Maraknya Kosmetik Ilegal: Mengapa Kepercayaan Konsumen Semakin Penting bagi Brand?

Industri kosmetik Indonesia berkembang cepat, terutama melalui marketplace, social commerce, dan media sosial. Namun, pertumbuhan tersebut juga membawa tantangan serius, terutama peredaran kosmetik ilegal dan produk yang tidak memenuhi ketentuan.

Pada Juli 2026, BPOM melaporkan lebih dari 2,1 juta pieces kosmetik tidak memenuhi ketentuan dengan nilai keekonomian sekitar Rp35,8 miliar dalam intensifikasi pengawasan kosmetik tahun 2026. Dalam pemeriksaan tersebut, petugas BPOM menemukan 2.205 item pada sarana yang tidak memenuhi ketentuan. Kosmetik ilegal mencapai 86,83% dari total temuan tersebut.

Pengawasan digital juga menunjukkan besarnya tantangan tersebut. BPOM mengawasi 9.617 tautan dan mencatat 9.042 tautan atau 94,02% tidak memenuhi ketentuan. Kosmetik tanpa izin edar mendominasi pelanggaran tersebut.

Bagi pemilik brand, kondisi ini memberikan satu pesan penting: kepercayaan konsumen kosmetik kini menjadi aset bisnis yang perlu brand bangun sejak tahap pengembangan produk, bukan setelah produk masuk pasar.

Mengapa Kepercayaan Konsumen Kosmetik Semakin Penting?

Konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga, packaging, influencer, atau klaim manfaat ketika membeli kosmetik.

Di tengah maraknya pemberitaan kosmetik ilegal, konsumen memiliki alasan lebih besar untuk mempertanyakan beberapa hal: Apakah produk memiliki legalitas yang jelas? Siapa produsennya? Apa kandungannya? Apakah klaimnya wajar? Bagaimana produsen menjaga kualitasnya?

Karena itu, kepercayaan konsumen kosmetik semakin berkaitan dengan kemampuan brand dalam menunjukkan legalitas, keamanan, mutu, transparansi informasi, dan konsistensi produk.

Bagi brand, trust bukan hanya persoalan komunikasi pemasaran.

Trust dimulai dari produk.

Bagaimana Brand Membangun Kepercayaan Konsumen?

Brand kosmetik dapat membangun kepercayaan konsumen melalui produk yang legal, proses produksi sesuai standar, informasi label yang jelas, formula sesuai ketentuan, klaim yang memiliki dasar, serta kualitas yang konsisten dari satu batch ke batch berikutnya.

Secara sederhana:

Legalitas → Keamanan → Kualitas → Transparansi → Konsistensi → Kepercayaan → Loyalitas

Artinya, brand tidak cukup hanya terlihat profesional. Tim di balik brand juga perlu mengembangkan produknya secara profesional.

1. Legalitas Menjadi Fondasi Kepercayaan

Ketika konsumen semakin mudah menemukan kosmetik ilegal secara online, mereka membutuhkan cara untuk membedakan produk legal dari produk yang tidak jelas asal-usulnya.

BPOM mengingatkan masyarakat untuk menggunakan prinsip Cek KLIK: Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa sebelum membeli atau menggunakan produk.

Bagi brand, legalitas bukan sekadar pekerjaan administratif.

Legalitas merupakan bagian dari trust signal.

EFBA Kosmetindo juga memasukkan pengurusan legalitas ke dalam proses pengembangan produk maklon. Tim menangani tahapan formulasi dan pengujian serta mendampingi proses menuju nomor notifikasi resmi BPOM.

2. Konsumen Semakin Kritis terhadap Keamanan Produk

BPOM tidak hanya menemukan produk tanpa izin edar.

Pada pengawasan rutin triwulan II 2026, BPOM menemukan 14 kosmetik yang mengandung bahan berbahaya atau bahan terlarang. Hasil pengujian menunjukkan kandungan seperti merkuri, asam retinoat, hidrokuinon, klobetasol propionat, mometason furoat, dan pewarna Merah K10.

Pada triwulan I 2026, pengujian laboratorium BPOM juga mengidentifikasi 11 kosmetik yang mengandung bahan berbahaya dan/atau terlarang.

Data tersebut memperlihatkan mengapa keamanan produk menjadi bagian penting dari reputasi brand.

Produk kosmetik berhubungan langsung dengan kulit dan tubuh konsumen. Karena itu, brand perlu mempertimbangkan keamanan formula, bahan baku, proses produksi, quality control, dan legalitas. Brand sebaiknya tidak hanya mengejar kecepatan launching atau harga produksi yang rendah.

3. Viral Tidak Sama dengan Terpercaya

Social commerce memungkinkan sebuah produk memperoleh perhatian dalam waktu singkat.

Namun, tingginya exposure tidak otomatis menunjukkan keamanan atau kepatuhan produk terhadap ketentuan.

Dalam konferensi pers Juli 2026, BPOM menyebut kategori perawatan, kecantikan, dan skincare mencatat pendapatan Rp35,61 triliun di TikTok Shop dengan pertumbuhan 79,73%. Besarnya pasar digital tersebut juga membuka ruang bagi pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menawarkan produk ilegal.

Karena itu, brand sebaiknya tidak hanya mengejar:

Viral → Traffic → Sales

Strategi yang lebih berkelanjutan adalah:

Awareness → Trust → Trial → Satisfaction → Repeat Order → Loyalty

Dalam jangka panjang, pengalaman konsumen terhadap produk akan membentuk reputasi brand, bukan sekadar jumlah views.

4. Transparansi Produk Menjadi Bagian dari Branding

Brand yang ingin memperoleh kepercayaan perlu membantu konsumen memahami produk yang mereka gunakan.

Brand perlu mencantumkan informasi mengenai komposisi, fungsi produk, cara penggunaan, peringatan, produsen, nomor notifikasi, dan masa kedaluwarsa sesuai ketentuan.

Selain itu, brand sebaiknya menghindari klaim berlebihan hanya untuk meningkatkan conversion.

BPOM secara khusus mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur oleh klaim kosmetik yang berlebihan maupun harga yang tidak wajar.

Dengan demikian, transparansi bukan kelemahan marketing.

Sebaliknya, brand dapat menjadikan transparansi sebagai bagian dari positioning:

Clear Information → Lower Uncertainty → Higher Trust

5. Kepercayaan Dimulai dari Pemilihan Mitra Produksi

Pemilik brand sering berfokus pada nama produk, packaging, influencer, marketplace, dan strategi launching.

Namun, sebelum semua itu, pemilik brand perlu menjawab pertanyaan yang jauh lebih fundamental:

“Siapa yang akan memproduksi produk tersebut?”

Mitra maklon memegang peran dalam berbagai aspek penting, mulai dari pengembangan formula, pemilihan bahan, proses produksi, quality control, hingga legalitas.

Karena itu, pemilik brand sebaiknya tidak memilih jasa maklon kosmetik EFBA Kosmetindo hanya berdasarkan harga produksi.

EFBA Kosmetindo mempublikasikan informasi mengenai fasilitas produksi berstandar CPKB serta layanan pengembangan formula, produksi, perizinan, dan pendampingan hingga produk siap masuk pasar. Situs EFBA Kosmetindo juga mencatat pengalaman bersama lebih dari 150 brand client dan produksi lebih dari 450 ribu pieces produk.

Informasi tersebut dapat memperkuat unsur E-E-A-T website karena menunjukkan pengalaman aktual dalam pengembangan dan produksi kosmetik.

Mengapa Brand Harus Lebih Serius Membangun Trust?

Data BPOM 2026 memberikan gambaran yang cukup jelas.

Dalam intensifikasi pengawasan pada 11–22 Mei 2026, BPOM memeriksa 190 sarana. Petugas menemukan 128 sarana tidak memenuhi ketentuan serta 2.205 item kosmetik. Kosmetik ilegal menjadi kategori terbesar dalam temuan tersebut.

Sementara itu, melalui pengawasan online, BPOM mencatat 9.042 tautan yang tidak memenuhi ketentuan dengan estimasi nilai keekonomian mencapai Rp260,7 miliar. Kosmetik ilegal mencapai 95,24% dari pelanggaran online tersebut.

Pada kasus terpisah pada Juni 2026, BPOM menemukan 2.082.039 pieces kosmetik impor ilegal atau tanpa izin edar di sebuah gudang di Tangerang dengan estimasi nilai sekitar Rp27,6 miliar. Menurut BPOM, pelaku memasarkan produk tersebut secara luas melalui e-commerce.

Angka-angka tersebut tidak berarti seluruh produk kosmetik yang beredar secara online bermasalah.

Namun, data tersebut menunjukkan bahwa konsumen dan brand memiliki alasan kuat untuk semakin memperhatikan legalitas, keamanan, asal produk, dan transparansi informasi.

Dua Brand dengan Strategi yang Berbeda

Bayangkan dua brand skincare memasuki pasar dengan produk serum.

Brand A berfokus pada packaging menarik, harga murah, endorsement, dan klaim hasil yang sangat cepat. Brand tersebut kurang mengomunikasikan informasi mengenai produsen dan legalitas produk.

Sementara itu, Brand B menggunakan proses formulasi yang terstruktur. Timnya memastikan kesesuaian bahan dengan regulasi, mengurus notifikasi produk, mencantumkan informasi label secara jelas, menjaga kualitas produksi, dan memberikan edukasi mengenai produknya kepada konsumen.

Dalam jangka pendek, kedua brand mungkin sama-sama memperoleh penjualan.

Namun, untuk membangun hubungan jangka panjang, Brand B memiliki lebih banyak fondasi untuk membentuk:

Trust → Repeat Purchase → Recommendation → Brand Loyalty

Inilah alasan kepercayaan konsumen kosmetik seharusnya menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar persoalan reputasi.

Dari Konsep hingga Produk Siap Masuk Pasar

EFBA Kosmetindo menyediakan layanan pengembangan dan produksi untuk berbagai kategori kosmetik dan personal care.

Layanan maklon EFBA Kosmetindo mencakup berbagai produk seperti facial wash, BB cream, body lotion, body scrub, body serum, body wash, conditioner, day cream, foundation, hair serum, lip tint, moisturizer, night cream, shampoo, serum, toner, dan sabun.

Untuk brand yang secara khusus ingin mengembangkan skincare, EFBA Kosmetindo juga menyediakan layanan maklon skincare yang mencakup pendampingan pengembangan produk hingga proses produksi. EFBA Kosmetindo menyatakan telah menjalankan aktivitas pengembangan dan produksi kosmetik sejak 2020.

Dalam proses pengembangan produk, pemilik brand sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan:

“Produk apa yang sedang viral?”

Pertanyaan yang lebih strategis adalah bagaimana brand mengubah konsep menjadi produk yang legal, aman, berkualitas, dan relevan bagi target konsumennya.

Gunakan alur berikut:

Target Market → Product Concept → Formula → Testing → Legalitas → Production → Quality Control → Launching

Dengan pendekatan tersebut, brand dapat menciptakan produk yang tidak hanya menarik ketika masuk pasar, tetapi juga memiliki fondasi kuat untuk menjaga kepercayaan konsumen kosmetik dalam jangka panjang.

logo efba kosmetindo

Hubungan EFBA Kosmetindo dengan Ekosistem EFBA

EFBA Kosmetindo berada dalam ekosistem bisnis EFBA yang memiliki pengalaman lebih luas dalam pengelolaan dan pengembangan usaha.

Situs utama EFBA Digital Mulia menjelaskan bahwa perjalanan bisnisnya berakar dari pengalaman usaha sejak periode krisis 1998 dan mulai membangun usaha yang lebih mapan sejak 2013.

EFBA juga menyebut tim teknisnya memiliki pengalaman bisnis antara 9 hingga lebih dari 17 tahun dengan latar belakang profesi yang beragam.

Hubungan ini relevan bagi brand kosmetik karena keberhasilan produk tidak hanya ditentukan oleh produksi.

Brand juga harus memikirkan:

Product → Legalitas → Branding → Marketing → Distribution → Customer Experience → Business Growth

Dengan demikian, produksi dan strategi bisnis dapat dipahami sebagai bagian dari satu ekosistem pengembangan brand.

kepercayaan konsumen kosmetik

Bangun Topical Authority EFBA Kosmetindo

Untuk memperkuat hubungan antarhalaman, arahkan pembaca yang ingin memulai produksi ke Maklon Kosmetik EFBA Kosmetindo. Halaman tersebut menjelaskan layanan produksi dan berbagai kategori produk yang dapat dikembangkan.

Brand yang berfokus pada skincare dapat melanjutkan ke Jasa Maklon Skincare untuk memahami layanan pengembangan produk skincare.

Untuk memperkuat pembahasan legalitas, gunakan artikel Maklon Kosmetik: 7 Proses Registrasi Legalitas hingga Nomor Notifikasi Resmi. Artikel tersebut membahas formulasi, pengujian, dokumen legal, hingga proses notifikasi produk.

Sebagai external link yang membangun hubungan antarsitus dalam ekosistem perusahaan, arahkan pembaca ke EFBA Digital Mulia untuk mengetahui pengalaman dan layanan bisnis EFBA secara lebih luas.

FAQ 

Mengapa kepercayaan konsumen kosmetik penting?

Kepercayaan konsumen kosmetik penting karena produk digunakan langsung pada tubuh. Konsumen membutuhkan keyakinan terhadap legalitas, keamanan, mutu, komposisi, informasi produk, dan konsistensi kualitas sebelum melakukan pembelian maupun repeat order.

Bagaimana cara mengecek kosmetik sebelum membeli?

BPOM menyarankan prinsip Cek KLIK, yaitu memeriksa Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa.

Apa risiko menggunakan kosmetik ilegal?

BPOM menjelaskan kosmetik ilegal tidak dapat dipastikan keamanan, manfaat, dan mutunya. Risiko menjadi lebih tinggi apabila produk mengandung bahan berbahaya atau bahan yang dilarang.

Apakah produk viral pasti aman?

Tidak. Popularitas di media sosial bukan bukti legalitas atau keamanan. Konsumen tetap perlu memeriksa informasi produk dan izin edarnya.

Apakah brand baru perlu mengurus BPOM?

Kosmetik yang akan diedarkan di Indonesia harus memenuhi ketentuan regulasi yang berlaku. Karena itu, aspek notifikasi dan legalitas perlu direncanakan sejak tahap pengembangan produk.

Apa fungsi perusahaan maklon kosmetik?

Perusahaan maklon membantu brand menjalankan proses pengembangan dan produksi melalui pihak ketiga. Cakupannya dapat meliputi formulasi, pengujian, produksi, quality control, packaging, serta dukungan pengurusan legalitas sesuai layanan masing-masing perusahaan.

Bagaimana maklon membantu meningkatkan kepercayaan konsumen?

Maklon yang menjalankan proses produksi sesuai standar dapat membantu brand membangun fondasi produk melalui formula yang sesuai ketentuan, proses produksi terkontrol, konsistensi kualitas, dokumentasi, dan legalitas.

Bangun Brand yang Bukan Hanya Menarik, tetapi Dipercaya

Maraknya kosmetik ilegal membuat persaingan industri kecantikan memasuki tahap baru.

Brand tidak cukup hanya memiliki packaging menarik, harga kompetitif, konten viral, atau endorsement besar.

Konsumen membutuhkan alasan untuk percaya.

Karena itu, kepercayaan konsumen kosmetik harus dibangun sejak tahap pertama pengembangan produk melalui formula, bahan, proses produksi, quality control, legalitas, transparansi informasi, dan komunikasi yang bertanggung jawab.

EFBA Kosmetindo mendampingi pengembangan berbagai kategori skincare, body care, hair care, personal care, dan kosmetik dekoratif, mulai dari konsep hingga proses produksi dan persiapan produk untuk dipasarkan.

Konsultasikan Produk dengan EFBA Kosmetindo

Jangan hanya membangun produk yang mudah terjual. Bangun produk yang memiliki alasan kuat untuk dipercaya konsumen.