Kosmetik Mengandung Merkuri: Mengapa Bahan Ini Berbahaya dan Dilarang?

Kosmetik mengandung merkuri berbahaya karena paparan merkuri dapat menimbulkan iritasi, perubahan warna kulit, dan risiko kerusakan ginjal. Merkuri juga termasuk bahan yang dilarang dalam kosmetik di Indonesia. Pada 2026, BPOM masih menemukan kosmetik yang mengandung merkuri dalam pengawasan pasar. Temuan tersebut menunjukkan bahwa masalah keamanan kosmetik masih membutuhkan perhatian serius. POM – Pengawasan Kosmetik 2026
Bagi konsumen, temuan tersebut menjadi alasan untuk semakin teliti sebelum menggunakan skincare. Sementara itu, calon brand owner perlu melihat kasus merkuri sebagai pengingat untuk memeriksa formula, bahan baku, fasilitas produksi, legalitas, dan partner maklon. Harga maupun kecepatan produksi saja tidak cukup untuk menentukan keamanan sebuah produk.
Prinsip dasarnya:
Ingredient → Formula → Supplier → Production → Quality Control → BPOM → Product Safety → Consumer Trust
Karena itu, brand yang ingin bertahan dalam jangka panjang perlu menempatkan keamanan produk di atas klaim pemasaran.
Apa Itu Merkuri dalam Kosmetik?
Merkuri atau Hg (air raksa) merupakan logam berat. Dalam praktik ilegal, pelaku pernah menambahkan merkuri pada produk yang menawarkan efek pemutih atau pencerah kulit secara cepat. BPOM secara konsisten memasukkan merkuri sebagai bahan yang dilarang dalam kosmetik. POM – Pengawasan Peredaran Kosmetika
Namun, brand owner perlu membedakan merkuri yang sengaja ditambahkan ke dalam kosmetik dengan cemaran logam berat dalam jumlah sangat kecil. BPOM menjelaskan bahwa trace element logam berat dapat muncul sebagai cemaran yang sulit dihindari. Karena itu, regulator menetapkan batas cemaran tertentu dan membutuhkan metode laboratorium untuk mengujinya. POM – Deteksi Cemaran Logam Berat dalam Kosmetika
Selain itu, jangan menggunakan cara sederhana seperti menggosok kosmetik dengan cincin emas untuk mencari merkuri. BPOM menyatakan bahwa pengujian cemaran logam berat membutuhkan metode laboratorium seperti AAS atau ICP. POM – Deteksi Cemaran Logam Berat dalam Kosmetika
Mengapa Merkuri Dilarang dalam Kosmetik?
Alasan utamanya berkaitan dengan risiko kesehatan.
BPOM menjelaskan bahwa kosmetik yang mengandung merkuri dapat menyebabkan perubahan warna kulit berupa bintik-bintik hitam, reaksi alergi, iritasi kulit, sakit kepala, diare, muntah, hingga kerusakan ginjal. Pada temuan kosmetik berbahaya tahun 2026, BPOM kembali menegaskan risiko perubahan warna kulit, iritasi, dan kerusakan organ seperti ginjal akibat merkuri. POM – Temuan Kosmetik Berbahaya
Oleh sebab itu, efek kulit yang terlihat cepat tidak dapat menjadi ukuran keamanan sebuah kosmetik.
Bagi brand owner, gunakan prinsip berikut:
Fast Result ≠ Safe Product
Sebaliknya, prioritaskan:
Safe Formula → Regulatory Compliance → Controlled Production → Quality → Consumer Trust
Selain itu, brand perlu menyusun klaim produk berdasarkan formula dan bukti yang sesuai. Jangan meminta formulator memasukkan bahan berisiko hanya untuk mengejar efek yang dramatis.
5 Bahaya Kosmetik Mengandung Merkuri yang Perlu Dipahami
1. Dapat Menyebabkan Iritasi dan Reaksi Alergi
Kosmetik yang mengandung merkuri dapat menimbulkan reaksi pada kulit. BPOM mencantumkan iritasi dan reaksi alergi sebagai beberapa risiko yang dapat muncul akibat penggunaan kosmetik bermerkuri. POM – Temuan Kosmetik Berbahaya
Sayangnya, sebagian konsumen menganggap rasa panas, perih, atau perubahan kulit sebagai tanda bahwa produk sedang “bekerja”. Padahal, reaksi tersebut justru dapat menunjukkan masalah pada produk atau ketidakcocokan terhadap kulit.
Jika muncul reaksi yang mengkhawatirkan, hentikan penggunaan dan cari bantuan tenaga kesehatan yang sesuai.
2. Dapat Menimbulkan Perubahan Warna Kulit
Produk yang menawarkan efek pencerahan secara instan perlu mendapat perhatian lebih, terutama ketika produsen atau legalitasnya tidak jelas.
BPOM menjelaskan bahwa merkuri dapat menyebabkan perubahan warna kulit berupa bintik-bintik hitam. Dalam temuan BPOM pada 2026, merkuri kembali dikaitkan dengan perubahan warna kulit permanen dan iritasi. POM – Pengawasan Kosmetik 2026
Oleh karena itu, brand skincare sebaiknya menghindari klaim ekstrem yang dapat mendorong penggunaan bahan berbahaya.
Marketing Claim harus mengikuti Product Evidence — bukan sebaliknya.
3. Paparan Merkuri Dapat Berdampak pada Ginjal
Risiko merkuri tidak hanya berkaitan dengan tampilan kulit.
BPOM menyebut kerusakan ginjal sebagai salah satu risiko kesehatan dari merkuri dalam kosmetik. Fakta tersebut menunjukkan bahwa kosmetik bermerkuri merupakan persoalan keamanan kesehatan, bukan sekadar masalah kualitas skincare. POM – Temuan Kosmetik Berbahaya
Karena itu, pemilik brand perlu memasukkan keamanan formula sejak tahap awal pengembangan produk.
Product Idea → Ingredient Review → Formula → Sample → Evaluation → Legalitas → Production → QC
Jangan mengubah urutan tersebut hanya demi mengejar tren pasar.
4. Merkuri Tidak Bisa Dipastikan Hanya dari Tampilan Produk
Warna, aroma, tekstur, dan tampilan kemasan tidak dapat menunjukkan apakah sebuah produk mengandung merkuri.
BPOM secara khusus mengingatkan bahwa metode populer seperti menggosok produk dengan cincin emas tidak dapat menjadi metode valid untuk mendeteksi cemaran logam berat. Laboratorium perlu melakukan pengujian untuk menghasilkan identifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan. POM – Deteksi Cemaran Logam Berat dalam Kosmetika
Dengan demikian, konsumen sebaiknya tidak hanya mengandalkan ciri fisik produk.
Bagi brand owner, pengendalian harus mencakup:
Supplier Documentation → Ingredient Control → Formula → Production Control → Laboratory/Quality Evaluation → Legal Compliance
Melalui pendekatan tersebut, perusahaan dapat mengendalikan keamanan produk melalui dokumentasi dan proses, bukan sekadar memeriksa produk akhir.
5. Produk Bermasalah Dapat Menghancurkan Kepercayaan Brand
Bagi perusahaan kosmetik, risiko keamanan tidak berhenti pada produk.
Masalah keamanan dapat memengaruhi konsumen, legalitas, reputasi, distribusi, marketplace, dan keberlanjutan brand. Pada temuan Triwulan I 2026, BPOM mengambil tindakan berupa pencabutan izin edar serta penghentian sementara kegiatan, termasuk produksi, distribusi, dan impor terhadap produk terkait. POM – Temuan Kosmetik Berbahaya Triwulan I 2026
Dampaknya dapat mengikuti alur berikut:
Unsafe Product → Consumer Risk → Regulatory Action → Reputation Risk → Business Risk
Dengan demikian, keamanan formula juga menjadi bagian dari strategi bisnis.
Kosmetik Berbahaya Masih Ditemukan pada 2026
Kasus kosmetik yang mengandung bahan berbahaya masih terjadi pada 2026.
Dalam pengawasan rutin Triwulan I 2026, BPOM menemukan 11 kosmetik yang terbukti mengandung bahan berbahaya dan/atau bahan yang dilarang. Empat produk berasal dari kontrak produksi, dua produk merupakan produk lokal, dua lainnya merupakan produk impor, dan tiga produk tidak memiliki izin edar. POM – Temuan Kosmetik Berbahaya Triwulan I 2026
Hasil laboratorium menemukan antara lain asam retinoat, deksametason, hidrokuinon, merkuri, pewarna Merah K10, dan 1,4-dioksan. Setelah itu, BPOM mengambil tindakan, termasuk mencabut izin edar dan menghentikan sementara kegiatan terhadap produk terkait. POM – Temuan Kosmetik Berbahaya Triwulan I 2026
Pada Triwulan II 2026, BPOM kembali menemukan 14 kosmetik yang mengandung bahan berbahaya dan/atau bahan dilarang. Sebelas produk merupakan produk lokal yang dibuat melalui kontrak produksi, satu produk merupakan produk impor, dan dua produk tidak memiliki izin edar. BPOM juga melakukan pengujian laboratorium terhadap seluruh temuan tersebut. Balai Pengujian Khusus Obat dan Makanan – Peringatan Publik
Data tersebut memberikan pelajaran penting bagi brand owner:
Sistem Maklon ≠ Jaminan Keamanan Produk
Karena itu, brand tetap perlu memeriksa manufacturer, pengembangan formula, pengendalian bahan, standar fasilitas produksi, legalitas produk, dan sistem quality control.
Apa yang Harus Diperhatikan Brand Owner Sebelum Memilih Maklon?
Jangan memilih jasa maklon hanya karena perusahaan menawarkan harga termurah, MOQ rendah, atau janji produksi cepat.
Sebaliknya, evaluasi seluruh proses pengembangan:
Konsep Produk → Formula → Ingredient → Supplier → Sample → Legalitas → Production → Quality Control → Produk Siap Dipasarkan
Pertama, tanyakan pihak yang mengembangkan formula. Kemudian, pahami bahan yang digunakan, proses pembuatan sampel, fasilitas produksi, status legalitas, dan tahapan quality control.
Selain itu, pastikan fasilitas produksi memiliki standar yang sesuai untuk produksi kosmetik. Langkah tersebut semakin penting karena BPOM menemukan produk bermasalah pada skema kontrak produksi selama 2026. POM – Temuan Kosmetik Berbahaya Triwulan I 2026
Untuk pembahasan lebih lengkap, baca juga artikel EFBA Kosmetindo tentang [Bisnis Skincare: Legalitas dan Keamanan Harus Jadi Prioritas]. Artikel tersebut membahas hubungan antara keamanan formula, legalitas, produksi, dan kepercayaan konsumen. Bisnis Skincare: Legalitas dan Keamanan Harus Jadi Prioritas

Legalitas dan Quality Control Bukan Sekadar Administrasi
Brand baru sering kali memprioritaskan nama, logo, packaging, influencer, dan strategi launching. Namun, bisnis kosmetik perlu membangun fondasi produk jauh sebelum menjalankan aktivitas pemasaran.
Mulailah dari:
Formula → Safety → Quality → Legalitas → Production
Setelah fondasi tersebut siap, brand dapat mengembangkan tahap berikutnya:
Branding → Marketing → Distribution → Sales → Repeat Order
Prinsip tersebut juga EFBA Kosmetindo jelaskan dalam artikel Jasa Produksi Kosmetik: Aman, Legal & Berkualitas. Artikel tersebut membahas proses konsultasi produk, pengembangan formula, pembuatan sampel, legalitas, hingga persiapan produksi. Efbakosmetindo
Dengan pendekatan tersebut, brand owner dapat membahas aspek legalitas dan kualitas sejak tahap awal. Jadi, tim tidak perlu menunggu produk selesai sebelum memeriksa kebutuhan regulasi dan standar mutu.
Expertise EFBA Kosmetindo dalam Pengembangan Produk Kosmetik
EFBA Kosmetindo menyediakan layanan pengembangan kosmetik yang mencakup konsultasi, formulasi, sampel, legalitas, dan persiapan produksi. Selain itu, website resminya menjelaskan bahwa tim mengembangkan produk melalui proses konsultasi dan menggunakan sampel sebagai acuan sebelum menjalankan produksi. Efbakosmetindo
Menurut informasi yang EFBA Kosmetindo publikasikan, perusahaan mulai berpengalaman dalam industri maklon sejak 2020. Website tersebut juga mencantumkan 150+ brand yang telah mempercayakan pengembangan produk serta 450K+ produk yang telah diproduksi. Angka tersebut berasal dari publikasi perusahaan sendiri, sehingga pembaca sebaiknya menganggapnya sebagai informasi perusahaan dan bukan hasil audit independen. Efbakosmetindo
Selanjutnya, calon brand owner dapat mempelajari layanan Maklon Kosmetik EFBA Kosmetindo untuk melihat kategori produk dan dukungan pengembangan yang tersedia. Halaman tersebut juga menjelaskan peran tim dalam membantu proses pengembangan produk. Efbakosmetindo
Jika brand ingin mengembangkan produk perawatan kulit, calon client dapat melihat layanan Maklon Skincare EFBA Kosmetindo. Halaman tersebut menjelaskan layanan formulasi, produksi, perizinan, serta pendampingan pengembangan skincare. Efbakosmetindo
Dengan demikian, calon brand owner dapat menilai partner maklon berdasarkan proses yang mereka jalankan, bukan hanya berdasarkan harga atau materi promosi. Pendekatan ini juga membantu brand memahami tahapan pengembangan produk sebelum mengambil keputusan produksi.

Mengapa Hal Ini Penting untuk Calon Brand Owner?
Kasus kosmetik mengandung merkuri menunjukkan bahwa membangun brand kosmetik membutuhkan perhatian lebih dari sekadar tampilan produk.
Calon brand owner perlu memahami beberapa hal utama:
Formula → Bahan Baku → Manufacturer → Quality Control → Legalitas → Klaim Produk
Selain itu, brand owner perlu mengetahui siapa yang mengembangkan formula, dari mana bahan baku berasal, siapa yang memproduksi produk, bagaimana tim melakukan quality control, serta bagaimana perusahaan memastikan klaim produk sesuai dengan ketentuannya.
EFBA Kosmetindo menjalankan proses pengembangan produk secara terstruktur. Dalam ekosistem EFBA yang lebih luas, layanan Jasa Maklon Kosmetik EFBA mencakup pengembangan atau reformulasi produk, registrasi produk, kemasan, konsultasi bisnis, R&D, serta tahapan uji laboratorium. EFBA
Dengan alur tersebut, calon owner dapat mengubah ide produk menjadi rencana pengembangan yang lebih terarah.
Checklist Brand Owner untuk Mengurangi Risiko Produk Bermasalah
Sebelum bekerja sama dengan perusahaan maklon, brand owner perlu memeriksa beberapa aspek penting berikut:
Legal Company → Manufacturing Facility → CPKB → Ingredient → Supplier → Formula → R&D → Sample → BPOM → QC → Documentation → Production
Selain checklist tersebut, mintalah penjelasan mengenai formula, bahan baku, proses pengembangan, legalitas, perubahan bahan, quality control, serta pihak yang menangani produksi.
Jika sebuah perusahaan hanya menawarkan klaim seperti “cepat putih”, “hasil instan”, atau janji ekstrem lainnya tanpa menjelaskan formula, legalitas, dan dasar produknya, lakukan pemeriksaan lebih lanjut sebelum mengambil keputusan.
Dengan demikian, brand owner dapat menilai produk berdasarkan informasi dan proses yang jelas, bukan hanya berdasarkan materi pemasaran.
FAQ tentang Kosmetik Mengandung Merkuri
Apakah merkuri boleh digunakan dalam kosmetik?
Tidak. Merkuri termasuk bahan yang dilarang dalam kosmetik. PerBPOM Nomor 17 Tahun 2022 mengatur perubahan persyaratan teknis bahan kosmetika, dan BPOM terus menemukan serta menindak produk yang mengandung merkuri. JDIH Badan POM RI
Apa bahaya kosmetik mengandung merkuri?
Menurut BPOM, paparan merkuri dapat menimbulkan iritasi, reaksi alergi, perubahan warna kulit, sakit kepala, gangguan pencernaan, hingga kerusakan ginjal. Tingkat risikonya dapat berbeda sesuai tingkat paparan dan kondisi masing-masing pengguna. POM
Apakah krim yang cepat memutihkan pasti mengandung merkuri?
Tidak. Efek pemutihan yang cepat tidak cukup untuk membuktikan keberadaan merkuri. Pengujian yang valid tetap diperlukan untuk mengetahui kandungan merkuri, dan BPOM menjelaskan bahwa pemeriksaan logam berat memerlukan pengujian laboratorium. POM
Apakah merkuri bisa dideteksi dengan cincin emas?
Tidak. BPOM menyatakan bahwa metode menggosok kosmetik menggunakan cincin emas tidak dapat memastikan keberadaan cemaran logam berat. Untuk menganalisis logam berat, BPOM menyebut metode laboratorium seperti AAS atau ICP. POM
Apakah kosmetik BPOM pasti bebas dari masalah?
Notifikasi BPOM menjadi bagian penting dalam legalitas kosmetik. Namun, pengawasan tetap berlangsung setelah produk beredar. Karena itu, produsen dan brand owner perlu menjaga formula, proses produksi, mutu, serta kepatuhan produk secara berkelanjutan.
Bagaimana konsumen memilih kosmetik yang lebih aman?
BPOM menganjurkan prinsip Cek KLIK, yaitu Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa. Selain itu, konsumen sebaiknya menghindari produk dengan identitas produsen yang tidak jelas, legalitas yang meragukan, atau klaim ekstrem yang tidak masuk akal. Efbakosmetindo
Mengapa brand owner perlu berhati-hati memilih jasa maklon?
BPOM menemukan produk hasil kontrak produksi di antara kosmetik yang mengandung bahan berbahaya atau bahan yang dilarang dalam pengawasan 2026. Oleh sebab itu, brand owner tidak cukup hanya memilih jasa maklon. Mereka juga perlu memeriksa fasilitas, formula, legalitas, quality control, serta proses produksi. POM
Apakah EFBA Kosmetindo menyediakan jasa maklon skincare?
Ya. EFBA Kosmetindo mempublikasikan layanan maklon skincare yang mencakup pengembangan produk, formulasi, perizinan, dan produksi. Untuk mendapatkan detail yang sesuai, calon brand owner perlu mendiskusikan konsep produk, formula, dan kebutuhan pengembangan secara langsung. Efbakosmetindo

Bangun Brand Kosmetik dari Keamanan, Bukan Sekadar Tren
Kasus kosmetik mengandung merkuri menunjukkan bahwa produk yang memberikan hasil cepat belum tentu menjadi produk yang tepat untuk konsumen maupun bisnis.
Pada 2026, BPOM masih menemukan kosmetik dengan bahan berbahaya dan dilarang, termasuk merkuri. Temuan tersebut menjadi pengingat bagi brand owner untuk memperhatikan formula, bahan, supplier, legalitas, fasilitas produksi, dokumentasi, dan quality control sejak tahap pengembangan. POM
Gunakan prinsip:
Safe Ingredient → Responsible Formula → Controlled Production → Legal Compliance → Quality → Consumer Trust → Sustainable Brand
EFBA Kosmetindo membantu brand owner melalui proses konsultasi, pengembangan formula, sampel, legalitas, dan persiapan produksi. Jika Anda sedang merencanakan skincare atau kosmetik dengan merek sendiri, mulai dari konsep produk dan proses pengembangan yang jelas sebelum memutuskan produksi. Efbakosmetindo
Untuk pengembangan bisnis yang lebih luas, EFBA Kosmetindo merupakan bagian dari ekosistem PT EFBA Digital Mulia.
