Tag Archive for: maklon skincare BPOM

Jual Kosmetik Online Tidak Bisa Sembarangan: Legalitas yang Harus Dipahami Brand

jual kosmetik online
jual kosmetik online

Jual Kosmetik Online Tidak Bisa Sembarangan: Legalitas yang Harus Dipahami Brand

Bisnis kosmetik online memberikan peluang bagi brand untuk menjangkau konsumen melalui marketplace, website, dan media sosial. Namun, menjual skincare tidak cukup hanya dengan membuat toko, mengunggah foto, dan menjalankan iklan. Pemilik usaha harus memeriksa izin edar, keamanan produk, informasi kemasan, serta ketentuan promosi yang berlaku. Jika brand mengabaikan aspek tersebut, bisnis dapat menghadapi masalah kepatuhan dan kehilangan kepercayaan pelanggan.

Untuk jual kosmetik online secara legal di Indonesia, pelaku usaha pada umumnya harus memastikan produk memiliki nomor notifikasi BPOM yang berlaku, memenuhi persyaratan keamanan dan mutu, menggunakan label sesuai ketentuan, serta mengikuti aturan promosi dan perdagangan daring. Pelaku usaha juga perlu menyesuaikan legalitas kegiatan usaha dengan model bisnisnya, baik sebagai pemilik brand, produsen, importir, maupun reseller. Langkah ini membantu perusahaan memahami kewajibannya sebelum memulai penjualan.

Karena itu, calon pemilik brand sebaiknya merencanakan legalitas sejak tahap pengembangan produk. Melalui EFBA Kosmetindo, entrepreneur dapat mendiskusikan konsep skincare, formulasi, pengembangan sampel, kemasan, serta dukungan persiapan legalitas dan produksi sesuai ruang lingkup layanan. Persiapan sejak awal membantu brand mengurangi risiko kesalahan sebelum memasuki pasar.

Apakah Jual Kosmetik Online Harus Memiliki Izin BPOM?

Ya. Pada umumnya, setiap produk kosmetik yang beredar di Indonesia wajib memiliki izin edar berupa notifikasi BPOM, termasuk produk yang pelaku usaha jual melalui marketplace, website, dan media sosial. Kewajiban tersebut berlaku untuk peredaran kosmetik, bukan hanya toko fisik. Regulasi memang mengenal pengecualian dalam kondisi tertentu, tetapi pelaku usaha tidak boleh menjadikannya alasan untuk menjual bebas produk tanpa notifikasi.

Dalam praktiknya, pemilik brand perlu membedakan legalitas usaha dari legalitas produk. Nomor Induk Berusaha (NIB) berkaitan dengan kegiatan usaha, sedangkan nomor notifikasi BPOM menunjukkan status notifikasi produk kosmetik. Karena itu, NIB tidak menggantikan kewajiban notifikasi produk yang berlaku.

Selain itu, pemilik brand harus memastikan nomor notifikasi sesuai dengan produk yang akan mereka jual. Periksa nama produk, identitas pendaftar, informasi kemasan, dan status notifikasinya. Konsumen maupun pelaku usaha dapat mengecek informasi tersebut melalui Cek Produk Kosmetika BPOM. Langkah ini membantu brand menghindari penggunaan nomor notifikasi yang tidak sesuai.

7 Legalitas yang Harus Dipahami Sebelum Jual Kosmetik Online

Memulai bisnis kosmetik membutuhkan persiapan legalitas, pengembangan produk, dan strategi pemasaran yang saling mendukung. Pemilik brand tidak harus menjalankan seluruh proses sendiri, tetapi mereka tetap perlu memahami tanggung jawab setiap pihak. Berikut tujuh aspek penting yang perlu pelaku usaha periksa sebelum memasarkan produk kosmetik.

1. Pastikan Legalitas Usaha dan Kegiatan Bisnis Sesuai

Langkah pertama adalah memastikan perusahaan memiliki perizinan usaha yang sesuai, termasuk NIB dan klasifikasi kegiatan usaha yang relevan. Persyaratan dapat berbeda antara pemilik brand yang menggunakan maklon, perusahaan manufaktur, importir, dan reseller. Karena itu, pelaku usaha perlu memeriksa kewajibannya melalui sistem OSS serta regulasi sektoral yang berlaku.

Selain melengkapi administrasi, pemilik usaha perlu menetapkan pihak yang bertanggung jawab atas pengembangan produk, produksi, pemasaran, dan distribusi. Pembagian tugas yang jelas membantu perusahaan mengelola dokumen serta menghindari kesalahpahaman ketika bekerja sama dengan mitra produksi atau distributor.

2. Pastikan Produk Memiliki Notifikasi BPOM yang Berlaku

Sebelum memulai jual kosmetik online, pemilik brand harus memastikan produk memenuhi persyaratan notifikasi BPOM. Proses tersebut mencakup identitas produk, formula, dokumen pendukung, pihak yang mengajukan notifikasi, serta ketentuan teknis lainnya. Karena itu, perusahaan perlu merencanakan proses notifikasi sebelum menentukan jadwal peluncuran komersial.

Brand juga perlu memeriksa status nomor notifikasi secara berkala, terutama ketika terjadi perubahan formula, identitas produk, atau kondisi lain yang memengaruhi kepatuhan. Jangan menggunakan nomor BPOM milik produk berbeda karena tindakan tersebut dapat memberikan informasi menyesatkan kepada konsumen. Pelajari juga Peraturan BPOM Kosmetik untuk memahami regulasi yang relevan bagi pemilik brand.

3. Periksa Keamanan Bahan dan Kualitas Formula

Legalitas kosmetik memiliki hubungan erat dengan keamanan serta mutu produk. Brand perlu memilih bahan yang memenuhi ketentuan, memeriksa dokumen pemasok, dan memastikan formula sesuai dengan kategori serta tujuan penggunaan. Selain itu, tim pengembangan harus mengevaluasi karakter produk dan menentukan pengujian yang relevan sebelum memulai produksi.

Sebagai contoh, tim formulasi perlu menilai sistem pelembap, pengawet, stabilitas, dan kompatibilitas kemasan saat mengembangkan moisturizer. Sementara itu, pengembangan sunscreen memerlukan perhatian khusus terhadap bahan tabir surya serta bukti pendukung klaimnya. Produk dengan desain menarik belum tentu memenuhi persyaratan teknis apabila perusahaan mengabaikan proses evaluasi tersebut.

4. Gunakan Label dan Informasi Kemasan yang Sesuai

Kemasan kosmetik harus menyampaikan informasi yang benar dan memenuhi ketentuan penandaan. Pemilik brand perlu memeriksa identitas produk, kegunaan, komposisi, isi bersih, nomor notifikasi, kode produksi, dan informasi wajib lainnya sesuai kategori produk. Kelengkapan informasi membantu konsumen mengenali produk sekaligus mendukung kepatuhan perusahaan.

PerBPOM Nomor 18 Tahun 2024 mengatur ketentuan penandaan, promosi, dan iklan kosmetik. Karena itu, tim brand sebaiknya memeriksa kepatuhan desain kemasan sebelum mencetaknya dalam jumlah besar. Perusahaan juga harus menjaga agar perubahan desain tidak menghilangkan informasi wajib atau menampilkan klaim yang menyesatkan.

5. Pastikan Klaim Produk dan Iklan Tidak Menyesatkan

Strategi jual kosmetik online sering memanfaatkan TikTok, Instagram, marketplace, dan endorsement untuk memperkenalkan produk. Namun, brand harus menyesuaikan setiap materi promosi dengan karakter kosmetik serta bukti pendukung yang tersedia. Pemilik usaha tidak boleh membuat klaim berlebihan hanya untuk meningkatkan penjualan atau menarik perhatian konsumen.

Misalnya, klaim bahwa kosmetik dapat menyembuhkan penyakit dapat melampaui fungsi produk kosmetik. Begitu pula dengan testimoni, foto sebelum-sesudah, atau janji hasil instan yang berpotensi memberikan gambaran menyesatkan. Karena itu, tim pemasaran perlu berkoordinasi dengan pihak yang memahami regulasi sebelum mempublikasikan materi iklan.

6. Patuhi Ketentuan Penjualan Kosmetik Secara Daring

BPOM tetap mengawasi peredaran kosmetik melalui marketplace dan website. PerBPOM Nomor 14 Tahun 2024 beserta perubahannya melalui PerBPOM Nomor 30 Tahun 2025 mengatur pengawasan obat dan makanan dalam peredaran daring, termasuk kosmetik. Oleh karena itu, pelaku usaha harus memastikan produk serta aktivitas promosinya mengikuti ketentuan yang berlaku.

Dalam praktik bisnis, pemilik usaha sebaiknya menyediakan informasi produk secara akurat, menggunakan foto kemasan yang sesuai dengan produk sebenarnya, dan menghindari pernyataan legalitas tanpa bukti. Selain itu, perusahaan perlu memantau materi promosi dari reseller atau mitra pemasaran agar informasi produk tetap konsisten pada setiap saluran penjualan.

7. Pilih Partner Produksi Maklon dengan Tanggung Jawab yang Jelas

Brand yang belum mempunyai pabrik dapat menggunakan jasa maklon kosmetik untuk mendukung pengembangan dan produksi. Namun, pemilik brand perlu memeriksa kesesuaian fasilitas, kemampuan formulasi, pengendalian mutu, serta kelengkapan dokumen manufaktur. Selain itu, kedua pihak harus menjelaskan tanggung jawab atas formula, notifikasi, desain kemasan, pengujian, dan proses produksi dalam perjanjian kerja sama.

Melalui Jasa Maklon Kosmetik EFBA Kosmetindo, calon pemilik brand dapat mempelajari pilihan pengembangan produk sesuai konsep usahanya. Layanan maklon membantu mempersiapkan produk, tetapi pemilik brand dan mitra produksi tetap perlu memahami kewajiban hukum masing-masing. Kesepakatan yang jelas membantu perusahaan mengelola proses pengembangan sebelum produk memasuki pasar.

Apa Risiko Menjual Kosmetik Online Tanpa Legalitas yang Sesuai?

Menjual kosmetik tanpa memenuhi ketentuan dapat menimbulkan risiko bagi konsumen dan kelangsungan bisnis. BPOM dapat melakukan pengawasan dan penindakan terhadap produk yang melanggar persyaratan keamanan, mutu, atau penandaan sesuai kewenangannya. Selain itu, platform perdagangan elektronik dapat membatasi penawaran produk sesuai kebijakan dan ketentuan yang berlaku.

Dari sisi bisnis, masalah legalitas dapat mengganggu kerja sama dengan distributor, reseller, atau mitra pemasaran. Karena itu, pemilik brand perlu menjadikan kepatuhan sebagai bagian dari persiapan operasional, bukan sekadar pengeluaran administratif. Setelah memperoleh legalitas yang sesuai, perusahaan juga harus menjaga konsistensi mutu serta keakuratan informasi produk selama masa peredaran.

Data Resmi BPOM: Regulasi dan Pengawasan Kosmetik Online

Berdasarkan informasi pada laman Cek BPOM yang tercantum dalam naskah per 21 Oktober 2026, basis data menampilkan sekitar 372.943 produk kosmetik dengan registrasi yang masih berlaku. Angka tersebut memberikan gambaran jumlah produk kosmetik dalam basis data, bukan jumlah brand atau volume penjualan online. BPOM dapat memperbarui jumlah tersebut seiring perubahan status registrasi produk.

Selain data registrasi, pemilik brand yang ingin menjalankan bisnis kosmetik secara daring perlu memahami beberapa regulasi utama berikut.

RegulasiHal yang Diatur
PerBPOM No. 21 Tahun 2022Tata cara pengajuan notifikasi kosmetika
PerBPOM No. 14 Tahun 2024 jo. No. 30 Tahun 2025Pengawasan peredaran produk secara daring
PerBPOM No. 18 Tahun 2024Penandaan, promosi, dan iklan kosmetik
PerBPOM No. 25 Tahun 2025Persyaratan teknis bahan kosmetik

Setiap peraturan mengatur aspek yang berbeda. Karena itu, pemilik brand tidak cukup hanya memeriksa nomor notifikasi, tetapi juga harus memastikan formula, label, klaim, serta saluran distribusi memenuhi ketentuan yang relevan. Selain itu, perusahaan perlu memantau perubahan regulasi agar dapat menyesuaikan kegiatan usaha ketika otoritas menerbitkan ketentuan baru.

Sumber resmi: Cek BPOM, JDIH BPOM – Pengawasan Daring 2024, Perubahan Pengawasan Daring 2025, dan Penandaan, Promosi, serta Iklan Kosmetik.

Expertise EFBA Kosmetindo dalam Pengembangan Brand Kosmetik

EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan pengembangan kosmetik sejak 2020, termasuk konsultasi konsep produk, formulasi, pengembangan sampel, kemasan, serta dukungan legalitas dan produksi. Layanan tersebut relevan bagi entrepreneur yang ingin mempersiapkan produk sebelum memasuki marketplace atau saluran penjualan lainnya. Dalam proses pengembangan, tim juga mempertimbangkan target pasar, konsep produk, kebutuhan formula, serta strategi brand agar rencana usaha memiliki arah yang lebih jelas.

jual kosmetik online
jual kosmetik online

Pada halaman Maklon Skincare EFBA Kosmetindo, perusahaan menampilkan klaim telah dipercaya lebih dari 150 brand serta memproduksi lebih dari 450 ribu unit produk. Angka tersebut merupakan informasi yang dipublikasikan perusahaan, bukan hasil verifikasi audit independen. Karena itu, calon klien tetap perlu mengonfirmasi pengalaman proyek, kategori produk, dan kemampuan layanan sesuai kebutuhannya.

Konsultasi Produk dan Perencanaan Brand

EFBA Kosmetindo menjelaskan dukungan konsultasi untuk membantu calon pemilik usaha menentukan kategori skincare, target konsumen, konsep, serta karakter produk. Tahap ini penting karena penjualan online membutuhkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan memiliki informasi yang jelas. Selanjutnya, pemilik brand dapat menyelaraskan rencana pengembangan produk dengan kebutuhan modal dan strategi pemasaran.

Formulasi, Pengembangan Sampel, dan Kemasan

Website resmi EFBA Kosmetindo mempublikasikan dukungan pengembangan formula dan pembuatan sampel sebelum produksi. Brand dapat mendiskusikan tekstur, karakter bahan, jenis kemasan, serta kebutuhan evaluasi produk bersama tim terkait. Namun, persetujuan sampel tidak menggantikan pemeriksaan keamanan, mutu, dan legalitas yang diperlukan.

Dukungan Legalitas dan Persiapan Produksi

EFBA Kosmetindo juga mempublikasikan bantuan dalam proses legalitas dan persiapan produksi. Dalam kerja sama maklon, pemilik brand perlu memastikan pihak yang menjadi pemohon notifikasi dan bertanggung jawab terhadap dokumen produk. Dengan pembagian tugas yang jelas, perusahaan dapat menyusun jadwal pengembangan dan peluncuran secara lebih realistis.

Dukungan Produksi Kosmetik melalui PT Kosmetika Natural Herbalindo

Selain konsultasi dan pengembangan produk, pemilik brand perlu memahami kemampuan manufaktur yang akan menjalankan proses produksi. PT Kosmetika Natural Herbalindo mempublikasikan layanan pengembangan dan produksi kosmetik serta skincare dengan dukungan tim Research and Development. Informasi tersebut relevan bagi brand yang membutuhkan partner untuk membahas formula, sampel, dan produksi sesuai kategori yang tersedia.

Dalam memilih produsen, owner tetap perlu memverifikasi izin serta sertifikasi fasilitas yang sesuai, kapasitas produksi, ruang lingkup pengujian, dan ketentuan kontrak. Selain itu, pastikan perusahaan manufaktur dapat menjelaskan sistem pengendalian mutu dan ketertelusuran bahan. Dengan pendekatan tersebut, pemilik brand memiliki dasar yang lebih baik sebelum menentukan mitra produksi.

Bagaimana Memulai Bisnis Kosmetik Online dengan Lebih Terarah?

Calon pemilik brand sebaiknya memulai dari riset pasar dan konsep produk sebelum menentukan nama merek atau mengeluarkan anggaran iklan besar. Setelah mengetahui target konsumen, perusahaan dapat membahas formulasi, kemasan, legalitas, perencanaan biaya, serta kebutuhan produksi. Selanjutnya, brand menyusun strategi distribusi dan pemasaran berdasarkan kesiapan produk.

Sebagai contoh, startup yang ingin menjual skincare online dapat memulai dengan beberapa produk utama seperti facial wash, serum, atau moisturizer sesuai hasil analisis pasar. Brand kemudian mengevaluasi modal pengembangan, pengujian, kemasan, notifikasi, produksi, dan pemasaran. Pendekatan ini lebih terukur daripada langsung meluncurkan banyak SKU tanpa memahami kebutuhan modal dan permintaan.

Untuk memahami proses tersebut, pelajari Maklon Skincare Indonesia untuk Brand Lokal dan Startup serta Jasa Pembuatan Kosmetik. Kedua artikel tersebut menjelaskan hubungan antara konsep, pengembangan produk, produksi, dan kesiapan brand memasuki pasar.

FAQ tentang Jual Kosmetik Online

Apakah jual kosmetik online harus memiliki izin BPOM?

Ya. Kosmetik yang diedarkan di Indonesia pada umumnya wajib memiliki izin edar berupa notifikasi BPOM, termasuk ketika dijual melalui marketplace, website, atau media sosial. Pelaku usaha perlu memastikan notifikasi sesuai dengan produk dan masih berlaku. Selain itu, kegiatan penjualan harus mengikuti ketentuan usaha dan peredaran daring yang relevan.

Apakah reseller kosmetik wajib mengurus BPOM sendiri?

Reseller umumnya tidak harus mengajukan notifikasi baru untuk produk asli yang sudah memiliki izin edar yang berlaku dan dijual tanpa perubahan. Namun, reseller tetap perlu memastikan keaslian produk, kesesuaian nomor notifikasi, dan legalitas kegiatan usahanya. Jika pelaku usaha mengubah merek, formula, atau kemasan dengan cara yang memengaruhi kepatuhan produk, kewajiban dapat berbeda.

Apakah produk skincare boleh dijual sebelum nomor BPOM terbit?

Pada prinsipnya, kosmetik yang wajib memiliki notifikasi tidak boleh diedarkan secara komersial sebelum memperoleh notifikasi tersebut. Karena itu, brand perlu menyusun jadwal peluncuran dengan mempertimbangkan proses pengembangan dan legalitas. Kegiatan promosi sebelum peluncuran juga harus memperhatikan ketentuan iklan dan tidak memberikan informasi yang menyesatkan.

Apakah NIB sudah cukup untuk menjual kosmetik online?

Tidak. NIB merupakan bagian dari legalitas kegiatan usaha, sedangkan notifikasi BPOM berkaitan dengan izin edar produk kosmetik. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Pemilik brand perlu memeriksa seluruh persyaratan yang berlaku sesuai model bisnis dan produk yang dipasarkan.

Bagaimana cara mengecek nomor BPOM kosmetik?

Kunjungi website Cek BPOM, lalu cari produk berdasarkan nomor notifikasi, nama produk, merek, atau pendaftar. Setelah itu, cocokkan informasi yang ditemukan dengan produk dan kemasan yang akan dijual. Pastikan juga status registrasinya sesuai karena nomor yang tercantum pada kemasan saja belum cukup menjadi bukti.

Apakah iklan kosmetik boleh menjanjikan hasil instan?

Klaim dan iklan kosmetik harus mengikuti ketentuan BPOM, sesuai dengan fungsi kosmetik, serta memiliki dasar pendukung yang memadai. Janji hasil instan atau klaim penyembuhan dapat bermasalah jika tidak sesuai dengan ketentuan. Karena itu, brand perlu mengevaluasi materi pemasaran sebelum menayangkannya.

Apakah EFBA Kosmetindo membantu pengembangan kosmetik hingga legalitas?

EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan konsultasi konsep produk, formulasi, pengembangan sampel, kemasan, dukungan legalitas, dan persiapan produksi. Calon brand owner dapat mendiskusikan kebutuhan tersebut sesuai jenis produk dan rencana bisnisnya. Namun, pembagian tanggung jawab, biaya, jadwal, serta ruang lingkup pekerjaan harus disepakati sebelum kerja sama.

Bangun Brand Kosmetik Online yang Lebih Siap Pasar Bersama EFBA Kosmetindo

Jual kosmetik online membutuhkan persiapan yang lebih menyeluruh daripada sekadar membuka toko di marketplace. Pemilik brand harus memastikan legalitas usaha, notifikasi BPOM, keamanan produk, ketepatan informasi kemasan, dan kepatuhan promosi. Dengan persiapan tersebut, perusahaan dapat membangun bisnis yang lebih terstruktur serta menjaga kepercayaan pelanggan.

EFBA Kosmetindo menyediakan layanan konsultasi konsep skincare, pengembangan formula dan sampel, kemasan, serta dukungan legalitas dan produksi sesuai kebutuhan brand. Melalui proses pengembangan yang terarah, calon pemilik usaha dapat mendiskusikan produk yang ingin dibuat dan langkah yang perlu dipersiapkan sebelum pemasaran.

logo efba kosmetindo

Ingin membangun brand skincare sendiri untuk dijual secara online? Pelajari Jasa Maklon Kosmetik EFBA Kosmetindo atau Maklon Skincare EFBA Kosmetindo untuk memulai konsultasi produk dan rencana pengembangan brand Anda.

Bisnis kosmetik online yang berkelanjutan tidak hanya membutuhkan produk menarik dan pemasaran efektif, tetapi juga legalitas yang sesuai, kualitas yang konsisten, dan tanggung jawab kepada konsumen.

Bahan Baku Kosmetik: Cara Memilih Material yang Aman untuk Produk Skincare

bahan baku kosmetik
bahan baku kosmetik

Memilih bahan baku kosmetik menjadi salah satu keputusan penting ketika membangun brand skincare. Kualitas bahan memengaruhi karakter formula, stabilitas produk, kenyamanan pemakaian, dan keamanan konsumen. Namun, pemilik brand tidak cukup hanya memilih kandungan populer karena setiap bahan memiliki fungsi, karakteristik, konsentrasi penggunaan, serta persyaratan keamanan yang berbeda.

Bahan baku kosmetik yang aman harus memenuhi regulasi, memiliki identitas dan mutu yang jelas, serta sesuai dengan formula produk. Brand perlu memeriksa legalitas bahan, dokumen supplier, fungsi kandungan, kompatibilitas formula, hasil pengujian, dan kesiapan fasilitas manufaktur. Proses tersebut membantu perusahaan mengurangi risiko mutu dan keamanan sebelum memulai produksi.

Karena itu, pengembangan skincare sebaiknya melibatkan tenaga formulasi dan mitra produksi yang memahami standar kosmetik. Melalui EFBA Kosmetindo, pemilik brand dapat mendiskusikan konsep produk, kebutuhan bahan, pengembangan formula, pembuatan sampel, serta persiapan legalitas dan produksi sesuai ruang lingkup kerja sama.

Apa Itu Bahan Baku Kosmetik?

Bahan baku kosmetik merupakan bahan atau campuran bahan dari sumber alami maupun sintetik yang produsen gunakan untuk membuat produk kosmetik. Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 mengatur persyaratan teknis bahan kosmetik, termasuk bahan pewarna, pengawet, dan tabir surya. Setiap bahan mempunyai fungsi tertentu sehingga tim formulasi perlu menyesuaikan pemilihannya dengan tujuan serta karakter produk.

Dalam skincare, bahan baku dapat berfungsi sebagai pelembap, pembersih, pengemulsi, pengental, pelarut, pengawet, atau bahan aktif dengan manfaat kosmetik tertentu. Misalnya, produsen sering menggunakan glycerin sebagai humektan, sedangkan niacinamide umum hadir dalam produk perawatan wajah. Namun, keamanan dan manfaat produk akhir bergantung pada keseluruhan formula, bukan hanya satu kandungan.

Secara sederhana, proses pemilihan material dapat mengikuti alur:

Konsep Produk → Seleksi Bahan → Pemeriksaan Regulasi → Formulasi → Sampel → Pengujian → Produksi

Alur tersebut membantu brand menghubungkan kebutuhan konsumen dengan persyaratan teknis produk. Selain itu, pemilik usaha dapat memahami bahwa bahan populer belum tentu cocok untuk setiap jenis skincare atau target konsumen. Karena itu, setiap keputusan formulasi membutuhkan pertimbangan fungsi, keamanan, dan mutu produk.

Jenis Bahan Baku Kosmetik yang Umum Digunakan dalam Skincare

Setiap kategori skincare membutuhkan kombinasi bahan yang berbeda. Facial wash memerlukan sistem pembersih yang sesuai, sedangkan moisturizer lebih berfokus pada kelembapan dan karakter emulsi. Sementara itu, serum biasanya mengutamakan konsep bahan aktif serta tekstur yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Kelompok BahanContohFungsi Umum
HumektanGlycerin, hyaluronic acidMembantu mempertahankan kelembapan
EmolienSqualane, caprylic/capric triglycerideMemberikan kelembutan pada kulit
Bahan aktif kosmetikNiacinamide, panthenolMendukung manfaat perawatan sesuai formula
SurfaktanCocamidopropyl betaineMembantu proses pembersihan
PengemulsiGlyceryl stearateMembantu menyatukan fase minyak dan air
PengawetPhenoxyethanol dan bahan lain yang memenuhi ketentuanMembantu mengendalikan pertumbuhan mikroorganisme

Contoh tersebut bukan rekomendasi formulasi atau penetapan konsentrasi untuk semua produk. Sebelum menggunakan bahan tertentu, tim pengembangan perlu memeriksa ketentuan BPOM dan menilai kesesuaiannya dengan keseluruhan formula. Selain itu, tim quality control perlu menjalankan pengujian yang relevan untuk memastikan karakter, mutu, dan keamanan produk akhir.

7 Cara Memilih Bahan Baku Kosmetik yang Aman

Pemilik brand perlu mengevaluasi bahan sejak tahap awal pengembangan skincare. Harga dan popularitas kandungan boleh menjadi pertimbangan bisnis, tetapi keduanya tidak dapat menggantikan penilaian keamanan serta mutu material. Berikut tujuh langkah yang dapat membantu brand memilih bahan baku kosmetik sebelum memulai produksi massal.

1. Periksa Kesesuaian Bahan dengan Regulasi BPOM

Langkah pertama adalah memeriksa kesesuaian bahan dengan ketentuan yang berlaku di Indonesia. Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 mengatur persyaratan teknis bahan kosmetik, termasuk bahan terlarang serta pembatasan penggunaan bahan tertentu. Karena itu, tim pengembangan perlu memeriksa identitas, fungsi, batas penggunaan, dan persyaratan lain sebelum memilih material.

Brand juga perlu memantau pembaruan regulasi karena ketentuan suatu bahan dapat berubah. Jangan hanya mengandalkan artikel lama atau informasi pemasok tanpa pemeriksaan tambahan. Sebagai acuan resmi, gunakan Peraturan BPOM tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik.

2. Pilih Supplier dengan Identitas dan Dokumen yang Jelas

Supplier perlu memberikan informasi bahan yang memadai agar tim formulasi dapat mengevaluasi kualitas serta ketertelusurannya. Perusahaan dapat meminta spesifikasi teknis, Certificate of Analysis (CoA) untuk batch terkait, dan Safety Data Sheet (SDS) apabila relevan. Selain itu, tim pembelian perlu memeriksa identitas produsen, kode batch, serta persyaratan penyimpanan bahan.

Dokumen tersebut membantu proses seleksi, tetapi tidak otomatis menjamin keamanan bahan dalam setiap formula. Oleh karena itu, tim quality control harus menjalankan pemeriksaan saat menerima material dan membandingkan hasilnya dengan spesifikasi. Melalui langkah ini, perusahaan dapat menilai kualitas bahan secara lebih objektif tanpa hanya bergantung pada pernyataan pemasok.

3. Sesuaikan Bahan Aktif dengan Konsep dan Target Konsumen

Pemilihan bahan aktif harus mengikuti kebutuhan produk serta positioning brand, bukan sekadar tren media sosial. Sebagai contoh, brand yang mengembangkan moisturizer dapat memprioritaskan fungsi pelembap dan kenyamanan tekstur. Sementara itu, pengembangan serum brightening membutuhkan pemilihan bahan serta klaim yang sesuai dengan bukti pendukung.

Pemilik brand juga perlu memahami bahwa konsentrasi lebih tinggi tidak selalu menghasilkan produk lebih baik. Tim formulasi harus mempertimbangkan batas regulasi, karakter formula, potensi iritasi, dan kebutuhan pengujian. Karena itu, diskusikan kombinasi bahan aktif dengan tim R&D sebelum menentukan formula akhir.

4. Periksa Kompatibilitas dan Stabilitas Formula

Bahan yang memenuhi persyaratan secara individual belum tentu bekerja dengan baik ketika tim formulasi menggabungkannya. Beberapa kombinasi bahan dapat mengubah warna, aroma, kekentalan, pH, atau stabilitas produk. Oleh karena itu, tim R&D perlu mengevaluasi kompatibilitas dan karakter formula selama pengembangan.

Sebagai contoh, serum dengan beberapa bahan aktif membutuhkan pengujian stabilitas untuk memastikan formula tetap memenuhi spesifikasi. Selain itu, tim pengembangan perlu menilai kecocokan produk dengan jenis kemasan. Langkah tersebut membantu perusahaan mengidentifikasi potensi perubahan mutu selama penyimpanan dan penggunaan.

5. Lakukan Pengujian Keamanan dan Mutu yang Relevan

Tim pengembangan perlu mengevaluasi sampel skincare berdasarkan karakter produk dan risiko yang terkait. Pengujian dapat mencakup parameter fisik dan kimia, mutu mikrobiologi, stabilitas, serta efektivitas sistem pengawet apabila relevan. Untuk klaim tertentu, perusahaan mungkin membutuhkan bukti tambahan sesuai ketentuan yang berlaku.

Brand owner tidak boleh menganggap warna atau tekstur normal sebagai satu-satunya indikator keamanan. Produk yang tampak baik belum tentu memenuhi seluruh persyaratan mutu. Karena itu, tim yang kompeten harus memeriksa hasil pengujian dan melakukan evaluasi teknis sebelum perusahaan melanjutkan proses produksi.

6. Pastikan Bahan Sesuai dengan Proses Produksi dan Kemasan

Pemilihan bahan baku kosmetik perlu mempertimbangkan kemampuan proses manufaktur. Formula tertentu membutuhkan kondisi pencampuran, suhu, pengolahan, atau pengemasan yang sesuai dengan karakter bahan. Karena itu, tim R&D dan produksi harus memastikan bahwa fasilitas manufaktur mampu menerapkan formula skala sampel secara konsisten pada skala produksi.

Selain itu, jenis kemasan dapat memengaruhi stabilitas dan perlindungan produk. Brand perlu mengevaluasi kompatibilitas formula dengan botol, jar, tube, atau kemasan lainnya. Melalui pendekatan tersebut, perusahaan dapat menjadikan pemilihan kemasan sebagai bagian dari pengendalian mutu, bukan hanya keputusan desain.

7. Pilih Partner Maklon yang Memahami Formulasi dan Quality Control

Brand yang belum mempunyai fasilitas manufaktur dapat mempertimbangkan sistem maklon untuk mengembangkan produk skincare. Namun, pemilik brand perlu menilai kemampuan R&D, sistem mutu, dokumentasi, legalitas, dan kesesuaian fasilitas dengan kategori produk. Selain itu, kedua pihak harus memperjelas tanggung jawab terkait pembelian bahan, pengujian, dan keputusan pelepasan produk.

Melalui Jasa Maklon Skincare EFBA Kosmetindo, calon pemilik brand dapat mempelajari tahapan pengembangan produk dari konsep hingga persiapan produksi. Setiap proyek tetap memerlukan pembahasan teknis dan kesepakatan ruang lingkup kerja sama. Dengan demikian, brand dapat menyesuaikan kebutuhan formula, bahan, dan proses manufaktur sejak awal.

Bahan Kosmetik Apa yang Harus Diwaspadai?

Tidak semua bahan alami otomatis aman, dan tidak semua bahan sintetis berbahaya. Risiko keamanan bergantung pada identitas bahan, kemurnian, konsentrasi, cara penggunaan, paparan, serta karakter formula. Karena itu, pemilik brand perlu membedakan bahan terlarang, bahan dengan batas penggunaan, dan bahan yang memiliki persyaratan khusus.

Salah satu contoh yang perlu mendapat perhatian adalah merkuri yang tidak boleh produsen tambahkan sebagai bahan pemutih kosmetik. Regulasi juga membatasi penggunaan hidrokuinon pada kondisi tertentu sehingga brand tidak dapat memperlakukannya sebagai bahan pencerah bebas untuk seluruh produk skincare. Tim pengembangan harus memeriksa status dan ketentuan spesifik setiap bahan melalui regulasi BPOM terbaru.

Selain itu, brand harus memperhatikan bahan pengawet, pewarna, serta filter UV karena ketiga kelompok tersebut memiliki persyaratan tersendiri. Meskipun regulasi mengizinkan penggunaan suatu bahan, produsen tetap wajib mengikuti batasan dan kondisi pemakaian yang relevan. Dengan demikian, penilaian keamanan harus mencakup keseluruhan formula serta hasil evaluasi produk akhir.

Data dan Regulasi Resmi BPOM tentang Bahan Kosmetik

Badan Pengawas Obat dan Makanan menetapkan Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik. Regulasi tersebut menggantikan PerBPOM Nomor 23 Tahun 2019 beserta perubahannya melalui PerBPOM Nomor 17 Tahun 2022. Perubahan ini menuntut brand dan perusahaan manufaktur untuk memperbarui pemeriksaan bahan berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Selain itu, BPOM menerbitkan Peraturan Nomor 8 Tahun 2026 tentang Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB). Ketentuan tersebut mengatur aspek sertifikasi CPKB yang berkaitan dengan sistem mutu dan proses pembuatan kosmetik. Karena itu, perusahaan harus memperhatikan pengelolaan manufaktur selain mengevaluasi komposisi bahan.

Untuk aspek label dan klaim, Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024 tentang Penandaan, Promosi, dan Iklan Kosmetik juga menjadi acuan penting. Brand perlu memastikan bahwa informasi kandungan, manfaat, dan promosi produk sesuai dengan persyaratan yang berlaku serta bukti pendukung yang tersedia. Langkah ini membantu perusahaan menghindari klaim yang tidak sesuai dengan karakter produknya.

Sumber resmi:

Regulasi menjadi acuan utama bagi tim formulasi dan manufaktur untuk mengevaluasi bahan serta proses produksi. Namun, perusahaan tetap harus menjalankan evaluasi formula, pengujian produk, dan pengawasan mutu. Dengan menggabungkan pemeriksaan regulasi dan penilaian teknis, brand dapat mengembangkan produk skincare secara lebih terarah dan bertanggung jawab.

Expertise EFBA Kosmetindo dalam Pengembangan Produk Skincare

bahan baku kosmetik
bahan baku kosmetik

EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan pengembangan produk kosmetik sejak 2020. Melalui website resminya, perusahaan menjelaskan dukungan konsultasi konsep produk, formulasi, pembuatan sampel, desain kemasan, pendampingan legalitas, hingga persiapan produksi. Bidang tersebut relevan bagi brand owner yang membutuhkan arahan dalam menentukan bahan dan karakter formula sebelum melakukan manufaktur.

Website EFBA Kosmetindo juga menampilkan angka lebih dari 150 brand yang telah mempercayakan pengembangan produk dan lebih dari 450 ribu produk yang telah diproduksi. Angka tersebut merupakan klaim perusahaan pada website resminya, bukan hasil audit independen. Karena itu, calon klien tetap perlu mengonfirmasi detail pengalaman dan kesesuaian fasilitas dengan kategori produk yang ingin dikembangkan.

Konsultasi Konsep dan Kebutuhan Bahan

EFBA Kosmetindo menjelaskan bahwa proses pengembangan dimulai dari diskusi kebutuhan klien. Pemilik brand dapat membahas jenis produk, target konsumen, karakter formula, serta konsep kemasan. Selanjutnya, tim pengembangan menilai kebutuhan formulasi yang sesuai untuk tahap pembuatan sampel.

Pengembangan Sampel dan Evaluasi Formula

Website resmi EFBA menyebut dukungan tim R&D dalam pengembangan sampel berdasarkan konsep yang telah dibahas. Tahap ini memungkinkan brand mengevaluasi tekstur, warna, aroma, serta karakter awal produk sebelum melanjutkan proses. Namun, persetujuan sampel oleh brand tidak menggantikan pengujian mutu dan keamanan yang diperlukan.

Pendampingan Legalitas dan Persiapan Produksi

EFBA Kosmetindo mempublikasikan dukungan untuk proses HKI, BPOM, desain kemasan, dan produksi sesuai kesepakatan kerja sama. Dalam konteks bahan baku, kesiapan legalitas perlu didukung formula serta dokumentasi yang sesuai ketentuan. Karena itu, brand sebaiknya membahas persyaratan teknis, jadwal, dan tanggung jawab masing-masing pihak sejak awal.

Dukungan Produksi melalui PT Kosmetika Natural Herbalindo

Untuk pembahasan proses manufaktur, PT Kosmetika Natural Herbalindo mempublikasikan layanan pengembangan dan produksi kosmetik yang mencakup skincare, bodycare, haircare, makeup, serta kategori lain sesuai kemampuan fasilitas. Perusahaan menjelaskan dukungan R&D, formulasi, pengembangan sampel, dan persiapan produksi berdasarkan spesifikasi produk.

Melalui Jasa Maklon Kosmetik PT Kosmetika Natural Herbalindo, calon pemilik brand dapat mempelajari model pengembangan seperti ODM, OEM, dan private label. Pilihan tersebut membantu brand menyesuaikan kebutuhan berdasarkan kesiapan konsep serta formula yang dimiliki. Namun, status sertifikasi, kapasitas produksi, dan ruang lingkup pengujian untuk proyek tertentu tetap perlu dikonfirmasi secara langsung sebelum bekerja sama.

Dengan demikian, brand dapat memisahkan kebutuhan konsultasi dan pengembangan produk dari kebutuhan manufaktur yang lebih teknis. Hal ini penting agar setiap pihak memahami tanggung jawab terhadap spesifikasi bahan, pengendalian mutu, legalitas, dan produksi.

Bagaimana Proses Memilih Bahan Baku untuk Brand Skincare Baru?

Calon pemilik brand sebaiknya memulai dengan menetapkan kategori produk dan target konsumen. Misalnya, brand ingin mengembangkan moisturizer untuk penggunaan sehari-hari dengan tekstur ringan. Tim R&D kemudian dapat mengevaluasi pilihan humektan, emolien, pengemulsi, pengawet, dan bahan pendukung yang sesuai dengan konsep tersebut.

Setelah itu, bahan perlu melewati pemeriksaan regulasi dan kelengkapan dokumen supplier. Tim formulasi mengembangkan sampel, sementara pengujian membantu mengevaluasi karakter serta mutu produk. Jika hasil memenuhi spesifikasi, perusahaan dapat melanjutkan persiapan proses produksi dan legalitas.

Untuk memahami tahapan tersebut secara lebih lengkap, pelajari Maklon Skincare Indonesia untuk Brand dan Startup. Bagi pemilik usaha yang ingin memulai dengan formula yang sudah tersedia atau dapat dikustomisasi, artikel Maklon Skincare Private Label juga dapat menjadi referensi.

FAQ tentang Bahan Baku Kosmetik

Apa saja bahan baku kosmetik yang umum digunakan untuk skincare?

Bahan baku skincare dapat mencakup humektan, emolien, surfaktan, pengemulsi, pengental, pengawet, dan bahan aktif kosmetik. Contohnya adalah glycerin, hyaluronic acid, niacinamide, dan squalane. Namun, penggunaannya perlu mengikuti fungsi bahan, karakter formula, serta ketentuan regulasi yang berlaku.

Bagaimana cara memastikan bahan baku kosmetik aman?

Periksa kesesuaian bahan dengan regulasi BPOM, dokumen supplier, spesifikasi mutu, serta kebutuhan formulasi. Selanjutnya, lakukan evaluasi dan pengujian produk sesuai risiko serta karakter skincare. Keamanan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan klaim supplier atau daftar kandungan populer.

Apakah bahan kosmetik alami selalu lebih aman daripada sintetis?

Tidak. Bahan alami maupun sintetis dapat menimbulkan risiko apabila kualitas, konsentrasi, atau penggunaannya tidak sesuai. Penilaian keamanan perlu mempertimbangkan identitas bahan, kemurnian, formula, serta paparan pengguna. Karena itu, pemilik brand sebaiknya tidak menggunakan istilah alami sebagai satu-satunya bukti keamanan.

Apa saja bahan kosmetik yang dilarang BPOM?

BPOM mengatur daftar bahan yang dilarang dan ketentuan bahan yang dibatasi dalam PerBPOM Nomor 25 Tahun 2025. Merkuri merupakan salah satu contoh bahan yang tidak boleh ditambahkan sebagai pemutih kosmetik. Untuk pemeriksaan lengkap, brand perlu menggunakan lampiran peraturan yang berlaku dan memeriksa identitas bahan secara tepat.

Apakah niacinamide dan hyaluronic acid aman untuk skincare?

Keduanya umum digunakan dalam formulasi kosmetik, tetapi keamanan produk akhir tetap bergantung pada kualitas bahan, konsentrasi, kombinasi formula, dan penggunaan yang ditujukan. Produk juga memerlukan evaluasi mutu serta stabilitas. Karena itu, penggunaan bahan perlu mendapat penilaian dari tim formulasi yang kompeten.

Apakah bahan baku kosmetik harus memiliki Certificate of Analysis?

CoA merupakan dokumen penting untuk membantu memverifikasi karakteristik dan mutu suatu batch bahan. Namun, persyaratan dokumentasi serta pengujian perlu mengikuti jenis bahan dan sistem mutu yang berlaku. CoA tidak menggantikan pemeriksaan penerimaan bahan maupun pengujian produk akhir.

Apakah EFBA Kosmetindo membantu memilih bahan untuk produk skincare?

EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan konsultasi konsep produk, pengembangan formula, dan pembuatan sampel bersama tim R&D. Pemilik brand dapat mendiskusikan kebutuhan bahan berdasarkan kategori, target pasar, serta karakter produk. Detail pengujian, sumber bahan, dan tanggung jawab teknis perlu disepakati sebelum proses pengembangan dimulai.

Kembangkan Skincare dengan Bahan yang Tepat Bersama EFBA Kosmetindo

Pemilihan bahan baku kosmetik merupakan bagian penting dalam membangun produk skincare yang aman dan berkualitas. Brand perlu mempertimbangkan regulasi BPOM, dokumen supplier, kompatibilitas formula, pengujian mutu, serta kesiapan proses manufaktur. Dengan pendekatan tersebut, pengembangan skincare tidak hanya mengikuti tren bahan aktif, tetapi juga mengutamakan kebutuhan konsumen dan kelayakan produk.

EFBA Kosmetindo menyediakan layanan konsultasi, pengembangan formula, sampel, serta pendampingan persiapan legalitas dan produksi. Pemilik brand dapat mendiskusikan kebutuhan produk dengan tim untuk menentukan tahapan pengembangan yang sesuai. Sementara itu, kebutuhan manufaktur dapat dibahas dengan perusahaan produksi berdasarkan fasilitas, spesifikasi, dan ruang lingkup kerja sama yang tersedia.

logo efba kosmetindo

Punya ide serum, moisturizer, facial wash, atau skincare dengan bahan aktif tertentu? Kunjungi EFBA Kosmetindo untuk mendiskusikan konsep produk dan proses maklon skincare Anda.

Produk skincare berkualitas dimulai dari pemilihan bahan yang tepat, formula yang dievaluasi, dan proses produksi yang memenuhi persyaratan mutu.