan.

5. BPOM Juga Mengatur Promosi dan Iklan Kosmetik

Brand owner perlu memahami bahwa kepatuhan tidak selesai setelah produk memperoleh nomor notifikasi. BPOM juga menetapkan ketentuan mengenai cara pelaku usaha mempromosikan kosmetik.

PerBPOM Nomor 18 Tahun 2024 secara khusus mencakup penandaan, promosi, dan iklan kosmetik. BPOM menggunakan regulasi tersebut sebagai pedoman bagi pelaku usaha ketika mencantumkan penandaan serta mengembangkan materi promosi dan iklan.

Ketentuan tersebut juga relevan dengan pemasaran modern melalui marketplace, website, media sosial, influencer, video pendek, maupun materi digital lainnya. Brand owner perlu menjaga konsistensi pesan pemasaran dengan fungsi, klaim, dan informasi produk.

Jadi, compliance tidak berhenti pada:

BPOM → Selesai

Brand perlu melanjutkannya melalui:

BPOM → Label → Launch → Marketing → Advertising → Monitoring

Dengan demikian, brand perlu memasukkan peraturan BPOM kosmetik ke dalam strategi pemasaran, bukan hanya ke dalam proses registrasi produk.

6. Partner Manufaktur Perlu Menjalankan Standar Produksi Kosmetik

Selain produk dan komunikasi pemasaran, proses pembuatan kosmetik juga menjadi bagian penting dalam industri kosmetik.

Pada 2026, situs resmi Direktorat Standardisasi OTSKK BPOM mencantumkan Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2026 tentang Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik atau CPKB.

Bagi pemilik brand yang menggunakan sistem maklon, regulasi produksi menjadi salah satu alasan untuk memilih partner manufaktur secara cermat. Brand tidak hanya membutuhkan formula yang menarik. Pemilik brand juga perlu memahami pihak yang menangani produksi, fasilitas yang digunakan, sistem quality control, serta kesiapan manufaktur.

EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan maklon kosmetik yang mencakup pengembangan formula, sampel, pendampingan legalitas, dan persiapan produksi. Website resminya juga menyebut fasilitas produksi berstandar CPKB.

Karena itu, pemilik brand dapat menggunakan alur evaluasi berikut:

Product Concept → Formula → Sample → Regulatory → Manufacturing Readiness → Production → Quality Control → Launch

Pendekatan tersebut membantu brand menghubungkan peraturan BPOM kosmetik dengan kesiapan produk dan proses manufaktur sejak awal.

peraturan BPOM kosmetik

7. Lakukan Pemeriksaan Legalitas Sebelum Meluncurkan Produk

Brand owner sebaiknya melakukan final check sebelum membawa produk ke pasar. Jangan hanya memeriksa desain kemasan atau kesiapan stok.

Tim perlu mengecek kembali formula final, notifikasi BPOM, informasi pada kemasan, nomor batch, tanggal kedaluwarsa, klaim produk, materi promosi, serta dokumen pendukung lainnya. Pemeriksaan tersebut membantu tim menemukan kekurangan sebelum memulai kampanye dan penjualan.

Brand dapat menggunakan alur berikut:

Product Check → Formula Check → BPOM Check → Label Check → Claim Check → Production Check → Launch

Melalui proses tersebut, owner dapat menempatkan kepatuhan sebagai bagian dari manajemen produk. Brand tidak lagi melihat legalitas hanya sebagai pekerjaan administratif.

Final check juga membantu tim menghubungkan formula, legalitas, kemasan, produksi, dan marketing. Dengan cara ini, setiap bagian dapat bekerja menggunakan informasi produk yang sama sebelum brand memulai penjualan.

Bagaimana Jika Pemilik Brand Belum Memahami Pengurusan BPOM?

Tidak semua entrepreneur kosmetik memiliki latar belakang formulasi atau regulatory. Dalam kondisi tersebut, brand owner dapat menggunakan pendampingan untuk membantu memahami tahapan pengembangan produk dan proses legalitas.

Owner tetap perlu memahami pembagian tanggung jawab antara brand dan partner. Sebelum memulai kerja sama, owner dapat menanyakan pihak yang menangani formula, dokumen, notifikasi BPOM, desain label, proses revisi, produksi, serta penyerahan dokumen kepada brand.

EFBA Kosmetindo menyatakan melalui website resminya bahwa perusahaan menyediakan layanan maklon yang mencakup konsultasi, pengembangan sampel, desain, legalitas, hingga persiapan produksi. Artikel resmi EFBA Kosmetindo tentang jasa maklon kosmetik BPOM juga menjelaskan dukungan mulai dari konsep, formulasi, sampel, desain dan kemasan, legalitas, hingga produksi.

Brand dan partner dapat menjalankan alur berikut:

Konsultasi → Konsep Produk → R&D → Sampel → Regulatory Preparation → BPOM → Packaging → Produksi → Launch

Alur tersebut membantu owner memahami hubungan antara pengembangan produk, peraturan BPOM kosmetik, kemasan, produksi, dan persiapan peluncuran.

Expertise EFBA Kosmetindo dalam Pengembangan dan Legalitas Kosmetik

EFBA Kosmetindo merupakan bagian dari PT EFBA Digital Mulia dan menawarkan layanan pengembangan serta maklon kosmetik. Melalui website resminya, EFBA Kosmetindo menjelaskan proses konsultasi untuk memahami konsep, kategori produk, formula, kemasan, dan arah pengembangan brand.

EFBA Kosmetindo juga mencantumkan pendampingan legalitas dan persiapan produksi sebagai bagian dari layanannya. Pada halaman Maklon Skincare, perusahaan menjelaskan peran staf dalam membantu proses manufaktur, perizinan, dan legalitas.

Selain itu, artikel resmi EFBA Kosmetindo mengenai jasa maklon kosmetik BPOM menjelaskan beberapa tahapan layanan. Tim memulai proses dengan mendiskusikan kebutuhan produk bersama klien. Selanjutnya, tim R&D mengembangkan sampel sesuai konsep produk.

Setelah tahap tersebut, tim membantu proses desain produk dan packaging. Layanan juga mencakup dukungan pendaftaran merek serta pendaftaran varian ke BPOM. Setelah brand menyetujui sampel, tim melanjutkan proses menuju tahap produksi dan persiapan produk jadi.

Dengan demikian, alur pengembangan dapat mencakup:

Kebutuhan Brand → Konsultasi → R&D → Sampel → Desain → Legalitas → BPOM → Produksi → Produk Jadi

Website resmi EFBA Kosmetindo menjadi sumber informasi mengenai ruang lingkup layanan tersebut. Sementara itu, brand owner perlu menggunakan BPOM sebagai sumber utama ketika memeriksa peraturan BPOM kosmetik dan ketentuan regulatory yang berlaku.

Untuk kebutuhan bisnis, owner dapat menggunakan informasi layanan EFBA Kosmetindo sebagai referensi mengenai proses pendampingan. Namun, tim tetap perlu menyesuaikan setiap tahapan dengan kategori produk, kebutuhan brand, formula, serta ketentuan regulator.

logo efba kosmetindo

FAQ tentang Peraturan BPOM Kosmetik

Apakah brand kosmetik perlu BPOM?

Kosmetik yang akan diedarkan perlu mengikuti ketentuan notifikasi kosmetika yang berlaku. Tata cara pengajuan notifikasi saat ini antara lain diatur melalui PerBPOM Nomor 21 Tahun 2022. Karena itu, brand owner perlu memasukkan aspek regulatory sejak tahap pengembangan produk, bukan baru setelah produk selesai.

Apa saja yang perlu diperhatikan dalam peraturan BPOM kosmetik?

Brand owner perlu memperhatikan beberapa area, antara lain notifikasi kosmetika, formula dan keamanan produk, proses produksi, penandaan atau label, klaim, promosi, iklan, serta ketentuan lain yang relevan dengan jenis produk dan aktivitas bisnisnya. Regulasi yang berlaku dapat berubah sehingga pengecekan melalui sumber resmi BPOM tetap diperlukan.

Apa saja informasi yang harus ada pada label kosmetik?

PerBPOM Nomor 18 Tahun 2024 mengatur persyaratan penandaan kosmetik. Materi resmi BPOM mencantumkan informasi seperti nama kosmetik, kegunaan, cara penggunaan, komposisi, peringatan/perhatian, negara produsen, pemilik nomor notifikasi, nomor notifikasi, nomor batch, tanggal kedaluwarsa, isi atau berat bersih, dan 2D barcode, dengan ketentuan dan pengecualian tertentu.

Apakah iklan kosmetik juga diatur BPOM?

Ya. PerBPOM Nomor 18 Tahun 2024 mengatur penandaan, promosi, dan iklan kosmetik. BPOM menegaskan bahwa informasi kepada konsumen harus objektif, lengkap, dan tidak menyesatkan.

Apakah mendapatkan nomor BPOM berarti brand bebas membuat klaim apa saja?

Tidak. Klaim, penandaan, promosi, dan iklan tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku. Karena itu, brand sebaiknya menyelaraskan formula, fungsi produk, klaim, label, dan materi marketing sebelum produk diluncurkan.

Apakah perusahaan maklon dapat membantu pengurusan BPOM?

Layanan setiap perusahaan berbeda. EFBA Kosmetindo mempublikasikan dukungan legalitas dan registrasi sebagai bagian dari layanan maklonnya. Brand owner tetap perlu mengonfirmasi ruang lingkup, dokumen, tanggung jawab masing-masing pihak, serta tahapan pengurusannya sebelum memulai kerja sama.

Kapan pengurusan BPOM sebaiknya mulai dipersiapkan?

Persiapan regulatory sebaiknya berjalan sejak tahap pengembangan produk. Dengan begitu, formula, sampel, klaim, kemasan, dan dokumen dapat diselaraskan sebelum produksi dan peluncuran.

Bangun Brand Kosmetik dengan Legalitas yang Dipersiapkan Sejak Awal

Memahami peraturan BPOM kosmetik bukan hanya soal mendapatkan nomor notifikasi. Brand perlu menghubungkan legalitas dengan formula, keamanan, produksi, label, klaim, promosi, dan strategi peluncuran produk.

Karena itu, proses yang lebih terarah adalah:

Idea → Product Development → Formula → Sample → Regulatory → BPOM → Packaging → Production → Marketing → Monitoring

EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan pendampingan mulai dari konsultasi konsep, pengembangan sampel, desain, legalitas, hingga persiapan produksi. Bagi brand owner yang belum memahami proses tersebut, pendampingan dapat membantu menyusun tahapan pengembangan produk secara lebih terstruktur.

Konsultasikan pengembangan dan legalitas produk bersama EFBA Kosmetindo

Untuk kebutuhan pengembangan bisnis yang lebih luas dalam ekosistem EFBA, Anda juga dapat mempelajari layanan di EFBA Digital Mulia.

Bangun produk dari proses yang benar: konsep yang jelas, formula yang terarah, legalitas yang dipersiapkan, produksi yang terstruktur, dan pemasaran yang sesuai ketentuan.